Jumat, 08 September 2017

Daya beli menurun pada Lebaran 2017 (Aprindo)

Senin, 26 Juni 2017 | 20:48 WIB

https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/06/26/090887425/apindo-lebaran-2017-daya-beli-warga-melemah-penjualan-menurun

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat pada Lebaran tahun ini. Penjualan berbagai produk, kata dia, jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Ukurannya memang pada saat hari raya Idul Fitri. Hampir semua pengusaha mengeluh ada penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun lalu," kata Hariyadi di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin, 26 Juni 2017.
Hariyadi mencontohkan, untuk produk batik, pengusaha menyatakan bahwa penjualan mengalami penurunan hingga 20 persen dibandingkan tahun lalu. "Mereka mengeluhkan, ini baru pertama kalinya drop sekali," ujarnya.
Turunnya daya beli, menurut Hariyadi, terjadi karena menyusutnya tenaga kerja formal. Menurut data Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, kata Hariyadi, surplus antara peserta yang masuk dan yang keluar kecil, di bawah 20 ribu per April 2017.
"Kalau jumlah angkatan kerja baru adalah dua juta orang lebih, berarti kecil sekali penyerapannya. Ini harus diperhatikan pemerintah. Kalau terjadi penyusutan jumlah pekerja formal, otomatis daya beli terpengaruh karena relatif yang punya daya beli besar adalah pekerja formal," ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berujar perkembangan ritel memang kemungkinan tidak setinggi beberapa waktu terakhir. "Tapi transformasi di sektor ritel ini sangat cepat sehingga pasti ada yang mulai melambat dan ada yang cepat."

Menurut Darmin, apabila ekspor pulih, terutama ekspor hasil perkebunan, konsumsi masyarakat juga ikut pulih. "Memang 2011-2014 berat. Dampaknya masih ada. Tapi di pihak lain ekspor mulai hidup," ujar mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Selasa, 16 Mei 2017

Kita Mart

KITA MART,
Pelopor Mini market Berbasis Komunitas


“Mengapa Ummat HARUS Memilih KITA MART, bukan yang lain ?”

Pertanyaan tersebut kerap muncul setiap kali Saya diundang untuk mensosialisasikan KITA MART maupun saat memberikan ceramah dan kuliah umum baik di masjid, kampus, maupun perusahaan.

Setelah bergelut lebih 4 bulan sejak Januari 2017 bersama dengan tim di MTW membidani kelahiran KITA MART, konsultasi panjang kepada banyak ahli seperti pemilik sekaligus pendiri Wardah Cosmetic Ibu Nurhayati Subakat dan Pak Subakat, Pakar Branding Pak Bi dan Pakar Komunikasi Media Pak Ndang Sutisna, beberapa pemilik DC (Distribution Center) dan Konsultan Retail ternama, akhirnya KITA MART pertama lahir di wilayah Jati Asih, Bekasi, pada tanggal 29 Maret 2017 yang kemudian diikuti oleh  KITA MART Bojong Kulur yang didirikan dan dimiliki hampir 600 orang dan direalisasikan dalam waktu hanya 10 hari sejak pertemuan yang diwakili pendiri lebih dari 70 Badan Kontak Masjid dan Musholla.

Ketika berpikir bisnis tentu saja kita tidak bisa hanya mengandalkan emosi sesaat. Bisnis memiliki pakem dan aturan yang sudah baku (business as usual) dan memiliki Faktor Kunci Sukses (KSF) di industrinya masing-masing untuk menang dalam persaingan.

Ketika KITA MART memutuskan masuk ke industri retail (Mini Market) kita langsung berhadapan dengan dua raksasa,”Si Merah dan Si Biru” yang telah menguasai pasar dan jumlahnya lebih 37.000 outlet dengan seperangkat teknologi, dana trilyunan serta pengusaan industri dari hulu ke hilir. Bagaimana KITA MART bisa menang bersaing? Atau katakanlah bisa hadir dan tetap bertahan serta sustain di tengah masyarakat.

Keadaan ini memaksa Saya untuk berfikir keras memecahkan masalah ini. ALHAMDULILLAH dengan izin Allah, Saya menemukan beberapa Strategi Bersaing (Competitive Advantage) yang merupakan Value Creation dari KITA MART.

Satu hal yang menjadi kekuatan kita adalah Ummat. Ummat yang besar sebagai kekuatan purchasing power parity (kekuatan daya beli) itu yang harus kita jaga. Terbukti ketika ummat serentak teriak”Boikot SARI ROTI !”, maka Sari Rotipun limbung. Masalahnya Kita tidak memiliki solusi alternatif sebagai pengganti Sari Roti. Padahal apabila saat itu ummat memilik substisusi pengganti Sari Roti, maka bisa dipastikan merek roti milik ummat akan tumbuh besar.

Meskipun begitu Ummat tidak boleh terus-menerus menjadi objek ekonomi, target produsen yang hanya memperkaya segelintir orang saja dan agar kekayaan tidak beredar hanya dikalangan orang tertentu, untuk itu Ummat perlu dilibatkan tidak hanya sebagai konsumen tapi juga produsen, bahkan sekaligus PEMILIK. Untuk itulah KITA MART hadir di tengah ummat. Dan itulah inti dari SHARING ECONOMY yg menjadi inti dari ekonomi syariah.

Berikut 10 Value Proposition KITA MART yang membedakannya dengan mini market lainnya:

1.100 halal – Tidak menjual barang yang syubhat apalagi haram seperti rokok, kontrasepsi

2.Low entry barier – Biaya pembukaan gerai yang murah, hanya dengan Rp.175 juta ummat sudah bisa memiliki KITA MART bahkan bisa patungan secara berjama’ah

3.Bebas Franchise Fee & Royalti Fee – Tidak dikenakan biaya franchise dan royalti fee selama-lamanya

4.Organic Business – Tetap  dilakukan survey dan harus sesuai dengan kriteria pembukaan gerai, tidak semata punya uang dan tempat

5.Community Base – Dimiliki oleh komunitas atau jama’ah berjumlah belasan, puluhan, bahkan ratusan yang WAJIB menjadi pembeli bulanan

6.Ulama Sebagai Endorsers – Menjadikan ulama dan tokoh masyarakat sembagai endorser atau juru bicara agar ummat berlanja di KITA MART (Target Kami akan bekerjasama dengan 1000 ulama dan ustadz se-Indonesia). Dan sebagai konsekwensinya, tentu saja KEUNTUNGAN dari KITA MART harus dirasakan dan didistribusikan bagi dhuafa di sekitar outlet juga dirasakan oleh para ulama dan ustadz sebagai Kafalah Du’at.

7.Dari, Oleh & Untuk UMMAT – Terdapat pojok UMKM dimana ummat dan jama’ah sebagai pemilik KITA MART dapat menjadi supplier ke KITA MART, serta tidak mematikan warung kecil bahkan menjadikan KITA MART sebagai distributor ke warung kecil.

8.Transparansi  & Profit Sharing Mingguan – Menggunakan application teknologi memungkinkan pemilik (individu maupun jama’ah) dapat mengetahui secara real time penjualan saat itu juga, profit retail saat itu juga dan bagi hasil yang diperoleh saat itu juga. Bagi hasil dapat dibagikan tiap minggu atau tiap bulan dan HARUS di Masjid yang didahului dengan Majelis Ta’lim, Laporan Keuangan KITA MART, baru pembagian keuntungan usaha.

9.Islamic Value – Karyawan berpenampilan dan berperilaku Islami, retail tutup 5 menit menjelang adzan

10.Multiple Source of Income– di KITA MART investor tidak saja memperoleh penghasilan dari penjualan barang kebutuhan sehari-hari yang dijual di KITA MART, tapi Kami telah mendesain beragam penghasilan yang akan diperoleh investor dari toko KITA MART. Dengan demikian sustainability (keberlangsungan) dan keuntungan (profitability) dari investor terjamin.


Ust.Valentino Dinsi, MM, MBA


  1. Pimpinan MTW (Majelis Ta’lim Wirausaha)
  2. Founder KITA MART – Pelopor Minimarket Berbasis Komunitas
  3. Ketua Umum JPMI, Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia
  4. Dewan Pakar DPP ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
  5. Chairman IMBC, International Muslim Business Connection
  6. Dapat dihubungi di 0815 1414 4583
  7. Untuk membuka KITA MART hubungi CEO KITA MART Bpk.Sujana di 0812 3044 611




Silahkan SHARE bila dirasa ini bermanfaat. Dukung dan sebarkan kebaikan ini ke semua saudara-saudara dan sahabat Anda, ajaklah mereka berpartisipasi dalam kebaikan. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa


Sumber: www.mtw.or.id/mengapa-ummat-harus-memilih-kita-mart-bukan-yang-lain/

Pembukaa Gerai 411Mart

Pembukaa Gerai 411Mart

"Saat ini Ummat Islam Bukan cuma kumpulan saja, Ummat telah Menjadi Barisan..dan Barisan inilah yang telah menjadi Kekuatan"
(UBN, Masjid Istiqlal, 5 Mei 2017)

Kekuatan Baru dalam Wadah Bisnis Ekonomi Ummat ini telah hadir Dalam wadah 411mart , muslimart yang telah buka dari 212 (21 Februari 2017) yang kini telah memiliki 3 Gerai : Serpong Park, Pamulang, dan Jelupang

Wujud nyata perjuangan UMMAT untuk mandiri dalam melayani UMMAT dengan konsep Ritel Modern yang terus berkembang dan tumbuh ini, kini Siap UNTUK MEMBUKA GERAI KE 4,
Mengajak Saudara2 Untuk Bergabung bersama kami:  JBB Group, sebuah Perusahaan (PT) yang eksis dengan pengalamanan dalam Grocery & Retail Business

Ayoo , telah terbukti kehadiran 411mart,
Dan kini saatnya Ummat bergabung , dengan 411mart Gerai ke4.

Sekarang saatnya:
Kalau bukan KITA siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, KAPAN LAGI?

GABUNG SEGERA KARENA HANYA 5 HARI KAMI MEMBUKA KESEMPATAN INVESTASI DALAM PEMBUKAAN 411MART KE 4 INI:

ADD LINK INI
https://chat.whatsapp.com/HyFPDIZ42rvL0TXVi2AwlI


Lokasi 411 Mart Pamulang

https://goo.gl/maps/SKTR51T8mPK2Bergabung ke gr

Training Retail Modern

Seminar  Cara Cerdas Berbisnis Toko Modern

Bagi Anda yang ingin membuka atau mengembangkan bisnis retail (toko), apapun jenisnya, seminar berikut sangat layak Anda hadiri.

Pembicara :
Mr. ISWARIN RETAILMAN : Pengusaha Toko Modern dari Batam, Konsultan Toko Modern Nasional, Berpengalaman lebih dari 20 tahun, Mantan GM Minimarket Modern terbesar di Indonesia.

TEMPAT ACARA :
Hotel Maharaja, Jl Kapten Piere Tendean no 01 Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
Sabtu, 13 Mei 2017
Jam 13.00-17.00 WIB
*Kelas Lanjutan, Minggu  14 Mei 2017

BIAYA
Untuk Umum : Rp. 150.000,-
Mendaftar berdua : Rp. 250.000,-
Pembayaran pada hari H : Rp. 200.000,-

Cara daftar :
Transfer biaya pendaftaran ke BCA no 0111-835-518 an. AL ARIF,  Konfirmasikan pembayaran SMS/WA ke0812 9349 7478

JANGAN LEWATKAN PELUANG BISNIS INI....

INFO PENDAFTARAN MAKSINDO ACADEMY :
Toko Maksindo pusat jl. raya cakung cilincing km. 2 komplek pergudangan green sedayu biz park gs1 no. 2 telp. 021 - 29832085 hp/wa: 0812 9349 7478 pin bb : 587592f3

INFO LENGKAP
Hub Ibu Ria : 0812 9349 7478 / Bpk. Sofyan : 0813 8250 8926

Rabu, 24 Februari 2016

Pengusaha Retail: Kami Tak Ambil Untung dari Plastik Berbayar

http://bisnis.liputan6.com/read/2444341/pengusaha-retail-kami-tak-ambil-untung-dari-plastik-berbayar
on 24 Feb 2016 at 18:30 WIB
Beberapa alasan berikut ini dapat membuat kamu sadar bahwa diet kantong plastik memang harus segera dilakukan.

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan pengusaha retail modern tidak mengambil untung dari kantong plastik berbayar. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan tidak khawatir soal harga yang ditetapkan untuk setiap lembar kantong plastik.
Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, pengusaha retail telah memiliki perhitungan soal besaran harga kantong plastik yang harus dibayar oleh masyarakat saat berbelanja di toko retail modern. Harga per lembar kantong plastik dibanderol Rp 200 sesuai dengan harga yang dibeli retail modern dari produsen kantong plastik.
"Kami tidak ambil untung dari sini. Kami menjual barang biasa, sedangkan kantong plastik ini hanya numpang beli. Kami ambil keuntungan dari barang dagangan, bukan dari kantong plastik," ujarnya di Jakarta, Rabu (24/2/2016).

Menurut dia, harga kantong plastik sebesar Rp 200 per lembar tersebut juga sudah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) selalui surat edaran kepada toko retail modern di seluruh Indonesia per tanggal 17 Februari 2016.
"Kami minta ke KLHK. Pada surat edaran yang pertama belum disepakati (harga kantong plastik). Tetapi di sini (surat edaran yang kedua) minimum Rp 200 dan mekanisme dikembalikan ke retail modern," kata dia.
Tutum juga memastikan toko retail modern tidak akan memaksakan masyarakat untuk membeli kantong plastik saat berbelanja. Selain itu, hasil penjualan kantong plastik tersebut akan kembali digunakan untuk membeli kantong plastik dari produsen dan bukan masuk ke kas mana pun.

‎"Yang penting kami tidak meminta konsumen beli kantong plastik. Ada masyarakat yang sudah siapkan kantong beli," ia menandaskan.

BACA JUGA

Penerapan kantong plastik berbayar jangan hanya di pasar modern

Minggu, 21 Februari 2016 20:34 WIB | 4.445 Views
Pewarta: Ruslan Burhani
ilustrasi Masyarakat peduli lingkungan dan hewan melakukan aksi simpatik "Diet tas kresek" di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Surabaya, Jatim. (FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat)

Jakarta (ANTARA News) - Penerapan kantong plastik berbayar diharapkan tidak hanya berlaku di pasar modern, tetapi juga di pasar tradisional, Ketua Yayasan Peduli Bumi Indonesia (YPBI) Ananda Mustajab Latip.

Ananda mengatakan hal itu dalam keterangan bertepatan dengan acara puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016, Minggu, dimana pemerintah mulai memberlakukan kantong plastik berbayar di gerai pasar modern atau supermarket.

Kebijakan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS /2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Ananda menjelaskan mengatakan, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini antara lain bertujuan untuk mengurangi limbah atau sampah plastik. Sebab saat ini persoalan limbah plastik dianggap sudah sangat mengganggu lingkungan akibat sulit terurai atau hancur.

Sayangnya, penerapan kantong plastik ini hanya dilakukan di pasar modern saja, tetapi tidak dilakukan di pasar tradisional.

"Padahal 95 persen kantong plastik yang digunakan pasara modern sudah ramah lingkungan, sedangkan di pasar tradisional, justru sebaliknya hampir 90% kantong plastic yang digunakan tidak ramah lingkungan," ujarnya.

Ananda melihat hingga kini masih terjadi pro dan kontra terkait penerapan kebijakan tas belanja berbayar di pasar. Meski tujuan penerapan itu baik, namun jika meninjau kepada UU No.18/2008 pasal 3 tertulis secara jelas dalam pengelolaan sampah itu diselenggarakan atas tanggungjawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan dan asas nilai ekonomi.

Ananda mempertanyakan apakah kebijakan tersebut akan adil ketika memaksakan masyarakat harus membayar. Padahal, dari hasil penjualan kantong plastik itu, retailer lah yang menerima keuntungan.

Menurut dia, pemerintah seharusnya bisa melakukan pengelolaan sampah secara lebih modern. Selain itu, perbaikan dan dukungan sarana prasarana pengangkut sampah juga harus ditingkatkan.

Untuk membereskan masalah sampah, maka membuat pemilahan atas tempat sampah, mengangkut sampah dengan truk tertutup dan tempat pembuang akhir yang dikelola dengan teknologi modern seperti insenerator. 

"Ayo kita dorong perubahan di pasar tradisional yang justru 99 persen masih menggunakan kantong belanja plastik yang tidak ramah lingkungan, jangan hanya pasar modern yang disasar," katanya.

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2016

22 kota serentak berlakukan kantong plastik berbayar

Minggu, 21 Februari 2016 13:27 WIB | 5.871 Views
Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Ratusan pegiat lingkungan melakukan aksi menutup wajah dengan kantung berbahan non-plastik dalam aksi "Diet Kantong Plastik" di Solo. Aksi tersebut dilakukan dalam rangka mengkampanyekan gerakan tidak menggunakan kantong plastik karena akan membahayakan lingkungan. (FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 22 kota di Indonesia serentak memberlakukan sistem kantong plastik berbayar yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) guna mengurangi produksi sampah terutama dari bahan plastik.

"Plastik berbayar sekarang sudah diuji coba oleh 22 kota, seperti Jakarta, Bandung, Balikpapan, Makassar dan Surabaya. Sistemnya diatur oleh pemerintah provinsi sampai tingkat kota," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di kawasan Bundaran HI Jakarta, Minggu.

Menteri mengatakan pemerintah memfasilitasi dan mendukung seluruh provinsi, kabupaten, kota hingga kecamatan dan desa untuk melakukan pengurangan dan penanganan sampah melalui program kantong plastik berbayar.

KLHK menetapkan harga minimal standar Rp200 untuk setiap kantong plastik, namun sejumlah kota memberikan tarif harga yang lebih tinggi agar masyarakat lebih terbebani dan berinisiatif untuk membawa tas belanja sendiri dari rumah.

Sebagai contoh, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan harga Rp5.000 di seluruh tempat perbelanjaan, baik pasar swalayan, minimarket retail maupun pasar tradisional.

Sementara itu, Balikpapan menerapkan tarif bayar sebesar Rp1.500 per kantong plastik.

"Kami sudah memulai kantong plastik berbayar, namun harganya melebihi dari standar KLHK, yakni Rp1.500. Yang paling penting uang penjualan plastik ini harus kembali kepada rakyat," kata Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi.

Dalam kesempatan yang sama melalui telekonferensi, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan besarnya manfaat ekonomi yang didapat melalui sistem kantong plastik berbayar ini hingga Rp360 miliar per tahun.

"Kegiatan beli kantong plastik ini bisa menghemat nilai ekonomi sebesar Rp1 miliar per hari. Kalau setahun sudah ada Rp360 miliar dari membeli plastik. Itu bisa dialokasikan untuk beli truk sampah, membangun pembangkit listrik berbasis sampah, serta mendirikan pabrik daur ulang," kata Ridwan.

Makassar menerapkan harga bayar Rp4.500 per kantong plastik apalagi dengan produksi sampah yang cukup tinggi mencapai 1.000 ton.

KLHK menargetkan uji coba sampai enam bulan dengan evaluasi berkala tiga bulan sekali.

Jika program ini berhasil, Siti mengatakan sistem kantong plastik berbayar akan diatur dalam regulasi Peraturan Menteri. 
Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2016