Kamis, 12 Juli 2012

ASSORTMENT PLANNING





Ya memang dunia retail berkembang sangat dinamis, kadangkala pesaing bisa menjadi mitra di suatu saat, atau bahkan sebaliknya. Prinsipnya, pesaing jangan dimusnahkan, biarkan mereka hidup tapi hidup menderita hehehehehehehe….. karena tanpa pesaing, mustahil peritel bisa meng-klaim bahwa harga mereka termurah, product assortment mereka terlengkap, dll………..
Carrefour Express adalah untuk luas selling space <5000 m2 (maaf, kemarin saya tulis 500m2), jadi mungkin gak akan terlalu head-to-head dengan alfamart/indomaret/dll, Carrefour express sptnya akan berhadapan dengan “Giant” supermarket (bukan yg format hypermarketnya), Hero, dan sejenisnya……. Di Jakarta belum ada “Carrefour Express” (as far as I know), dan sesuai dengan komitment awal, Carrefour hanya mengakuisisi “Alfa Gudang Rabat” sedangkan “Alfamart” sih masih berpola seperti yang lama……..
Setau saya, “Makro Office” baru saja diluncurkan di area Makro Kelapa Gading (store #3), areanya terpisah dari toko utama, ada di depan toko utama / area parkir, isinya memang hanya furniture aja yang mayoritas produksi PT. Cahaya Sakti Multi Intraco (“Olympic” brand), mungkin itu yang dimaksud Bp. Dicky mengenai “Makro Office”? Correct me if I’m wrong J

Menurut saya, Carrefour merupakan peritel yang menerapkan assortment planning dengan konsep “Wide & Deep” dan strategi harganya “Everyday Low Price”….. Jangan pesimis dulu pak Ato, tidak selamanya peritel yang berada di hypermarket (misalnya: Carrefour) akan bangkrut……. Yang terpenting, prinsip ritel tradisional yang sering diterapkan oleh toko-toko kecil/warung milik pribadi harus dihadapi dengan prinsip ritel modern……. Tidak semuanya produk Carrefour lebih murah daripada toko/minimarket, dari 80.000 lebih jenis produk di Carrefour, saya rasa hanya 1% produk yang menerapkan harga kompetitif (khususnya untuk produk2 yang ‘price sensitif’), jadi mereka mengambil keuntungan lebih dari produk2 ownbrand/private label mereka, missal: Bluesky, Firstline, “1”, dll……….. namun memang Carrefour terkesan murah karena memang mereka menerapkan prinsip “EDLP” (=Everyday Low Price), setiap periode mereka menset harga termurah di pasaran untuk bbrp jenis produk secara bergiliran (bukan seluruh produknya, kecuali bila ada program yang bekerjasama dengan penerbit kartu kredit)……………
Banyak cara untuk menghadapi persaingan dengan peritel besar seperti Carrefour, terapkanlah prinsip “Wide & Shallow” atau “Narrow & Deep” untuk keragaman produk di toko2 kecil agar dapat melakukan ‘mix margin’……. Supaya terlihat menarik terapkan juga strategi harga “High-Low Pricing” atau “Combination Pricing”…… salah satu kelemahan peritel tradisional adalah seringkali menerapkan strategi “Market Pricing” pada seluruh produknya, jika modalnya Rp 10.000 maka sampai kiamat pun tuh produk tidak mungkin dijual < Rp 10.000 padahal bbrp supplier memberikan rebate untuk kuota pembelian tertentu……… Carrefour mengklasifikasikan produknya menjadi 2 jenis: “Profit Builder” (melalui barang2 ownbrand/non-price sensitive) dan “Volume Builder” (melalui penjualan barang2 “consumable products”) sehingga tentunya dengan kombinasi strategi spt itu mereka akan mendapatkan laba optimal……….

Dalam assortment planning (perencanaan keragaman produk), ada 4 jenis:

1. WIDE (Lebar) & DEEP (Dalam)
à Produk disediakan dalam semua kategori produk, setiap kategori produk tersedia dalam ukuran/merk/warna/price point secara lengkap
Keuntungan:
• Pasarnya luas
• Produk sangat beragam
• Tingkat kunjungan konsumen tinggi
• One-Stop Shopping
• Konsumen Puas
Kerugian:
• Persediaan tinggi
• Produknya pasaran
• Perputaran barang rendah
• Banyak barang tidak laku
Contoh: Wal-Mart, Carrefour, Giant, Gramedia


2. WIDE (Lebar) & SHALLOW (Dangkal)
à Produk disediakan dalam semua kategori produk, namun setiap kategori produk tersedia hanya dalam ukuran/merk/warna/price point tertentu
Keuntungan:
• Pasarnya luas
• Suasana Toko nyaman
• Tingkat kunjungan konsumen tinggi
• One-Stop Shopping
• Biaya operasional rendah
Kerugian:
• Produk tidak beragam
• Kesan toko rendah
• Perputaran barang rendah
• Banyak barang tidak laku
Contoh: Valu$, Matahari, Ramayana, Sogo, Seibu


3. NARROW (Sempit) & DEEP (Dalam)
à Produk disediakan dalam kategori produk tertentu saja, setiap kategori produk tersedia dalam ukuran/merk/warna/price point secara lengkap
Keuntungan:
• Kesan toko sangat tinggi
• Layanan pribadi
• Konsumen loyal/setia
• Produknya eksklusif
Kerugian:
• Tingkat kunjungan konsumen rendah
• Dipengaruhi oleh musim
Contoh:
• Sogo, Electronic City, Ace Hardware, RodaLink, Makro, PaperClip


4. NARROW (Sempit) & SHALLOW (Dangkal)
à Produk disediakan dalam kategori produk tertentu saja dan setiap kategori produk tersedia dalam ukuran/merk/warna/price point tertentu
Keuntungan:
• Suasanan toko nyaman
• Biaya operasional rendah
• Perputaran barang cepat
Kerugian:
• Kesan toko rendah
• Tingkat kunjungan konsumen rendah
• Ukuran toko kecil
Contoh:
• Giordano, M2000, U2
Sedangkan untuk pricing strategy, ada 7 macam, yaitu:
• Competitive / Market Pricing (Market Level), contoh: Pasar Induk
• High-Low Pricing (Promotional Item), contoh: Ramayana Dept. Store
• Sales Oriented / Volume Pricing (Warehouse Store), contoh: Makro
• Everyday Low Price (Lower Cost), contoh: Carrefour, Hypermart, Giant
• Demand / Premium / Added Value Pricing (Customer Perceive), contoh: Sogo, Seibu
• Cost Plus / Margin Pricing (Cost + Profit Margin), contoh: Pasar Tradisional/warung
• Combination Pricing (Market Pricing - High-Low Pricing), contoh: Matahari Dept. Store


Informasi tsb di atas saya kumpulkan dari bbrp jurnal/textbook/majalah dan pengamatan actual terhadap kondisi ritel di Indonesia, correct me if I’m wrong…. J
Salam Retail!
Elkana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar