Fiki AriyantiFiki Ariyanti
30 Jun 2017, 21:30 WIB
Sevel Tutup
Warga memasuki kawasan gerai 7-Eleven di kawasan Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Sabtu (24/6). Penutupan seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia akan dilakukan 30 Juni 2017. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Liputan6.com, Jakarta - Seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia akan tutup per 30 Juni 2017. Padahal gerai 7-Eleven ini sempat menjadi tempat primadona bagi anak muda untuk nongkrong.
PT Modern Internasional Tbk melalui anak usahanya PT Modern Sevel Indonesia mengelola gerai 7-Eleven dengan konsep berbeda dari bisnis minimarket lainnya. Perseroan membuka gerai pertama di Bulungan pada akhir tahun 2009.
Mereka menyediakan fasilitas wifi, berbagai macam makanan ringan, dan kopi serta minuman terkenal di gerai 7-Eleven yaitu minuman slurpee. Fasilitas ini mendorong masyarakat terutama anak muda betah nongkrong di gerai 7-Eleven. Konsep ini pula yang membuat sejumlah minimarket lainnya meniru model bisnis 7-Eleven.
Bahkan perseroan sempat menikmati manisnya bisnis dari gerai 7-Eleven. Pada 2014, pendapatan perseroan sempat naik menjadi Rp 1,43 triliun dari periode 2013 sebesar Rp 1,27 triliun. Akan tetapi, laba tahun berjalan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 40,34 miliar pada 2014 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 49,22 miliar.
Kinerja perseroan pun merosot pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2016, penjualan turun sekitar 27,45 persen dari Rp 1,22 triliun pada 2015 menjadi Rp 891,42 miliar. Perseroan mencatatkan rugi bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk menjadi Rp 636,48 miliar pada 2016 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 58,42 miliar.
Kabar penutupan seluruh gerai 7-Eleven menjelang libur Lebaran itu pun cukup mengejutkan. Di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen PT Modern Internasional Tbk menginformasikan per 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas anak perseroan akan menghentikan kegiatan operasional.
Direktur PT Modern Internasional Tbk Chandra Wijaya mengatakan, penutupan seluruh gerai disebabkan oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh Perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai 7-Eleven.
Apalagi setelah rencana transaksi material Perseroan atas penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience store di Indonesia dengan merek waralaba 7-Eleven beserta aset yang menyertainya oleh PT Modern Sevel Indonesia sebagai salah satu entitas anak dari perseroan kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia batal karena tidak tercapainya kesepakatan atas pihak-pihak yang berkepentingan.
"Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul sebagai akibat dari pemberhentian operasional gerai 7-Eleven ini akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku dan akan diselesaikan secepatnya," ujar dia.
Sebelumnya perseroan telah menandatangani business acquisition agreement oleh keduabelah pihak dilakukan pada 19 April 2017 terkait penjualan bisnis 7-ELeven kepada anak usaha PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Penjualan tersebut senilai Rp 1 triliun yang merujuk pada penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dan uji tuntas pihak pembeli. Namun penjualan itu batal karena tidak ada kata kesepakatan.
Sejumlah gerai 7-Eleven juga sudah ada yang tutup sebelum 30 Juni 2017. Adapun beberapa gerai 7-eleven yang telah tutup antara lain 7-Eleven Senayan, 7-Eleven Ratu Plaza, 7-Eleven Kebayoran Baru, 7-Eleven kawasan Wolter Monginsidi, dan 7-Eleven Jalan Cilandak KKO.
Salah satu karyawan yang ditemui Liputan6.com pun enggan menjelaskan lebih detil alasan penutupan dan rencana usai penutupan gerai 7-Eleven. "Langsung saja ke manajemen mba," tutur dia.
Saat ditanya apakah ada pesangon yang diberikan, ia pun enggan menjawab. "Kami tidak bisa beri informasi itu, itu privasi," ujar dia.
http://bisnis.liputan6.com/read/3007573/akhir-perjalanan-gerai-7-eleven
Indonesia Retail Akademi, lembaga pendidikan bisnis retail. Membantu para pengusaha retail untuk memberikan pengetahuan seluk beluk bisnis ritel di Indonesia
Label
- Home
- Kontak
- Retail Akademi
- Retail Konsultan
- Retail News
- Retail Oportunity
- Ritail CSR
- Ritail Strategi
Tampilkan postingan dengan label Ritail Strategi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ritail Strategi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Oktober 2017
Akhir Perjalanan Gerai 7-Eleven
Masuk Bisnis Ritel, Tomikomart Tak Khawatir Bernasib Seperti 7-Eleven
OGA SUKMANA
Kompas.com - 15/05/2017, 11:14 WIB
KARAWANG, KOMPAS.com - Konsorsium Usaha Koperasi Karawang (KUKK) menggebrak pasar ritel Indonesia. Setelah membentuk PT Tomiko Mandiri Indonesia, mereka mulai merambah bisnis ritel.
Akhir pekan lalu, gerai ritel pertamanya yakni Tomikomart diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Karawang.
Kepada Kompas.com, Direktur PT Tomiko Mandiri Indonesia Ihin Solihin menyampaikan optimismenya menjamah bisnis ritel.
Ia tak khawatir nasib Tomikomart akan seperti 7-Eleven yang terus merugi.
"Gini, direktur operasional kami dulunya GM ritel mapan. Saya tanya "Pak, gimana kalau mau mendirikan gerai? Dia akan survei tiga bulan untuk memetakan market. Nah, kami enggak usah memetakan market karena sudah ada marketnya," ujar Ihin.
Saat ini, Konsorsium Usaha Koperasi Karawang (KUKK) terdiri dari 35 koperasi karyawan pabrik di Kawarang. Jumlah anggota koperasi itu tutur Ihin mencapai 75.000 orang.
Para anggota inilah yang menjadi market utama Tomikomart. Kehadiran gerai Tomikomart juga ditempatkan di lokasi yang dekat dengan market yang tidak lain adalah para karyawan yang merupakan anggota koperasi.
Dari sisi harga, Ihin mengatakan semua barang yang dijual di Tomikomart sangat kompetitif dengan para kompetitor gerai ritel yang sudah mapan. Bukan bukan hal aneh ada barang-barang tertentu yang harga jualnya lebih murah dari harga pasar.
Sebab sebagai kepanjangan tangan koperasi karyawan, Tomikomart bisa bekerja sama dengan perusahaan untuk menjual produknya kepada para anggota koperasi.
PT Tomiko Mandiri Indonesia membuka kesempatan bagi koperasi lain yang tertarik membuka gerai dengan brand Tomikomart.
Tawarannya sangat menarik, 99 persen omset akan diberikan kepada koperasi tersebut. Adapun PT Tomiko Mandiri Indonesia hanya mengambil 1 persennya saja.
Dengan begitu maka tujuan pengembangan koperasi sebagai lembaga dan anggota sebagai asset diharapkan bisa tercapai.
Tahun ini, PT Tomiko Mandiri Indonesia menargetkan pendirian 20 gerai di Karawang. Rencananya, konsep pengembangan koperasi serupa juga akan di sebarkan ke kota dan kabupaten seluruh Jawa Barat.
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/15/111438426/masuk.bisnis.ritel.tomikomart.tak.khawatir.bernasib.seperti.7-eleven.
Kompas.com - 15/05/2017, 11:14 WIB
KARAWANG, KOMPAS.com - Konsorsium Usaha Koperasi Karawang (KUKK) menggebrak pasar ritel Indonesia. Setelah membentuk PT Tomiko Mandiri Indonesia, mereka mulai merambah bisnis ritel.
Akhir pekan lalu, gerai ritel pertamanya yakni Tomikomart diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Karawang.
Kepada Kompas.com, Direktur PT Tomiko Mandiri Indonesia Ihin Solihin menyampaikan optimismenya menjamah bisnis ritel.
Ia tak khawatir nasib Tomikomart akan seperti 7-Eleven yang terus merugi.
"Gini, direktur operasional kami dulunya GM ritel mapan. Saya tanya "Pak, gimana kalau mau mendirikan gerai? Dia akan survei tiga bulan untuk memetakan market. Nah, kami enggak usah memetakan market karena sudah ada marketnya," ujar Ihin.
Saat ini, Konsorsium Usaha Koperasi Karawang (KUKK) terdiri dari 35 koperasi karyawan pabrik di Kawarang. Jumlah anggota koperasi itu tutur Ihin mencapai 75.000 orang.
Para anggota inilah yang menjadi market utama Tomikomart. Kehadiran gerai Tomikomart juga ditempatkan di lokasi yang dekat dengan market yang tidak lain adalah para karyawan yang merupakan anggota koperasi.
Dari sisi harga, Ihin mengatakan semua barang yang dijual di Tomikomart sangat kompetitif dengan para kompetitor gerai ritel yang sudah mapan. Bukan bukan hal aneh ada barang-barang tertentu yang harga jualnya lebih murah dari harga pasar.
Sebab sebagai kepanjangan tangan koperasi karyawan, Tomikomart bisa bekerja sama dengan perusahaan untuk menjual produknya kepada para anggota koperasi.
PT Tomiko Mandiri Indonesia membuka kesempatan bagi koperasi lain yang tertarik membuka gerai dengan brand Tomikomart.
Tawarannya sangat menarik, 99 persen omset akan diberikan kepada koperasi tersebut. Adapun PT Tomiko Mandiri Indonesia hanya mengambil 1 persennya saja.
Dengan begitu maka tujuan pengembangan koperasi sebagai lembaga dan anggota sebagai asset diharapkan bisa tercapai.
Tahun ini, PT Tomiko Mandiri Indonesia menargetkan pendirian 20 gerai di Karawang. Rencananya, konsep pengembangan koperasi serupa juga akan di sebarkan ke kota dan kabupaten seluruh Jawa Barat.
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/15/111438426/masuk.bisnis.ritel.tomikomart.tak.khawatir.bernasib.seperti.7-eleven.
Jaringan Ritel Mainan Toys R Us Menyatakan Bangkrut
SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 19/09/2017, 10:26 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com - Jaringan toko ritel mainan terbesar AS Toys R Us dikabarkan bakal mengumumkan kebangkrutan. Toys R Us sendiri telah berusaha memperbaiki bisnis setelah terlilit utang lebih dari satu dekade lalu.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (19/9/2017), Toys R Us akan mengajukan dokumen Chapter 11 yang merupakan dokumen pengajuan pailit.
Bangkrutnya Toys R Us dipandang sebagai satu lagi pukulan telak bagi toko ritel konvensional yang terpaksa harus gulung tikar akibat anjloknya frekuensi pengunjung dan ancaman dari toko online.
Dokumen pailit memungkinkan Toys R Us melakukan restrukturisasi utang sebesar 400 juta dollar AS yang jatuh tempo tahun depan. Demikian pula, Toys R Us juga bisa merampingkan organisasinya.
Toys R Us juga telah merekrut agen klaim yang membantu proses pailit, restrukturisasi utang, dan urusan terkait.
Beberapa vendor toko ritel mainan itu juga sudah menahan pengiriman barang karena ada kekhawatiran Toys R Us tidak bisa membayar tagihan.
"Pengajuan (pailit) ini benar-benar puncak masalah finansial dalam 15 tahun terakhir. Akhirnya, telur itu pecah," kata analis industri Jim Silver.
Munculnya kabar kebangkrutan Toys R Us membuat saham beberapa vendornya terperosok.
Saham produsen boneka Barbie dan mainan anak Fisher-Price, Mattel Inc anjlok 6,2 persen, serta saham Hasbro, produsen mainan Monopoly, Nerf, dan Transformers merosot 1,7 persen.
Beberapa bank seperti JPMorgan Chase & Co, Barclays Plc, Goldman Sachs Group Inc, dan Wells Fargo & Co dikabarkan bersedia memberikan pembiayaan bagi Toys R Us selama melalui masa bangkrut.
Pengumuman pailit Toys R Us menurut informasi bakal diumumkan hari ini waktu setempat.
Utang Toys R Us kabarnya mencapai 3 miliar dollar AS. Lembaga pemeringkatan Standard & Poor's dan Fitch Ratinga pun langsung menurunkan peringkat utang Toys R Us, yakni CCC- dari S&P.
PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorBambang Priyo Jatmiko
SumberBloomberg
TAG: bangkrut pailit
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/19/102616026/jaringan-ritel-mainan-toys-r-us-menyatakan-bangkrut
Kompas.com - 19/09/2017, 10:26 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com - Jaringan toko ritel mainan terbesar AS Toys R Us dikabarkan bakal mengumumkan kebangkrutan. Toys R Us sendiri telah berusaha memperbaiki bisnis setelah terlilit utang lebih dari satu dekade lalu.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (19/9/2017), Toys R Us akan mengajukan dokumen Chapter 11 yang merupakan dokumen pengajuan pailit.
Bangkrutnya Toys R Us dipandang sebagai satu lagi pukulan telak bagi toko ritel konvensional yang terpaksa harus gulung tikar akibat anjloknya frekuensi pengunjung dan ancaman dari toko online.
Dokumen pailit memungkinkan Toys R Us melakukan restrukturisasi utang sebesar 400 juta dollar AS yang jatuh tempo tahun depan. Demikian pula, Toys R Us juga bisa merampingkan organisasinya.
Toys R Us juga telah merekrut agen klaim yang membantu proses pailit, restrukturisasi utang, dan urusan terkait.
Beberapa vendor toko ritel mainan itu juga sudah menahan pengiriman barang karena ada kekhawatiran Toys R Us tidak bisa membayar tagihan.
"Pengajuan (pailit) ini benar-benar puncak masalah finansial dalam 15 tahun terakhir. Akhirnya, telur itu pecah," kata analis industri Jim Silver.
Munculnya kabar kebangkrutan Toys R Us membuat saham beberapa vendornya terperosok.
Saham produsen boneka Barbie dan mainan anak Fisher-Price, Mattel Inc anjlok 6,2 persen, serta saham Hasbro, produsen mainan Monopoly, Nerf, dan Transformers merosot 1,7 persen.
Beberapa bank seperti JPMorgan Chase & Co, Barclays Plc, Goldman Sachs Group Inc, dan Wells Fargo & Co dikabarkan bersedia memberikan pembiayaan bagi Toys R Us selama melalui masa bangkrut.
Pengumuman pailit Toys R Us menurut informasi bakal diumumkan hari ini waktu setempat.
Utang Toys R Us kabarnya mencapai 3 miliar dollar AS. Lembaga pemeringkatan Standard & Poor's dan Fitch Ratinga pun langsung menurunkan peringkat utang Toys R Us, yakni CCC- dari S&P.
PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorBambang Priyo Jatmiko
SumberBloomberg
TAG: bangkrut pailit
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/19/102616026/jaringan-ritel-mainan-toys-r-us-menyatakan-bangkrut
Persaingan Kian Ketat, Peretail Konvensional Kebut Bisnis Online
Sabtu, 16 September 2017 12:45 WIB
Pekerja menyiapkan barang pesanan pelanggan untuk dikirim di gudang situs belanja online mataharimall.com di Jakarta, 10 Desember 2015. Tahun ini, sebanyak 140 e-commerce akan memberikan diskon hingga 90% dengan nilai total diskon diperkirakan mencapai Rp 120 miliar. TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Roy Nicholas Mandey mengatakan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berbelanja melalui Internet bakal menekan bisnis retail konvensional. “Meski jumlah produk yang dijual secara online masih terbatas, peretail harus segera menyiapkan layanan penjualan online,” ujarnya, Jumat, 15 September 2017.
Pergeseran pola belanja konsumen dari konvensional ke online nyatanya telah berdampak pada usaha retail konvensional. Sejumlah perusahaan mulai menutup gerainya. Manajemen PT Matahari Department Store Tbk, misalnya, akan menutup dua gerainya di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan, pada akhir bulan ini.
Baca: Gerai Ditutup, Manajemen Matahari: Bukan Terpukul Bisnis Online
Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo mengatakan penutupan dilakukan karena kedua gerai tersebut sepi pembeli. ”Akibatnya, kinerja kedua gerai tidak sesuai dengan target,” katanya.
Persoalan yang sama pernah dihadapi PT Hero Supermarket Tbk pada 2015. Ketika itu, Hero menutup beberapa gerainya karena kondisi perseroan sedang sulit. ”Pada 2015 kami merasionalisasi toko,” ujar Presiden Direktur Hero Stephane Deutsch, kemarin. Saat ini, perusahaan tersebut mulai mengembangkan usaha dari konvensional ke sistem online.
Stephane menjelaskan, kini Hero tidak lagi menggunakan pendekatan konservatif dalam memenuhi kebutuhan serta pelayanan kepada konsumen. ”Tim kami sedang memformulasikan pendekatan yang tepat untuk e-commerce,” kata dia.
Ekspansi pasar melalui penjualan online juga dilakukan PT Matahari Putra Prima Tbk melalui Hypermart. ”Ini lebih pada melengkapi bisnis retail kami karena adanya tren belanja online,” kata juru bicara Matahari Putra Prima, Fernando Repi.
ALI N.Y. | GHOIDA RAHMAH
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/909654/persaingan-kian-ketat-peretail-konvensional-kebut-bisnis-online#rqRQbL3XYRhYu7VZ.99
Pekerja menyiapkan barang pesanan pelanggan untuk dikirim di gudang situs belanja online mataharimall.com di Jakarta, 10 Desember 2015. Tahun ini, sebanyak 140 e-commerce akan memberikan diskon hingga 90% dengan nilai total diskon diperkirakan mencapai Rp 120 miliar. TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Roy Nicholas Mandey mengatakan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berbelanja melalui Internet bakal menekan bisnis retail konvensional. “Meski jumlah produk yang dijual secara online masih terbatas, peretail harus segera menyiapkan layanan penjualan online,” ujarnya, Jumat, 15 September 2017.
Pergeseran pola belanja konsumen dari konvensional ke online nyatanya telah berdampak pada usaha retail konvensional. Sejumlah perusahaan mulai menutup gerainya. Manajemen PT Matahari Department Store Tbk, misalnya, akan menutup dua gerainya di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan, pada akhir bulan ini.
Baca: Gerai Ditutup, Manajemen Matahari: Bukan Terpukul Bisnis Online
Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo mengatakan penutupan dilakukan karena kedua gerai tersebut sepi pembeli. ”Akibatnya, kinerja kedua gerai tidak sesuai dengan target,” katanya.
Persoalan yang sama pernah dihadapi PT Hero Supermarket Tbk pada 2015. Ketika itu, Hero menutup beberapa gerainya karena kondisi perseroan sedang sulit. ”Pada 2015 kami merasionalisasi toko,” ujar Presiden Direktur Hero Stephane Deutsch, kemarin. Saat ini, perusahaan tersebut mulai mengembangkan usaha dari konvensional ke sistem online.
Stephane menjelaskan, kini Hero tidak lagi menggunakan pendekatan konservatif dalam memenuhi kebutuhan serta pelayanan kepada konsumen. ”Tim kami sedang memformulasikan pendekatan yang tepat untuk e-commerce,” kata dia.
Ekspansi pasar melalui penjualan online juga dilakukan PT Matahari Putra Prima Tbk melalui Hypermart. ”Ini lebih pada melengkapi bisnis retail kami karena adanya tren belanja online,” kata juru bicara Matahari Putra Prima, Fernando Repi.
ALI N.Y. | GHOIDA RAHMAH
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/909654/persaingan-kian-ketat-peretail-konvensional-kebut-bisnis-online#rqRQbL3XYRhYu7VZ.99
Sejak 2015 Performa Bisnis Ritel di Indonesia Di Bawah Normal
Reporter: Muhammad Hendartyo
Editor: Martha Warta
Selasa, 17 Oktober 2017 11:23 WIB
Sejak 2015 Performa Bisnis Ritel di Indonesia Di Bawah Normal
Bisnis ritel di Indonesia. Tempo/Seto Wardhana
TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Umum Asosiasi Pelaku Ritel Indonesia atau Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan sejak 2015 bisnis ritel di Indonesia mengalami performa di bawah normal.
"Ritel berjaya pada 2012. Pada 2011 hingga 2012, ritel kita bisa bertumbuh 14 sampai 15 persen," kata Roy Nicholas Mandey saat ditemui di hotel The Hermitage Menteng, Jakarta, Senin, 16 Oktober 2017.
Menurut Roy, bisnis ritel normalnya bertumbuh 2,5 sampai 3 kali pertumbuhan ekonomi. Roy melihat pertumbuhan retail hingga semester I pada 2017 sebesar 3,7 persen.
Ia memprediksi hingga akhir tahun akan mencapai 7,5 sampai 8 persen. "Di bawah dari semester II 2016 yang tumbuh 9 persen," kata Roy.
Ia masih berharap agar pertumbuhan dapat mencapai 9 persen sama seperti dengan 2016. "Namun kalau pun kenyataannya harus terjadi masih bertumbuh tapi, melambat," kata Roy.
Lebih rendahnya pertumbuhan tersebut menurut Roy disebabkan, karena beberapa hal seperti harga komoditas yang tidak bertambah, upah segmen menengah ke bawah tidak berubah, dan terjadi pergeseran perubahan perilaku belanja.
Perilaku belanja yang tadinya dengan keranjang ukuran besar, sekarang konsumen belanja dengan ukuran keranjang yang kecil, karena sudah banyak layanan jemput barang.
Menurut Roy orang sekarang sudah tidak lagi ke toko, cukup pesan online atau dengan jasa jemput barang yang tersedia dalam aplikasi transportasi daring
"Pola belanja yang berubah itu membuat costumer tidak belanja bulanan, tp belanja secukupnya sesuai kebutuhan saja," kata Roy.
Roy melihat industri sekarang dari data 2016 masih 1,4 persen transaksi online dari pada total offline. "Jadi retail online itu dengan total lebih kurang 97,3 user internet hanya 8,7 juta yang transaksi, data terakhir hampir 9 juta transaksi," kata Roy
Kemudian menurut Roy kalau mereka transaksi setahun 5 juta maka total yang mereka kumpulkan baru sekitar 1,4 persen dari US$ 350 miliar market cap offline ritel di Indonesia menurut GRD Global Retail Development. "Kalau 1,4 persen berarti baru sekitar US$ 4,9 juta online," kata Roy.
Roy mengatakan masih memungkinkan kejayaan pada 2012 dapat kembali terjadi. "Mungkin saat memasuki dasawarsa pemerintahan yang baru yang kedua," kata Roy.
Menurut Roy saat ini Indonesia memasuki tahun politik harga komoditas tidak berubah masih lemah, daya serap global untuk komoditas kita juga masih lemah. "Sehingga untuk bisa kembali di kembali di tahun 2012 kami belum melihat pointernya, setelah 2019 itu akan semakin baik," kata dia.
HENDARTYO HANGGI
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/1025407/sejak-2015-performa-bisnis-ritel-di-indonesia-di-bawah-normal#065f0JtQOYcPvkCg.99
Editor: Martha Warta
Selasa, 17 Oktober 2017 11:23 WIB
Sejak 2015 Performa Bisnis Ritel di Indonesia Di Bawah Normal
Bisnis ritel di Indonesia. Tempo/Seto Wardhana
TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Umum Asosiasi Pelaku Ritel Indonesia atau Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan sejak 2015 bisnis ritel di Indonesia mengalami performa di bawah normal.
"Ritel berjaya pada 2012. Pada 2011 hingga 2012, ritel kita bisa bertumbuh 14 sampai 15 persen," kata Roy Nicholas Mandey saat ditemui di hotel The Hermitage Menteng, Jakarta, Senin, 16 Oktober 2017.
Menurut Roy, bisnis ritel normalnya bertumbuh 2,5 sampai 3 kali pertumbuhan ekonomi. Roy melihat pertumbuhan retail hingga semester I pada 2017 sebesar 3,7 persen.
Ia memprediksi hingga akhir tahun akan mencapai 7,5 sampai 8 persen. "Di bawah dari semester II 2016 yang tumbuh 9 persen," kata Roy.
Ia masih berharap agar pertumbuhan dapat mencapai 9 persen sama seperti dengan 2016. "Namun kalau pun kenyataannya harus terjadi masih bertumbuh tapi, melambat," kata Roy.
Lebih rendahnya pertumbuhan tersebut menurut Roy disebabkan, karena beberapa hal seperti harga komoditas yang tidak bertambah, upah segmen menengah ke bawah tidak berubah, dan terjadi pergeseran perubahan perilaku belanja.
Perilaku belanja yang tadinya dengan keranjang ukuran besar, sekarang konsumen belanja dengan ukuran keranjang yang kecil, karena sudah banyak layanan jemput barang.
Menurut Roy orang sekarang sudah tidak lagi ke toko, cukup pesan online atau dengan jasa jemput barang yang tersedia dalam aplikasi transportasi daring
"Pola belanja yang berubah itu membuat costumer tidak belanja bulanan, tp belanja secukupnya sesuai kebutuhan saja," kata Roy.
Roy melihat industri sekarang dari data 2016 masih 1,4 persen transaksi online dari pada total offline. "Jadi retail online itu dengan total lebih kurang 97,3 user internet hanya 8,7 juta yang transaksi, data terakhir hampir 9 juta transaksi," kata Roy
Kemudian menurut Roy kalau mereka transaksi setahun 5 juta maka total yang mereka kumpulkan baru sekitar 1,4 persen dari US$ 350 miliar market cap offline ritel di Indonesia menurut GRD Global Retail Development. "Kalau 1,4 persen berarti baru sekitar US$ 4,9 juta online," kata Roy.
Roy mengatakan masih memungkinkan kejayaan pada 2012 dapat kembali terjadi. "Mungkin saat memasuki dasawarsa pemerintahan yang baru yang kedua," kata Roy.
Menurut Roy saat ini Indonesia memasuki tahun politik harga komoditas tidak berubah masih lemah, daya serap global untuk komoditas kita juga masih lemah. "Sehingga untuk bisa kembali di kembali di tahun 2012 kami belum melihat pointernya, setelah 2019 itu akan semakin baik," kata dia.
HENDARTYO HANGGI
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/1025407/sejak-2015-performa-bisnis-ritel-di-indonesia-di-bawah-normal#065f0JtQOYcPvkCg.99
Ritel Modern Pasok Warung, Aturan Selesai Bulan Ini
Reporter: Bisnis.com
Editor: Anisa Luciana
Rabu, 4 Oktober 2017 19:09 WIB
Supermarket. TEMPO/Dinul Mubarok
TEMPO.CO, Jakarta - Peraturan kemitraan antara ritel modern dan pedagang tradisional ditargetkan selesai bulan Oktober ini. Dengan kemitraan itu, nantinya peritel modern wajib menjadi pemasok bagi pedagang tradisional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan penyusunan konsep kemitraan tersebut masih berlangsung dan dilakukan bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).
“Sebelum dimasukkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, disusun dulu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Iya [Permendag keluar Oktober],” ujarnya seusai menghadiri Ngobrol Pemerataan Ekonomi #2: Meningkatkan Daya Saing Sektor Ritel Melalui Sinergi Antara Ritel Tradisional, Modern, dan E-commerce, Rabu, 4 Oktober 2017.
Meski ritel modern diharuskan menjadi supplier, namun pedagang tradisional dibebaskan untuk mengambil barang dari mana saja. Dengan demikian, peritel tradisional akan memiliki alternatif sumber pasokan barang yang lebih banyak dengan harga yang lebih murah.
BISNIS
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/1022022/ritel-modern-pasok-warung-aturan-selesai-bulan-ini#qC8D3pIg7xzR4TqT.99
Editor: Anisa Luciana
Rabu, 4 Oktober 2017 19:09 WIB
Supermarket. TEMPO/Dinul Mubarok
TEMPO.CO, Jakarta - Peraturan kemitraan antara ritel modern dan pedagang tradisional ditargetkan selesai bulan Oktober ini. Dengan kemitraan itu, nantinya peritel modern wajib menjadi pemasok bagi pedagang tradisional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan penyusunan konsep kemitraan tersebut masih berlangsung dan dilakukan bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).
“Sebelum dimasukkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, disusun dulu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Iya [Permendag keluar Oktober],” ujarnya seusai menghadiri Ngobrol Pemerataan Ekonomi #2: Meningkatkan Daya Saing Sektor Ritel Melalui Sinergi Antara Ritel Tradisional, Modern, dan E-commerce, Rabu, 4 Oktober 2017.
Meski ritel modern diharuskan menjadi supplier, namun pedagang tradisional dibebaskan untuk mengambil barang dari mana saja. Dengan demikian, peritel tradisional akan memiliki alternatif sumber pasokan barang yang lebih banyak dengan harga yang lebih murah.
BISNIS
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/1022022/ritel-modern-pasok-warung-aturan-selesai-bulan-ini#qC8D3pIg7xzR4TqT.99
Sektor Ritel Lesu, Lotte Mart Tak Yakin Capai Target
Reporter: Tempo.co
Editor: Dewi Rina Cahyani
Kamis, 20 Juli 2017 07:00 WIB
Pengunjung melakukan transaksi usai belanja di Lotte Mart Jakarta, Minggu (2/9). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Lotte Mart Indonesia dan PT Lotte Shopping Indonesia, Joseph V. Buntaran, tak yakin sektor ritel bisa tumbuh sesuai target tahun ini. Dia menargetkan ritel tumbuh sebesar 12-13 persen.
Joseph menyatakan dirinya bukan pesimistis. "Tapi sebagai orang yang agak realistis, saya menilai sepertinya agak susah mencapai target," kata dia di Menara Standard Chartered, Jakarta, Rabu, 19 Juli 2017.
Menurut dia, kondisi sektor ritel di Indonesia kini sedang sulit. Salah satu penyebabnya adalah daya beli masyarakat yang rendah. Pada tiga minggu awal Juni saja, data Nielsen Retail Establishment Survey menunjukkan pertumbuhan ritel secara nasional hanya 3 persen. Padahal periode merupakan masa panen sektor ritel karena masuk waktu ramadan dan lebaran. Joseph mencatat pertumbuhan di periode tersebut biasanya bisa mencapai 11-12 persen.
Namun Joseph menyatakan sektor ritel bukan tanpa harapan. Kondisi Indonesia saat ini dinilai membaik. "Secara makro ekonomi juga dalam kondisi baik, rasio utang membaik," kata dia. Program prioritas Presiden Joko Widodo yang berfokus di sektor infrastruktur juga disebut sebagai sentimen positif.
Dari internal, Joseph menyatakan perusahaan mencoba menerapkan beragam strategi untuk terus berkembang. Dia menganut tiga strategi bisnis ritel yang disebutnya 3C. "Capital, competitivenes, dan credibility," ujarnya.
Dia mengatakan capital alias modal berperan penting baru pertumbuhan perusahaan. Bagi perusahaan seperti Lotte Mart yang baru berdiri pada 2010, modal yang kuat menjadi kunci ekspansi. Lotte berupaya menggandeng berbagai pihak untuk menjalin kemitraan sehingga perusahaan mendapat jaminan keuangan.
Dari segi kompetitif, Lotte berupaya menawarkan harga yang menarik. Sementara dari sisi kredilibitas, salah satu upaya Lotte adalah memberikan kemudahan kepada pemasoknya. Caranya dengan memberikan layanan Early Payment Program. Dalam program tersebut, pemasok bisa mendapat pembayaran lebih cepat dari waktu jatuh tempo.
Lotte juga mengandalkan pertumbuhan dari pembukaan gerai baru. Tahun ini, Lotte membuka satu gerai ritel Lotte Mart baru di Surabaya. Pembukaan gerai diharapkan mendorong pertumbuhan. Pasalnya, pertumbuhan sektor ritel tahun lalu bisa tumbuh 12-13 persen, salah satunya karena disebabkan penambahan gerai.
VINDRY FLORENTIN
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/892847/sektor-ritel-lesu-lotte-mart-tak-yakin-capai-target#9jBYczIjg50LWU68.99
Editor: Dewi Rina Cahyani
Kamis, 20 Juli 2017 07:00 WIB
Pengunjung melakukan transaksi usai belanja di Lotte Mart Jakarta, Minggu (2/9). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Lotte Mart Indonesia dan PT Lotte Shopping Indonesia, Joseph V. Buntaran, tak yakin sektor ritel bisa tumbuh sesuai target tahun ini. Dia menargetkan ritel tumbuh sebesar 12-13 persen.
Joseph menyatakan dirinya bukan pesimistis. "Tapi sebagai orang yang agak realistis, saya menilai sepertinya agak susah mencapai target," kata dia di Menara Standard Chartered, Jakarta, Rabu, 19 Juli 2017.
Menurut dia, kondisi sektor ritel di Indonesia kini sedang sulit. Salah satu penyebabnya adalah daya beli masyarakat yang rendah. Pada tiga minggu awal Juni saja, data Nielsen Retail Establishment Survey menunjukkan pertumbuhan ritel secara nasional hanya 3 persen. Padahal periode merupakan masa panen sektor ritel karena masuk waktu ramadan dan lebaran. Joseph mencatat pertumbuhan di periode tersebut biasanya bisa mencapai 11-12 persen.
Namun Joseph menyatakan sektor ritel bukan tanpa harapan. Kondisi Indonesia saat ini dinilai membaik. "Secara makro ekonomi juga dalam kondisi baik, rasio utang membaik," kata dia. Program prioritas Presiden Joko Widodo yang berfokus di sektor infrastruktur juga disebut sebagai sentimen positif.
Dari internal, Joseph menyatakan perusahaan mencoba menerapkan beragam strategi untuk terus berkembang. Dia menganut tiga strategi bisnis ritel yang disebutnya 3C. "Capital, competitivenes, dan credibility," ujarnya.
Dia mengatakan capital alias modal berperan penting baru pertumbuhan perusahaan. Bagi perusahaan seperti Lotte Mart yang baru berdiri pada 2010, modal yang kuat menjadi kunci ekspansi. Lotte berupaya menggandeng berbagai pihak untuk menjalin kemitraan sehingga perusahaan mendapat jaminan keuangan.
Dari segi kompetitif, Lotte berupaya menawarkan harga yang menarik. Sementara dari sisi kredilibitas, salah satu upaya Lotte adalah memberikan kemudahan kepada pemasoknya. Caranya dengan memberikan layanan Early Payment Program. Dalam program tersebut, pemasok bisa mendapat pembayaran lebih cepat dari waktu jatuh tempo.
Lotte juga mengandalkan pertumbuhan dari pembukaan gerai baru. Tahun ini, Lotte membuka satu gerai ritel Lotte Mart baru di Surabaya. Pembukaan gerai diharapkan mendorong pertumbuhan. Pasalnya, pertumbuhan sektor ritel tahun lalu bisa tumbuh 12-13 persen, salah satunya karena disebabkan penambahan gerai.
VINDRY FLORENTIN
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/892847/sektor-ritel-lesu-lotte-mart-tak-yakin-capai-target#9jBYczIjg50LWU68.99
Pengusaha Ritel Jelaskan Penyebab Ramayana Tutup Gerai
Reporter: Tempo.co
Editor: Ali Akhmad Noor Hidayat tnr
Jumat, 1 September 2017 00:36 WIB
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita melakukan sidak ke pasar ritel modern untuk memastikan harga eceran tertinggi di Carefour Dutamerlin, Jakarta, 12 April 2017. TEMPO/Richard Andika
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta membenarkan PT Ramayana Lestari Sentora, menutup beberapa gerai pusat perbelanjaannya. "Iya itu sudah ada informasi resminya. Dan memang sudah tercantum jelas (menutup gerai supermarketnya)," kata Tutum, Kamis, 31 Agustus 2017.
Berdasarkan informasi yang diterima Tutum, Ramayana menutup beberapa supermarketnya karena ingin mengubah tata letak dan membuat format baru. "Mereka mau relayout (mengubat tata letak) dan reformat," ujarnya. "Terkait penutupan itu karena rugi atau tidak belum bisa dipastikan. Yang pasti informasi resmi mereka hanya ingin relayout dan reformat supermarketnya."
Sejauh ini, Tutum belum pernah melihat upaya pemerintah untuk membantu bisnis ritel di Indonesia. Padahal, tahun ini bisnis ritel sedang lesu. "Tidak pernah ada upaya pemerintah untuk membantu campur tangan. Seharusnya pemerintah yang paling peduli."
Rencananya Ramayana akan menutup delapan gerainya di Indonesia. Satu diantaranya adalah supermarket Ramayana Mall Pontianak di Jalan Tanjungpura Pontianak, yang akan ditutup. "Supermarket Ramayana Pontianak operasionalnya hanya berlangsung hingga Agustus ini," kata Supervisor Area Ramayana Mal Pontianak Marta Hutabarar seperti yang dikutip Antara, Senin lalu.
Iya itu informasi resmi memang sudah tercantum jelas, mereka mau relayout dan reformat, karena memang menutup punya outlet yang memang itu, supermarketnya. Terkait penutupan itu karena rugi atau tidak belum bisa dipastikan, soal online tidak online, ada akibat dari kami seakan" menutup toko,
Alasan penutupan supermarket Ramayana karena managemen mengalami kerugian. Alhasil, managemen memilih menutup khusus supermarket saja. Ia mengatakan terkait alih tempat menjadi bisnis lain juga belum diketahui.
"Tempat pasca-supermarket untuk bisnis lain dan sebagainya kami tidak tahu. Kami hanya menunggu perintah selanjutnya dari manajemen," kata Marta.
Pantauan Tempo, Kamis, 31 Agustus 2017, Ramayana di kawasan Kebayoran, tanpak sepi. Jumlah pegawai terlihat dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dari pengunjung yang datang.
"Total karyawan di sini ada 200 orang," kata petugas informasi yang tidak mau menyebutkan namanya. Ia telah mendengar bahwa perusahaan menutup beberapa supermarket Ramayana. "Iya kami dengar. Tapi, karakteristik setiap gerai kan berbeda. Ramayana Kebayoran belum dengar saya ada rencana ditutup."
IMAM HAMDI
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/905058/pengusaha-ritel-jelaskan-penyebab-ramayana-tutup-gerai#CDhmAIkYYuqLyiLR.99
Editor: Ali Akhmad Noor Hidayat tnr
Jumat, 1 September 2017 00:36 WIB
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita melakukan sidak ke pasar ritel modern untuk memastikan harga eceran tertinggi di Carefour Dutamerlin, Jakarta, 12 April 2017. TEMPO/Richard Andika
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta membenarkan PT Ramayana Lestari Sentora, menutup beberapa gerai pusat perbelanjaannya. "Iya itu sudah ada informasi resminya. Dan memang sudah tercantum jelas (menutup gerai supermarketnya)," kata Tutum, Kamis, 31 Agustus 2017.
Berdasarkan informasi yang diterima Tutum, Ramayana menutup beberapa supermarketnya karena ingin mengubah tata letak dan membuat format baru. "Mereka mau relayout (mengubat tata letak) dan reformat," ujarnya. "Terkait penutupan itu karena rugi atau tidak belum bisa dipastikan. Yang pasti informasi resmi mereka hanya ingin relayout dan reformat supermarketnya."
Sejauh ini, Tutum belum pernah melihat upaya pemerintah untuk membantu bisnis ritel di Indonesia. Padahal, tahun ini bisnis ritel sedang lesu. "Tidak pernah ada upaya pemerintah untuk membantu campur tangan. Seharusnya pemerintah yang paling peduli."
Rencananya Ramayana akan menutup delapan gerainya di Indonesia. Satu diantaranya adalah supermarket Ramayana Mall Pontianak di Jalan Tanjungpura Pontianak, yang akan ditutup. "Supermarket Ramayana Pontianak operasionalnya hanya berlangsung hingga Agustus ini," kata Supervisor Area Ramayana Mal Pontianak Marta Hutabarar seperti yang dikutip Antara, Senin lalu.
Iya itu informasi resmi memang sudah tercantum jelas, mereka mau relayout dan reformat, karena memang menutup punya outlet yang memang itu, supermarketnya. Terkait penutupan itu karena rugi atau tidak belum bisa dipastikan, soal online tidak online, ada akibat dari kami seakan" menutup toko,
Alasan penutupan supermarket Ramayana karena managemen mengalami kerugian. Alhasil, managemen memilih menutup khusus supermarket saja. Ia mengatakan terkait alih tempat menjadi bisnis lain juga belum diketahui.
"Tempat pasca-supermarket untuk bisnis lain dan sebagainya kami tidak tahu. Kami hanya menunggu perintah selanjutnya dari manajemen," kata Marta.
Pantauan Tempo, Kamis, 31 Agustus 2017, Ramayana di kawasan Kebayoran, tanpak sepi. Jumlah pegawai terlihat dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dari pengunjung yang datang.
"Total karyawan di sini ada 200 orang," kata petugas informasi yang tidak mau menyebutkan namanya. Ia telah mendengar bahwa perusahaan menutup beberapa supermarket Ramayana. "Iya kami dengar. Tapi, karakteristik setiap gerai kan berbeda. Ramayana Kebayoran belum dengar saya ada rencana ditutup."
IMAM HAMDI
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/905058/pengusaha-ritel-jelaskan-penyebab-ramayana-tutup-gerai#CDhmAIkYYuqLyiLR.99
Persaingan Retail Kian Sengit, Begini Strategi Grup Hero
GHOIDA RAHMAH
Sabtu, 16 September 2017 16:49 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha retail mulai menjajaki sistem penjualan online untuk mendorong kinerja dan performa perusahaan. Tak terkecuali PT Hero Supermarket Tbk.
Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk. Stephane Deustch mengatakan pihaknya tak lagi menggunakan pendekatan yang konservatif dalam memenuhi kebutuhan serta pelayanan untuk konsumen. "Tim kami sedang memformulasikan pendekatan yang tepat untuk e-commerce ini,” ujarnya dalam konferensi pers, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat, 15 September 2017.
Pernyataan Stephane menanggapi kian sengitnya persaingan di industri retail belakangan ini. Tak sedikit peretail yang memilih menutup gerai-gerainya yang dianggap tak lagi menguntungkan. “Sekarang sudah ada banyak model yang berkembang di Indonesia. Ada yang berjalan baik dan belum baik juga," ujar Stephane.
Hero, kata Stephane, juga mulai melirik platform penjualan online untuk dikembangkan di kemudian hari. Tak tertutup kemungkinan lima brand retail dari Grup Hero itu juga akan mendorong penjualan online-nya.
Dari kelima brand Grup Hero yakni Giant Ekstra, Giant Express, Hero Supermarket, Guardian, dan IKEA, baru IKEA yang telah menerapkan sistem penjualan online melalui pembukaan IKEA Distribution Point di Bogor dan Bintaro. Guardian juga sedang berfokus pada strategi pemasaran digital, selain terus berekspansi membuka toko baru.
Terkait dengan brand penyedia bahan makanan (groceries store), seperti Giant atau Hero Supermarket, Stephane mengatakan akan berusaha mencari solusi alternatif untuk menjawab kebutuhan konsumen dan menambah keuntungan bagi perusahaan termasuk melalui penjualan online. "Memang sudah ada banyak perubahan di masyarakat bagaimana cara mereka mendapatkan makanan dan minuman saat ini, kami akan menuju ke sana (online), dan tim kami sedang berusaha untuk memberikan solusi itu."
Pada kinerja keuangan semester 1 2017, Stephane melaporkan bisnis makanan masih tetap menjadi tantangan karena kondisi perdagangan yang belum sepenuhnya membaik. "Tapi bisnis non makanan mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan," ucapnya. Penjualan segmen makanan tercatat turun 6,2 persen, sedangkan non makanan tumbuh hingga 12 persen.
Namun, terlepas dari penjualan tersebut, Stephane berujar laba yang dihasilkan hingga semester 1 tahun ini masih lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu mencapai 25,9 persen. "Aktivitas yang kami lakukan untuk menjaga laba di antaranya terus meningkatkan produktivitas toko dan membantu efisiensi biaya operasional," katanya.
Laba bersih yang dicatatkan Grup Hero hingga semester 1 tahun ini mencapai Rp 71 miliar, sedangkan total pendapatan menurun dari sebelumnya Rp 7,2 triliun menjadi Rp 6,9 triliun. "Dari total pendapatan ini 85 persen masih dari Giant dan Hero, sisanya baru dari Guardian dan IKEA," ucap Stephane.
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/909700/persaingan-retail-kian-sengit-begini-strategi-grup-hero#m3JFrUYwuW7qSpO0.99
Sabtu, 16 September 2017 16:49 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha retail mulai menjajaki sistem penjualan online untuk mendorong kinerja dan performa perusahaan. Tak terkecuali PT Hero Supermarket Tbk.
Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk. Stephane Deustch mengatakan pihaknya tak lagi menggunakan pendekatan yang konservatif dalam memenuhi kebutuhan serta pelayanan untuk konsumen. "Tim kami sedang memformulasikan pendekatan yang tepat untuk e-commerce ini,” ujarnya dalam konferensi pers, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat, 15 September 2017.
Pernyataan Stephane menanggapi kian sengitnya persaingan di industri retail belakangan ini. Tak sedikit peretail yang memilih menutup gerai-gerainya yang dianggap tak lagi menguntungkan. “Sekarang sudah ada banyak model yang berkembang di Indonesia. Ada yang berjalan baik dan belum baik juga," ujar Stephane.
Hero, kata Stephane, juga mulai melirik platform penjualan online untuk dikembangkan di kemudian hari. Tak tertutup kemungkinan lima brand retail dari Grup Hero itu juga akan mendorong penjualan online-nya.
Dari kelima brand Grup Hero yakni Giant Ekstra, Giant Express, Hero Supermarket, Guardian, dan IKEA, baru IKEA yang telah menerapkan sistem penjualan online melalui pembukaan IKEA Distribution Point di Bogor dan Bintaro. Guardian juga sedang berfokus pada strategi pemasaran digital, selain terus berekspansi membuka toko baru.
Terkait dengan brand penyedia bahan makanan (groceries store), seperti Giant atau Hero Supermarket, Stephane mengatakan akan berusaha mencari solusi alternatif untuk menjawab kebutuhan konsumen dan menambah keuntungan bagi perusahaan termasuk melalui penjualan online. "Memang sudah ada banyak perubahan di masyarakat bagaimana cara mereka mendapatkan makanan dan minuman saat ini, kami akan menuju ke sana (online), dan tim kami sedang berusaha untuk memberikan solusi itu."
Pada kinerja keuangan semester 1 2017, Stephane melaporkan bisnis makanan masih tetap menjadi tantangan karena kondisi perdagangan yang belum sepenuhnya membaik. "Tapi bisnis non makanan mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan," ucapnya. Penjualan segmen makanan tercatat turun 6,2 persen, sedangkan non makanan tumbuh hingga 12 persen.
Namun, terlepas dari penjualan tersebut, Stephane berujar laba yang dihasilkan hingga semester 1 tahun ini masih lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu mencapai 25,9 persen. "Aktivitas yang kami lakukan untuk menjaga laba di antaranya terus meningkatkan produktivitas toko dan membantu efisiensi biaya operasional," katanya.
Laba bersih yang dicatatkan Grup Hero hingga semester 1 tahun ini mencapai Rp 71 miliar, sedangkan total pendapatan menurun dari sebelumnya Rp 7,2 triliun menjadi Rp 6,9 triliun. "Dari total pendapatan ini 85 persen masih dari Giant dan Hero, sisanya baru dari Guardian dan IKEA," ucap Stephane.
Read more at https://bisnis.tempo.co/read/909700/persaingan-retail-kian-sengit-begini-strategi-grup-hero#m3JFrUYwuW7qSpO0.99
Selasa, 18 Maret 2014
Chanel Tampilkan Tren Mengenakan Busana Mahal ke Supermarket
Jumat, 7 Maret 2014 | 17:39 WIB
KOMPAS.com – Untuk kesekian kalinya, Karl Lagerfeld membuktikan kemahirannya dalam menghadirkan gebrakan di blantika mode dunia. Jika para perancang busana lainnya memilih pentas peraga di dalam dengan konsep minimalis atau futuristik, namun Karl memilih “menyulap” panggung menjadi supermarket untuk memamerkan koleksi busana siap pakai terbaru dari Chanel.
Dekorasi dan interior ditata begitu rinci, lengkap dengan barisan etalase berisi tumpukan botol selai, ragam makanan kaleng, kaviar, hingga buah lemon. Uniknya, semua makanan ini berlabelkan sesuai dengan rumah mode tempat Karl berkarya sebagai Creative Director, Chanel. Agar nuansa supermarket kental terasa, tak tanggung-tanggung mereka menciptakan “500 produk baru”, mulai dari permen hingga deterjen.
Sejumlah model ternama dilibatkan untuk pergeleran Chanel yang unik ini, seperti Cara Delevingne, Sam Rollinson, hingga Kendal Jenner. Mereka melenggang mengenakan busana lansiran teranyar Chanel, sembari seolah-olah tengah berbelanja kebutuhan bulanan. Masing-masing mendorong troli dan keranjang belanja yang diisi berbagai makanan ala Chanel, seperti haute ketchup dan eau de Chanel.
Aksi-aksi teatrikal yang telah berjalan sukses ini, memang merupakan ciri khas perancang yang identik dengan rambut perak yang selalu dikuncir kuda tersebut. Sebelummya, ia mendobrak tatanan adibusana dengan memadukan gaun dan sneakers. Saat itu, Karl menghadirkan gunung es hingga kerajaan bawah laut sebagai dekorasi panggung.
Untuk koleksi busana siap pakainya ini, Karl banyak menghadirkan ragam mantel panjang dan jaket tebal bermaterial tweet, serta sejumlah aksesoris dengan gaya rancang yang memadukan klasik dan modern. Kemudian, salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalan sepatu rajutan cantik nan feminin.
Di akhir peragaan, "supermarket catwalk" ini ditutup dengan pengumuman menggemberikan untuk semua undangan yang hadir, yakni para penonton dapat membawa pulang seluruh produk supermarket Chanel dengan cuma-cuma alias gratis.
http://female.kompas.com/read/2014/03/07/1739487/Chanel.Tampilkan.Tren.Mengenakan.Busana.Mahal.ke.Supermarket
Penulis : Christina Andhika Setyanti
Editor : Syafrina Syaaf
Sumber : metro.co.uk
| gelar busana di supermarket prancis |
KOMPAS.com – Untuk kesekian kalinya, Karl Lagerfeld membuktikan kemahirannya dalam menghadirkan gebrakan di blantika mode dunia. Jika para perancang busana lainnya memilih pentas peraga di dalam dengan konsep minimalis atau futuristik, namun Karl memilih “menyulap” panggung menjadi supermarket untuk memamerkan koleksi busana siap pakai terbaru dari Chanel.
Dekorasi dan interior ditata begitu rinci, lengkap dengan barisan etalase berisi tumpukan botol selai, ragam makanan kaleng, kaviar, hingga buah lemon. Uniknya, semua makanan ini berlabelkan sesuai dengan rumah mode tempat Karl berkarya sebagai Creative Director, Chanel. Agar nuansa supermarket kental terasa, tak tanggung-tanggung mereka menciptakan “500 produk baru”, mulai dari permen hingga deterjen.
Sejumlah model ternama dilibatkan untuk pergeleran Chanel yang unik ini, seperti Cara Delevingne, Sam Rollinson, hingga Kendal Jenner. Mereka melenggang mengenakan busana lansiran teranyar Chanel, sembari seolah-olah tengah berbelanja kebutuhan bulanan. Masing-masing mendorong troli dan keranjang belanja yang diisi berbagai makanan ala Chanel, seperti haute ketchup dan eau de Chanel.
Aksi-aksi teatrikal yang telah berjalan sukses ini, memang merupakan ciri khas perancang yang identik dengan rambut perak yang selalu dikuncir kuda tersebut. Sebelummya, ia mendobrak tatanan adibusana dengan memadukan gaun dan sneakers. Saat itu, Karl menghadirkan gunung es hingga kerajaan bawah laut sebagai dekorasi panggung.
Untuk koleksi busana siap pakainya ini, Karl banyak menghadirkan ragam mantel panjang dan jaket tebal bermaterial tweet, serta sejumlah aksesoris dengan gaya rancang yang memadukan klasik dan modern. Kemudian, salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalan sepatu rajutan cantik nan feminin.
Di akhir peragaan, "supermarket catwalk" ini ditutup dengan pengumuman menggemberikan untuk semua undangan yang hadir, yakni para penonton dapat membawa pulang seluruh produk supermarket Chanel dengan cuma-cuma alias gratis.
http://female.kompas.com/read/2014/03/07/1739487/Chanel.Tampilkan.Tren.Mengenakan.Busana.Mahal.ke.Supermarket
Penulis : Christina Andhika Setyanti
Editor : Syafrina Syaaf
Sumber : metro.co.uk
Senin, 10 Februari 2014
Windows XP Berakhir, Bahaya Mengancam Mesin Kasir
KOMPAS.com - Selain mesin ATM, salah satu jenis perangkat
keuangan lainnya yang ikut terancam dengan penghentian dukungan atas Windows XP
adalah mesin kasir. Mayoritas alat yang biasa ditemui di toko-toko ritel besar
ini memang turut menggunakan sistem operasi lawas tersebut.
Tepatnya, OS yang dijalankan adalah Windows XP versi embedded yang dirancang untuk alat-alat selain PC, termasuk juga mesin ATM. Firma keamanan Symantec memperingatkan bahwa perangkat mesin kasir atau pont-of-sale (POS) yang berbasis sistem operasi lawas tersebut memiliki risiko keamanan.
"(Dihentikannya dukungan Microsoft terhadap Windows XP) Akan berakibat pada meningkatnya peluang serangan cyber yang berhasil dilakukan terhadap operator POS. Operator POS harus memiliki perencanaan untuk mengantisipasi deadline tersebut," tulis Symantec dalam sebuah laporan sepanjang 12 halaman yang dikutip oleh PCWorld.
Risiko serangan itu sangat nyata. Serangan cyber terhadap toko ritel pun sudah pernah terjadi, misalnya kejadian besar yang menimpa sistem milik jaringan ritel Target dan Neiman Marcus di Amerika Serikat baru-baru ini.
Dalam kasus tersebut, hacker menyusupkan malware yang menyadap data kartu kredit pelanggan. Sebanyak 40 juta rekaman kartu kredit yang tersimpan di sistem Target, berikut 70 juta rekaman lainnya, berhasil dilacak penjahat cyber. Ini adalah salah satu kasus pembobolan data terbesar yang pernah terjadi.
Symantec menjelaskan, peretas dapat dengan mudah memodifikasi malware Windows yang sudah ada untuk menyerang terminal mesin kasir, karena mesin itu pun menggunakan sistem operasi serupa. "Ini berarti penyerang tak perlu kemampuan khusus untuk meretas sistem POS."
Orila Cox, manajer senior di Security Intelligence Delivery Symantec, menjelaskan bahwa pencurian data kartu kredit kemungkinan akan terus terjadi karena data kartu yang dicuri memiliki "keterbatasan masa berlaku".
"Perusahaan kartu kredit bisa dengan cepat mengendus adanya transaksi tak wajar, begitu pula dengan pemilik kartu yang awas," ujar Cox. "Ini berarti para pelaku kriminal membutuhkan aliran nomer kartu kredit yang 'segar' secara terus menerus."
Tepatnya, OS yang dijalankan adalah Windows XP versi embedded yang dirancang untuk alat-alat selain PC, termasuk juga mesin ATM. Firma keamanan Symantec memperingatkan bahwa perangkat mesin kasir atau pont-of-sale (POS) yang berbasis sistem operasi lawas tersebut memiliki risiko keamanan.
"(Dihentikannya dukungan Microsoft terhadap Windows XP) Akan berakibat pada meningkatnya peluang serangan cyber yang berhasil dilakukan terhadap operator POS. Operator POS harus memiliki perencanaan untuk mengantisipasi deadline tersebut," tulis Symantec dalam sebuah laporan sepanjang 12 halaman yang dikutip oleh PCWorld.
Risiko serangan itu sangat nyata. Serangan cyber terhadap toko ritel pun sudah pernah terjadi, misalnya kejadian besar yang menimpa sistem milik jaringan ritel Target dan Neiman Marcus di Amerika Serikat baru-baru ini.
Dalam kasus tersebut, hacker menyusupkan malware yang menyadap data kartu kredit pelanggan. Sebanyak 40 juta rekaman kartu kredit yang tersimpan di sistem Target, berikut 70 juta rekaman lainnya, berhasil dilacak penjahat cyber. Ini adalah salah satu kasus pembobolan data terbesar yang pernah terjadi.
Symantec menjelaskan, peretas dapat dengan mudah memodifikasi malware Windows yang sudah ada untuk menyerang terminal mesin kasir, karena mesin itu pun menggunakan sistem operasi serupa. "Ini berarti penyerang tak perlu kemampuan khusus untuk meretas sistem POS."
Orila Cox, manajer senior di Security Intelligence Delivery Symantec, menjelaskan bahwa pencurian data kartu kredit kemungkinan akan terus terjadi karena data kartu yang dicuri memiliki "keterbatasan masa berlaku".
"Perusahaan kartu kredit bisa dengan cepat mengendus adanya transaksi tak wajar, begitu pula dengan pemilik kartu yang awas," ujar Cox. "Ini berarti para pelaku kriminal membutuhkan aliran nomer kartu kredit yang 'segar' secara terus menerus."
Sumber: PCWorld
Editor: Reza Wahyudi
Editor: Reza Wahyudi
http://tekno.kompas.com/read/2014/02/08/1355307/Windows.XP.Berakhir.Bahaya.Mengancam.Mesin.Kasir
Label:
Ritail Strategi
Minggu, 15 Desember 2013
Kelas Menengah dan Geliat Sektor Konsumsi
Lembaga riset AC Nielsen memperkirakan, masyarakat kelas
menengah di Asia Tenggara akan tumbuh 110,5% dari 190 juta orang pada 2012
menjadi 400 juta orang pada 2020 dengan Indonesia sebagai kontributor
pertumbuhan tertinggi.
Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%. Hasil survei AC Nielsen menunjukkan 48% dari total belanja fast moving consumer goods (FMCG) berasal dari masyarakat kelas menengah. Sejalan dengan Nielsen, survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia periode Oktober 2013 mulai menguat ke level 109,5 setelah mengalami tren perlambatan selama tiga bulan terakhir pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 lalu.
IKK Indonesia pada Juli 2013 berada pada level 108,4, turun cukup signifikan dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 117,1. Hal tersebut mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan permintaan dari sisi rumah tangga. Namun demikian, IKK tersebut masih berada pada level optimistis.
Sementara itu, survei penjualan eceran yang dilakukan BI juga menunjukkan indeks penjualan riil Oktober 2013 diperkirakan mulai naik kembali setelah dua bulan sebelumnya mengalami penurunan. Meskipun mengalami penurunan, indeks penjualan riil Agustus dan September 2013 masih lebih tinggi dibandingkan posisi Agustus dan September 2012.
Dari ketiga survei tersebut di atas tampak terlihat dengan jelas adanya kaitan erat antara jumlah kelas menengah di Indonesia yang terus tumbuh dan meningkatnya sektor konsumsi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, pada 2013 ini, omzet ritel modern diperkirakan tumbuh 10% - 11%, dengan total penjualan mencapai Rp150 triliun. Pertumbuhan sektor ritel pada 2014 diperkirakan meningkat dari tahun ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik.
Faktor lain yang diperkirakan banyak mendorong permintaan sektor ritel adalah adanya agenda nasional, yaitu hajatan Pemilu 2014. Pemilu akan memberikan dampak positif terhadap consumer spending seiring dengan meningkatnya perputaran uang masa itu. Dalam hal ini, konsumsi masyarakat cenderung meningkat sejak kuartal pertama di tahun dan sepanjang periode Pemilu 2014, kemudian melambat di kuartal berikutnya.
Tujuan Investasi Ritel AT Kearney’s Global Retail Development Index (GRDI) menempatkan Indonesia pada peringkat 19 negara berkembang untuk tujuan investasi ritel. Negara-negara Asia yang masuk dalam Top 30 GRDI, antara lain, Tiongkok (4), Malaysia (13), dan India (peringkat 14).
Menyadari besarnya potensi pasar ritel Indonesia, banyak pemain asing yang tertarik masuk dalam bisnis ini. Beberapa peritel asing yang cukup agresif berekspansi, yakni Carrefour (Prancis), Giant (Malaysia), Lotte (Korea Selatan), 7-Eleven (AS), Circle K (AS), dan Sogo (Jepang). Peritel asing diperkirakan masih akan terus membanjiri pasar Indonesia jika melihat proyeksi pertumbuhan kelas menengah dan daya beli konsumen lokal yang terus meningkat.
Dilihat dari sisi pasar modal, consumer sector juga masih dipandang menarik bagi para investor. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sektoral sepanjang tahun ini yang mencatat sektor industri barang konsumsi adalah yang paling tinggi di antara sektor-sektor lainnya. Per akhir November 2013, indeks harga saham sektoral untuk sektor industri barang konsumsi tumbuh sebesar 12,3% year to date (YTD), sementara IHSG malah turun 1,4%YTD.
Pertumbuhan ritel modern terutama terjadi pada format minimarket, convenience store, dan hypermarket. Shareperdagangan FMCG minimarket mengalami kenaikan tertinggi, yaitu dari 5% pada 2002 menjadi 21% pada 2011. Format minimarket, termasuk convenience store, mengalami perkembangan yang sangat pesat, didorong oleh ekspansi usaha Alfamart dan Indomaret yang menguasai sekitar 88% pangsa pasar pada format ini.
Menurut proyeksi Euromonitor, penjualan minimarket diperkirakan tumbuh rata-rata 16% per tahun pada 2013-2015. Penjualan hypermarket diperkirakan tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015. Carrefour masih mendominasi pasar hypermarket meskipun pangsanya mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, diambil oleh Hypermartdan Giant. Penjualan department store diperkirakan juga tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015.
Sementara itu, pangsa pasar supermarket dalam format ritel modern terus mengalami penurunan, dipengaruhi oleh beralihnya preferensi konsumen ke format ritel modern lainnya, terutama minimarket/convenience store danhypermarket.
Rencana ekspansi beberapa perusahaan ritel modern tahun 2013 cukup pesat. Hal tersebut menyebabkan persaingan usaha yang semakin ketat, baik dalam suatu format ritel maupun antarformat ritel. Persaingan juga dapat menyebabkan munculnya fenomena kanibalisme dalam industri ritel. Ekspansi dan persaingan paling ketat diperkirakan terjadi pada format minimarket. Tantangan Pasar Ritel Meskipun potensi pasar ritel masih menjanjikan, tantangan yang dihadapi sektor ini juga semakin besar.
Selain dari sisi persaingan, biaya operasional yang dihadapi peritel meningkat. Regulasi pemerintah, baik pusat maupun daerah juga semakin ketat. Biaya tenaga kerja, sewa gedung, dan listrik merupakan porsi terbesar dalam struktur biaya operasional peritel (60%-80%), dengan biaya tenaga kerja berkontribusi sekitar 30%-40% sendiri. Tarif sewa ruang ritel di kota besar seperti Jakarta mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2013.
Demikian juga dengan service charge ruang ritel, terkait kenaikan tarif dasar listrik dan UMP. Sementara itu, persaingan yang ketat seringkali juga mendorong naiknya biaya iklan dan promosi. Untuk peritel yang menjual produk dengan import content tinggi, fluktuasi rupiah menjadi concern mengingat rupiah memang tertekan tahun ini.
Tantangan lain yakni terkait regulasi. Pada 2012 lalu, Kementerian Perdagangan merilis revisi aturan penyelenggaraan waralaba melalui Permendag No 68/M-DAG/PER/ 10/2012 tentang waralaba untuk jenis usaha toko modern. Dalam regulasi ini, pemberi waralaba dan penerima waralaba untuk jenis usaha toko modern dapat mendirikan gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri paling banyak 150 gerai.
Para pelaku usaha dapat memahami spirit positif kebijakan tersebut. Namun demikian, beberapa pihak masih melihat adanya celah ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi implementasi kebijakan ini di lapangan. Sebut saja, misalnya, indikasi belum terbentuknya tim penilai yang akan menentukan apakah suatu perusahaan dapat dikecualikan dari peraturan tersebut.
Nadia Kusuma Dewi
Analis industri PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk
Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%. Hasil survei AC Nielsen menunjukkan 48% dari total belanja fast moving consumer goods (FMCG) berasal dari masyarakat kelas menengah. Sejalan dengan Nielsen, survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia periode Oktober 2013 mulai menguat ke level 109,5 setelah mengalami tren perlambatan selama tiga bulan terakhir pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 lalu.
IKK Indonesia pada Juli 2013 berada pada level 108,4, turun cukup signifikan dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 117,1. Hal tersebut mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan permintaan dari sisi rumah tangga. Namun demikian, IKK tersebut masih berada pada level optimistis.
Sementara itu, survei penjualan eceran yang dilakukan BI juga menunjukkan indeks penjualan riil Oktober 2013 diperkirakan mulai naik kembali setelah dua bulan sebelumnya mengalami penurunan. Meskipun mengalami penurunan, indeks penjualan riil Agustus dan September 2013 masih lebih tinggi dibandingkan posisi Agustus dan September 2012.
Dari ketiga survei tersebut di atas tampak terlihat dengan jelas adanya kaitan erat antara jumlah kelas menengah di Indonesia yang terus tumbuh dan meningkatnya sektor konsumsi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, pada 2013 ini, omzet ritel modern diperkirakan tumbuh 10% - 11%, dengan total penjualan mencapai Rp150 triliun. Pertumbuhan sektor ritel pada 2014 diperkirakan meningkat dari tahun ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik.
Faktor lain yang diperkirakan banyak mendorong permintaan sektor ritel adalah adanya agenda nasional, yaitu hajatan Pemilu 2014. Pemilu akan memberikan dampak positif terhadap consumer spending seiring dengan meningkatnya perputaran uang masa itu. Dalam hal ini, konsumsi masyarakat cenderung meningkat sejak kuartal pertama di tahun dan sepanjang periode Pemilu 2014, kemudian melambat di kuartal berikutnya.
Tujuan Investasi Ritel AT Kearney’s Global Retail Development Index (GRDI) menempatkan Indonesia pada peringkat 19 negara berkembang untuk tujuan investasi ritel. Negara-negara Asia yang masuk dalam Top 30 GRDI, antara lain, Tiongkok (4), Malaysia (13), dan India (peringkat 14).
Menyadari besarnya potensi pasar ritel Indonesia, banyak pemain asing yang tertarik masuk dalam bisnis ini. Beberapa peritel asing yang cukup agresif berekspansi, yakni Carrefour (Prancis), Giant (Malaysia), Lotte (Korea Selatan), 7-Eleven (AS), Circle K (AS), dan Sogo (Jepang). Peritel asing diperkirakan masih akan terus membanjiri pasar Indonesia jika melihat proyeksi pertumbuhan kelas menengah dan daya beli konsumen lokal yang terus meningkat.
Dilihat dari sisi pasar modal, consumer sector juga masih dipandang menarik bagi para investor. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sektoral sepanjang tahun ini yang mencatat sektor industri barang konsumsi adalah yang paling tinggi di antara sektor-sektor lainnya. Per akhir November 2013, indeks harga saham sektoral untuk sektor industri barang konsumsi tumbuh sebesar 12,3% year to date (YTD), sementara IHSG malah turun 1,4%YTD.
Pertumbuhan ritel modern terutama terjadi pada format minimarket, convenience store, dan hypermarket. Shareperdagangan FMCG minimarket mengalami kenaikan tertinggi, yaitu dari 5% pada 2002 menjadi 21% pada 2011. Format minimarket, termasuk convenience store, mengalami perkembangan yang sangat pesat, didorong oleh ekspansi usaha Alfamart dan Indomaret yang menguasai sekitar 88% pangsa pasar pada format ini.
Menurut proyeksi Euromonitor, penjualan minimarket diperkirakan tumbuh rata-rata 16% per tahun pada 2013-2015. Penjualan hypermarket diperkirakan tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015. Carrefour masih mendominasi pasar hypermarket meskipun pangsanya mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, diambil oleh Hypermartdan Giant. Penjualan department store diperkirakan juga tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015.
Sementara itu, pangsa pasar supermarket dalam format ritel modern terus mengalami penurunan, dipengaruhi oleh beralihnya preferensi konsumen ke format ritel modern lainnya, terutama minimarket/convenience store danhypermarket.
Rencana ekspansi beberapa perusahaan ritel modern tahun 2013 cukup pesat. Hal tersebut menyebabkan persaingan usaha yang semakin ketat, baik dalam suatu format ritel maupun antarformat ritel. Persaingan juga dapat menyebabkan munculnya fenomena kanibalisme dalam industri ritel. Ekspansi dan persaingan paling ketat diperkirakan terjadi pada format minimarket. Tantangan Pasar Ritel Meskipun potensi pasar ritel masih menjanjikan, tantangan yang dihadapi sektor ini juga semakin besar.
Selain dari sisi persaingan, biaya operasional yang dihadapi peritel meningkat. Regulasi pemerintah, baik pusat maupun daerah juga semakin ketat. Biaya tenaga kerja, sewa gedung, dan listrik merupakan porsi terbesar dalam struktur biaya operasional peritel (60%-80%), dengan biaya tenaga kerja berkontribusi sekitar 30%-40% sendiri. Tarif sewa ruang ritel di kota besar seperti Jakarta mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2013.
Demikian juga dengan service charge ruang ritel, terkait kenaikan tarif dasar listrik dan UMP. Sementara itu, persaingan yang ketat seringkali juga mendorong naiknya biaya iklan dan promosi. Untuk peritel yang menjual produk dengan import content tinggi, fluktuasi rupiah menjadi concern mengingat rupiah memang tertekan tahun ini.
Tantangan lain yakni terkait regulasi. Pada 2012 lalu, Kementerian Perdagangan merilis revisi aturan penyelenggaraan waralaba melalui Permendag No 68/M-DAG/PER/ 10/2012 tentang waralaba untuk jenis usaha toko modern. Dalam regulasi ini, pemberi waralaba dan penerima waralaba untuk jenis usaha toko modern dapat mendirikan gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri paling banyak 150 gerai.
Para pelaku usaha dapat memahami spirit positif kebijakan tersebut. Namun demikian, beberapa pihak masih melihat adanya celah ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi implementasi kebijakan ini di lapangan. Sebut saja, misalnya, indikasi belum terbentuknya tim penilai yang akan menentukan apakah suatu perusahaan dapat dikecualikan dari peraturan tersebut.
Nadia Kusuma Dewi
Analis industri PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk
Ambisi Watsons Menjadi Ritel No.1 di Asia
Pembukaan “Watsons WOW Store” pada hari Kamis, 19 September
2013 di Mal Pondok Indah dan Mal Kelapa Gading ini merupakan wujud nyata
komitmen Watsons, untuk menjadi perusahaan ritel yang terbaik. Khususnya untuk
produk-produk kategori kecantikan dan kesehatan (Health and Beauty), di mana
dengan konsep WOW ini, Watsons Indonesia di harapkan dapat meningkatkan
pelayanan dan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi para pelanggan.
Konsep Watsons Wow Store ini merupakan pilot project (inovasi
baru) yang dijalankan Watsons Indonesia dalam pelayanannya terhadap pelanggan,
dimana konsep ini juga akan diterapkan disetiap toko ritel Watsons diseluruh
Indonesia.
Watsons adalah retailer produk kesehatan dan kecantikan
terkemuka di Asia yang sekarang mengoperasikan 3.500 toko ritel dan 900 lebih
toko ritel farmasi di pasar Asia dan Eropa, termasuk China (China, Hongkong,
Taiwan dan Makau), Singapura, Thailand, Malaysia, Fhilipina, Korea, Indonesia,
Turki, dan Ukraina.
Perusahaan ini merupakan bagian dari A.S Watsons Group, salah
satu grup terbesar di Hong Kong dengan brand Watsons yaitu your personal
store. Saat ini, di Indonesia sudah ada 25 toko dan pada akhir tahun jumlah
toko menjadi 33.
Berikut hasil wawancara reporter SWA, Nidaaul Khasanah
dengan Kyutae Park, Country Manager Watsons Indonesia, eksekutif
berkebangsaan Korea yang lahir tahun 1971. Kyutae Park memiliki hobi berenang,
menonton film, dan menghabiskan waktunya dengan 2 orang anaknya. Pria ini juga
lulusan Master Business Administration di salah satu universitas di Korea.
Apa tujuan launching outlet Watson?
Tujuan dari diresmikannya Watsons ini adalah untuk
meningkatkan brand awarness pada target market yang dituju, serta
diharapkan dapat meningkatkan penjualan.
Apa yang menarik dari perusahaan ini?
Saya sangat tertarik di perusahaan ini. Karena spesial dalam
kesehatan dan kecantikan. Biasanya konsumen yang datang wanita yang lebih tua
dan menggunakan produk kami, kamu juga dapat melihat semakin banyak merek kami
yang membantu para wanita yang membuat mereka lebih cantik.
Apa perbedaan dengan toko retail lainnya?
Kami selalu mencoba berkreasi suasana berbelanja dengan
lebih banyak produk. Itu konsep kami. Kami akan memberikan pelayanan yang
sangat baik, dibanding kompetitor lainnya.
Siapa target pasar yang dituju?
Fokus kami memang perempuan tapi juga pria yang
metroseksual. Di negara lain banyak produk untuk laki-laki, di Indonesia juga
ada produk-produk Watsons untuk pria.
Pabrik dari produk-produk Watsons di mana saja?
Merek kami dari seluruh dunia. Kamu dapat menemukan banyak
pabrik di Korea, Thailand, China, India, Indonesia, Eropa, dan Malaysia.
Apa tanggung jawab Anda sebagai Country Manager?
Tanggung jawab saya mensukseskan pengembangan bisnis Watsons
di Indonesia.
Mempunyai berapa karyawan di Indonesia?
Sejauh ini 350 karyawan. Setiap bulannya bertambah 30 orang
kayawan. Kami ingin terus bertambah setiap bulan. Setiap hari menerima banyak
karyawan. Saya percaya ekspensi Watsons ikut berkontribusi dalam bidang
ekonomi. Saya membutuhkan lebih dari 1.000 karyawan.
Prestasi apa yang pernah didapat?
Selama ini saya hanya fokus pada bisnis. Saya adalah orang
yang meningkatkan promosi. Hal yang paling penting mendapatkan cinta dari
konsumen.
Tantangan apa yang Anda alami?
Saya rasa tidak punya tantangan karena ini bukan kompetisi.
Saya rasa ini proses yang natural. Kamu bisa melihat kompetisi dimana saja di
dunia.
Apa suka dan duka yang pernah dialami?
Saya kebanyakan sukanya. Saya enjoy tinggal di
Jakarta.
Apa rencana Anda ke depan?
Untuk sekarang market retail di Indonesia, saya memiliki
rencana ekspresif yang sangat agresif. Saya akan membuka toko setiap bulan.
Bulan depan kami akan membuka peluncuran toko. Di Cilegon, Cipinang Indah, dan
Cibinong. Pada saat ini Watsons Indonesia telah mempunyai 25 toko retail yang
tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bandung. Pada bulan
September ini akan membuka satu toko retail di wilayah Cibubur. Ditahun 2013
menargetkan lebih dari 33 tahun 2014 akan nambah 30 toko retail dan masih
akan terus bertambah. Saya ingin lebih 200 toko untuk 3-4 tahun ke depan.
Apa ambisi Anda ke depan?
Ambisi saya adalah Watsons menjadi market retail no 1 di
Asia. Seperti halnya di China Maalysia, Singapura, dan Thailand, ketika kita
kesana kita menemukan Watsons. (Nidaaul Khasanah)
Survei Kantar Worldpanel: 49,8% Konsumen Split Loyal terhadap Produk FMCG
Kenaikan harga BBM dan melemahnya nilai rupiah terhadap
dolar AS berdampak terhadap kinerja industri fast moving consumer goods
(FMCG). Apalagi hal ini diikuti pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini
diperkirakan hanya menyentuh 5,7% dan di bawah target 6%, akan berdampak
terhadap seluruh industri. Salah satunya adalah industri FMCG.
Berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan riset Kantar
Worldpanel terhadap 7 ribu rumah tangga untuk 70 kategori produk FMCG (produk
makanan ataupun non-makanan) setiap minggu di Indonesia, tentang tren perilaku
konsumen Indonesia, ternyata ada empat tipe loyalitas pelanggan di Indonesia,
yakni 100% Loyals, Shifting Loyals (loyalitas di antara dua pilihan merek),
Split Loyals, dan Switcher (yang suka gonta-ganti merek).
“Sebanyak 49,8% konsumen Indonesia masuk ke dalam golongan
Split Loyal. Sisanya tipe Loyals (20,7%), Shifting Loyals (18,2%) dan Switchers
(11,3%),” kata Andrew Foster, Expert Service Director, Regional
Centre of Excellence Kantar WorldPanel Asia.
Untuk produk mie instan misalnya, tipe pelanggan Split
Loyals justru mendominasi, dengan angka 76,1%, sedangkan Switchers 19,4%,
Shifting Loyals 2,5%, dan 100% loyals hanya 2,1%. Begitu juga untuk kategori
kopi instan, tipe Split Loyals dan Switchers sangat mendominasi. Split Loyals
mencapai 50,2% dan Switchers mencapai 44,9%. Sisanya, Shifting Loyals 3% dan
100% Loyals yang hanya 1,9%.
Sedangkan untuk kategori susu bubuk pertumbuhan, 100% Loyals
mencapai 39,6%, Split Loyals mencapai 35,9%, dan Shifting Loyals sekitar
23,6%. Angka tersebut berbeda dengan kategori susu kental, yang justru
jumlah Split Loyals-nya mencapai 50,8%. Sedangkan untuk katagori laundry
detergent, pelanggan terbanyak datang dari mereka yang Split Loyals, mencapai
70%, begitu juga untuk katagori pasta gigi, Split Loyals mencapai 47,6%, dan
100% Loyals mencapai 31,6%, dan Shifting Loyals mencapai 20,5%.
Diakui Fabrice Carrasco, Managing Director
Indonesia-Vietnam-Philippines Kantar WorldPanel (KWP), sebagian besar
masyarakat Indonesia memiliki perilaku konsumtif dan menyukai barang-barang
baru. Bahkan rela untuk menghabiskan sebagian pendapatan mereka untuk membeli
produk baru yang sedang tren. “Di negara lain hanya ditopang kinerja ekspor
maupun belanja pemerintah namun di Indonesia pada konsumsi domestik. Saya
menyarankan pemerintah terus menjaga pertumbuhan konsumsi agar tidak mengalami
penurunan,” tambahnya.
Lim Soon Lee, GM Kantar Worldpanel Indonesia,
menambahkan kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu membuat beban
pengeluaran rumah tangga di Indonesia menjadi bertambah. Hal ini memberikan
pengaruh terhadap pembelanjaan mereka pada produk-produk FMCG seperti makanan,
minuman, perawatan tubuh, dan perawatan rumah tangga. Namun konsumsi domestik
tidak anjlok pertumbuhannya karena pemerintah sudah memberikan program
kompensasi. Tapi, kenyataannya, konsumen Indonesia hampir selalu bisa
beradaptasi dalam keadaan sulit. “Beberapa brand baru produk FMCG justru
mengalami kenaikan yang signifikan setelah pertama kali dilaunching di
pasaran,” ujar Soon Lee.
Menurut Nadya Ardianti, Account Director Kantar Worldpanel
Indonesia, di tengah ramainya perusahaan-perusahaan FMCG menawarkan produk
dengan ukuran kecil (sachet), produk kemasan besar menawarkan potensi yang
besar dalam meningkatkan tingkat konsumsi konsumen Indonesia. Produk dalam
kemasan sachet memang belum bisa digantikan peranannya, khususnya dalam menarik
konsumen baru agar mencoba suatu brand. Namun, para pelaku bisnis FMCG mau
tidak mau harus keluar dari bayang-bayang kemasan sachet untuk dapat
meningkatkan tingkat konsumsi dari konsumen di Indonesia. (EVA)
PENGAMAT PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2014 ENAM PERSEN
Oleh Cipto - Rubrik Ekonomi Bisnis
05 September 2013 10:01:00 WIB
WE.CO.ID - Pengamat ekonomi Hendri Saparini memprediksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 sebesar enam persen, hampir sama dengan
pemerintah yang telah merevisi ke bawah asumsi pertumbuhan ekonomi dari 6,4
persen menjadi 5,9-6,1 persen.
"Pertumbuhan ekonomi 2014 tidak akan jauh dari pertumbuhan ekonomi 2013, sekitar enam persen," ujar Hendri saat rapat dengar pendapat umum dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Rabu (4/9/2013).
Menurut Hendri, kondisi eksternal masih akan berpengaruh terhadap perekonomian di Tanah Air pada 2014 namun diperkirakan akan relatif lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi 2013.
"Pada saat Amerika mengurangi stimulusnya akan berdampak bagi indonesia baik di sektor keuangan maupun non keuangan," kata Hendri.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor Indonesia juga akan mengalami perbaikan sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan kembali ekspor.
"Sayang China dan Jepang tidak akan ada peningkatan yang signifikan padahal ekspor kita lebih dari 50 persen ke sana," ujarnya.
Namun Hendri menuturkan, kendati nanti sejumlah negara tujuan ekspor Indonesia mengalami perbaikan namun umumnya permintaan yang dibutuhkan negara-negara tersebut yakni barang jadi, sementara Indonesia sebagian besar mengekspor bahan baku dan energi.
"Ekspor kita 60-70 persen itu energi dan bahan baku. Kalau mau mendorong ekspor apakah ada pasar baru. Berbeda dengan China yang 90 persen ekspornya barang jadi," kata Hendri. (Ant)
Redaksi
"Pertumbuhan ekonomi 2014 tidak akan jauh dari pertumbuhan ekonomi 2013, sekitar enam persen," ujar Hendri saat rapat dengar pendapat umum dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Rabu (4/9/2013).
Menurut Hendri, kondisi eksternal masih akan berpengaruh terhadap perekonomian di Tanah Air pada 2014 namun diperkirakan akan relatif lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi 2013.
"Pada saat Amerika mengurangi stimulusnya akan berdampak bagi indonesia baik di sektor keuangan maupun non keuangan," kata Hendri.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor Indonesia juga akan mengalami perbaikan sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan kembali ekspor.
"Sayang China dan Jepang tidak akan ada peningkatan yang signifikan padahal ekspor kita lebih dari 50 persen ke sana," ujarnya.
Namun Hendri menuturkan, kendati nanti sejumlah negara tujuan ekspor Indonesia mengalami perbaikan namun umumnya permintaan yang dibutuhkan negara-negara tersebut yakni barang jadi, sementara Indonesia sebagian besar mengekspor bahan baku dan energi.
"Ekspor kita 60-70 persen itu energi dan bahan baku. Kalau mau mendorong ekspor apakah ada pasar baru. Berbeda dengan China yang 90 persen ekspornya barang jadi," kata Hendri. (Ant)
Redaksi
World Bank: Ekonomi Indonesia 2014 akan melemah
PREDIKSI EKONOMI
Oleh Margareta Engge Kharismawati - Jumat, 04 Oktober
2013 | 11:24 WIB
JAKARTA. World Bank atawa Bank Dunia melihat pasar
internasional masih akan tetap bergejolak meskipun perekonomian beberapa negara
maju mulai pulih. Karenanya, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi
Indonesia di tahun 2014 mengalami pelemahan ke 5,3%.
Asal tahu saja, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyepakati pertumbuhan ekonomi tahun depan di level 6%.
"Kepercayaan investor di Indonesia kini tengah diuji, meskipun besarnya pasar domestik dan potensi yang dimiliki negara ini masih sangat atraktif," ujar Jim Brumby, Ekonom Utama Bank Dunia di Jakarta, Jumat (4/10).
Tahun depan Indonesia masih mengalami risiko-risiko dalam negeri yang bersumber dari kenaikan harga, suku bunga yang lebih tinggi, dan dampak negatif harga saham terhadap kegiatan investasi.
Perlambatan ini memang dibebani oleh dampak kumulatif pelemahan harga-harga komoditas utama yang telah berlangsung sejak tahun 2011.
Namun, apabila ada perkembangan positif dari ekonomi China di tahun depan, kemungkinan dapat meningkatkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Asal tahu saja, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyepakati pertumbuhan ekonomi tahun depan di level 6%.
"Kepercayaan investor di Indonesia kini tengah diuji, meskipun besarnya pasar domestik dan potensi yang dimiliki negara ini masih sangat atraktif," ujar Jim Brumby, Ekonom Utama Bank Dunia di Jakarta, Jumat (4/10).
Tahun depan Indonesia masih mengalami risiko-risiko dalam negeri yang bersumber dari kenaikan harga, suku bunga yang lebih tinggi, dan dampak negatif harga saham terhadap kegiatan investasi.
Perlambatan ini memang dibebani oleh dampak kumulatif pelemahan harga-harga komoditas utama yang telah berlangsung sejak tahun 2011.
Namun, apabila ada perkembangan positif dari ekonomi China di tahun depan, kemungkinan dapat meningkatkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Asalkan Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan
menguatnya perdagangan global dan pergerakan investasi," tandas Jim.
Defisit neraca perdagangan sendiri diproyeksi Bank Dunia berada di level 2,6% dari PDB pada 2014.
Adapun untuk tahun 2013 ini, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6%. Prediksi ini lebih rendah dibanding proyeksi ADB yang mengatakan Indonesia di tahun ini tumbuh 5,7%.
Defisit neraca perdagangan sendiri diproyeksi Bank Dunia berada di level 2,6% dari PDB pada 2014.
Adapun untuk tahun 2013 ini, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6%. Prediksi ini lebih rendah dibanding proyeksi ADB yang mengatakan Indonesia di tahun ini tumbuh 5,7%.
Transaksi Kartu Debit Diyakini Bakal Salip Kartu Kredit
Penulis :
Sakina Rakhma Diah Setiawan
Sabtu, 14 Desember 2013 | 14:31 WIB
| ilustrasi/kompas |
BOGOR, KOMPAS.com — Pertumbuhan transaksi masyarakat, khususnya belanja, dengan menggunakan kartu debit diyakini oleh perbankan akan lebih banyak dibandingkan kartu kredit. GM Product Management Division Consumer and Retail Banking PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Dodit W Probojakti mengatakan, selama ini banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui kartu debit hanya berfungsi untuk tarik tunai. Padahal, ada manfaat lebih yang ditawarkan.
"Orang Indonesia lebih banyak pakai kartu kredit untuk belanja. Mereka masih lebih senang pakai kartu kredit. Fenomena ini akan terbalik. Kartu debit tidak hanya untuk mengambil tunai, tapi bisa juga untuk belanja," kata Dodit dalam BNI Media Gathering di Bogor, Jumat (13/12/2013) malam.
Menurut Dodit, kartu debit mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhannya mencapai 31 persen. Adapun volume transaksinya mencapai Rp 145,7 triliun secara nasional.
Untuk perseroan sendiri, kata Dodit, kartu debit BNI memperoleh market share sebesar 4,5 persen. Perbankan di Indonesia yang memiliki fasilitas kartu debit sebanyak 55 bank. Dengan jumlah itu, ia mengatakan market share juga tetap sekitar 3 persen.
"Pertumbuhan kita 43,3 persen, di atas industri yang 37 persen," ujarnya.
"Transaksi kartu debit akan mengalahkan kartu kredit. Debit is the new credit in Indonesiakarena pertumbuhannya luar biasa. Tiga sampai 4 tahun lagi akan kesalip. Jumlah transaksinya dalam setahun mencapai 243 juta," tambahnya.
Editor : Caroline Damanik
Sabtu, 23 November 2013
8 Jurus jitu mengelola Minimarket
Pebisnis minimarket independent, mereka sering mengatakan jurus kami adalah nekat. Yang penting berani buka dan bersaing. Akhirnya setalah beberapa tahun membuka gerai meraka lantas putus asa dan terjebak dengan rutinitas.
Berikut beberapa hal yang bisa kami share untuk kalangan pebisnis independent secara singkat
Berikut beberapa hal yang bisa kami share untuk kalangan pebisnis independent secara singkat
- Segmentasi, Targeting, dan positioning
- Pemilihan lokasi
- Perencanaan Inventrory
- Penentuan harga
- Pengaturan desain dan penataan ruangan
- penciptaan suasana
- stategi promosi
- layanan dan jasa
untuk lebih lengkapnya silahkan hubungi kami untuk pendampingan mangement operatiosional dan training yang lainnya
Noor Rakhman Erwiyanto
Jumat, 22 November 2013
Multipolar Catat Laba Rp1,598 Triliun
Jum'at, 30 Agustus 2013 13:20 wib
Rizkie Fauzian - Okezone
JAKARTA - PT Multipolar Tbk (MLPL) membukukan laba bersih
pada semester pertama 2013 sebesar Rp1,598 triliun dibandingkan dengan
sebelumnya pada periode sama tahun lalu sebesar Rp92 miliar. Peningkatan
tersebut berasal dari keuntungan penjualan 4,4 persen saham pada Maret 2013
sebesar Rp1,243 triliun.
Seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (30/8/2013), perseroan meraih kenaikan sebesar 23 persen untuk penjualan bersih sebesar Rp2,741 miliar dari Rp2,226 triliun.Penjualan kotor sebesar Rp5,160 triliun pada semester pertama 2013 atau naik 20 persen dari Rp4,320 triliun pada tahun lalu.
Presiden Direktur MLPL, Eddy Handoko mengatakan pada semester pertama 2013 merupakan tonggak penting bagi perseroan karena berhasil menaikan pendapatan secara signifikan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham.
"Investasi strategis kami di sektor ritel telah memberikan hasil yang menggembirakan, kami melihat juga beberapa peluang baru yang menarik di sektor TI dan kami siap untuk menangkap peluang," jelasnya.
Disektor ritel, perseroan melalui Hypermart, Foodmart dan Boston Health & Beauty melaporkan penjualan sebesar Rp5,447 triliun. Laba bersih tercatat sebesar Rp222 miliar pada semester pertama tahun 2013 atau peningkatan sebesar 10 persen dan 164 persen dari Rp4,973 miliar dan Rp84 miliar pada semester pertama 2012.
Sementara itu, perseroan juga berencana membuka 6 outlet baru semester pertama 2013, dengan penambahan tersebut maka total moutlet perseroan menjadi 86 ditambah dengan pembukaan 14 outlet hingga akhir tahun. (kie) (wdi)
Seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (30/8/2013), perseroan meraih kenaikan sebesar 23 persen untuk penjualan bersih sebesar Rp2,741 miliar dari Rp2,226 triliun.Penjualan kotor sebesar Rp5,160 triliun pada semester pertama 2013 atau naik 20 persen dari Rp4,320 triliun pada tahun lalu.
Presiden Direktur MLPL, Eddy Handoko mengatakan pada semester pertama 2013 merupakan tonggak penting bagi perseroan karena berhasil menaikan pendapatan secara signifikan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham.
"Investasi strategis kami di sektor ritel telah memberikan hasil yang menggembirakan, kami melihat juga beberapa peluang baru yang menarik di sektor TI dan kami siap untuk menangkap peluang," jelasnya.
Disektor ritel, perseroan melalui Hypermart, Foodmart dan Boston Health & Beauty melaporkan penjualan sebesar Rp5,447 triliun. Laba bersih tercatat sebesar Rp222 miliar pada semester pertama tahun 2013 atau peningkatan sebesar 10 persen dan 164 persen dari Rp4,973 miliar dan Rp84 miliar pada semester pertama 2012.
Sementara itu, perseroan juga berencana membuka 6 outlet baru semester pertama 2013, dengan penambahan tersebut maka total moutlet perseroan menjadi 86 ditambah dengan pembukaan 14 outlet hingga akhir tahun. (kie) (wdi)
Kamis, 25 Juli 2013
Konsep Bisnis Ala Electronic City
Ingrid Pribadi
Barang elektronik tak lagi bisa disebut barang mewah.
Barang ini sepertinya sudah wajib dipunyai oleh masyarakat di Tanah Air, mulai
dari peralatan elektronik rumah tangga hingga perangkat mobile, seperti ponsel. Makanya, tak heran, semakin
banyak toko yang khusus menjual barang-barang elektronik menyambangi mal atau
pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Ada yang seperti itu, ada pula yang
berdiri sendiri di luar pusat perbelanjaan.
PT
Electronic City Indonesia Tbk adalah salah satu pemain di penjualan barang
elektronik. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2001 itu mengklaim dirinya
sebagai pelopor dalam ritel modern elektronik di Indonesia. Nama tokonya sama
dengan nama perusahaan, yakni Electronic City. Salah satu tokonya terletak di
kawasan SCBD, Jakarta.
“Idenya adalah
karena pada saat itu tidak ada toko elektronik modern. Di mana kita dulu kan
kalau belanja harus pergi ke Glodok (Jakarta). Terus harga harus ditawar,
produk yang ditawarkan jugalimited. Jadi,
karena saya pernah belanja di luar negeri, di mana barang bisa dibeli dengan convenience shopping, one price policy,
jadi saya rasa ini desain konsep bisa jalan, kalau kita punya lokasi yang
tepat. Itu awalnya (Electronic City berdiri),” terang Ingrid Pribadi, Presiden
Direktur dan CEO PT Electronic City Indonesia Tbk, sekaligus Electronic City
Founder, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Menangani bisnis elektronik tak dipandang sebagai suatu
beban yang berat oleh Ingrid. Sekalipun latar belakang pendidikannya berbeda
dengan bisnis yang ditanganinya sekarang. “Saya dulu major finance. Tapi saya dulu pernah kerja di Nestle,
sebagai marketing.” Setelah itu, ia mengaku, berkarier sebagai
wirausahawan dengan berbagai macam usaha.
Ketika
ditanya apakah tidak sulit menangani bisnis barang elektronik, ia pun menjawab,
“Semua bisnis sebetulnya sama saja. Asal tamu itu suka dan kita itu menjiwai.”
Lantas seperti apa cara Electronic City berbisnis? Ingrid
mengatakan, toko ini mempunyai konsep yakni convenience shopping.
“Di mana harga itu kami kasih servis yang bernilai tambah, misalnya adahome delivery, trade-in (tukar
tambah). Itu hal-hal yang kami tonjolkan,” ujarnya. Ada pula skema pembayaran
cicilan tanpa bunga bagi pemegang kartu kredit.
“Nol persen kredit yang kami keluarkan. Trade-in , home delivery berapa
radius kami yang keluarkan. Jadi, yang saya mau kasih adalah value added service, di mana orang sekarang nggak mau
pusing, misalnya kalau barang rusak bawa kemana nih.
Harus tempat yang trustworthy,” tandasnya.
Sebagai
informasi, PT Electronic City Indonesia Tbk baru saja mencatatkan nama di papan
Bursa Efek Indonesia dengan kode ECII. Perseroan melakukan penawaran umum
perdana saham dengan melepas sekitar 333 juta lembar saham, atau sekitar 25
persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Perusahaan kini telah mempunyai 41 toko, yang terdiri dari 25 toko dengan nama
Electronic City dan 16 toko dengan nama Electronic City Outlet.
Pada
akhir 2012, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,43 triliun. Dalam tiga
tahun, yakni tahun 2010-2012, pertumbuhan pendapatan tercatat CAGR sebesar 32
persen, dan pertumbuhan laba bersih setelah pajak tercatat CAGR 332 persen.
Perseroan pun mencatatkan laba bersih sebesar Rp 125 miliar di 2012. (EVA)
Langganan:
Postingan (Atom)