YOGA HASTYADI WIDIARTANTO
Kompas.com - 06/12/2016, 11:17 WIB
Amazon Go (Forbes)
KOMPAS.com — Amazon mendirikan sebuah toko offline atau fisik bernama Go di Seattle, AS. Uniknya, toko ini dirancang serba digital, tanpa ada kasir, bahkan antrean sama sekali.
Pengguna cukup memakai aplikasi Go yang terpasang di smartphone untuk masuk ke toko. Di bagian depan toko, calon pembeli ini akan diminta untuk memindai ponsel di sebuah gate khusus.
Kemudian, pengguna tinggal mengambil barang yang ingin dibelinya. Setelah selesai, pengguna bisa langsung meninggalkan toko, tanpa harus mengantre dan membayar di kasir. Mudahnya, pengguna tinggal datang, ambil barang, kemudian langsung pergi saja.
Pengguna cukup berjalan keluar dari toko dan urusan pembayaran akan otomatis ditagihkan ke akun Amazon miliknya. Bon belanja pun akan dikirimkan langsung ke akun tersebut.
Dalam toko Go sendiri, Amazon membekalinya dengan berbagai teknologi canggih. Beberapa di antaranya adalah sensor, teknologi yang disebut computer vision, dan sebuah algoritma deep learning. Teknologi-teknologi tersebut bekerja sama untuk memantau produk apa saja yang diambil oleh si pembeli.
Tidak hanya bekerja untuk melihat produk apa yang diambil pengguna, teknologi tersebut juga mampu mendeteksi produk-produk yang dikembalikan ke rak belanja.
Menurut Amazon, sebagaimana dilansir KompasTekno dari TechCrunch, Selasa (6/12/2016), toko offline tersebut sebenarnya sudah dikembangkan selama empat tahun belakangan ini.
Toko Amazon Go pertama akan ditempatkan di Seattle, Amerika Serikat, di atas sebuah lahan yang luasnya sekitar 167 meter persegi.
Sementara waktu ini, Amazon Go hanya menyediakan berbagai produk bahan pangan, termasuk makanan siap saji yang dibuat oleh manusia (bukan robot). Orang yang bisa masuk ke toko pun masih dibatasi hanya pegawai Amazon.
Rencananya, raksasa e-commerce itu akan mulai membuka Amazon Go untuk umum pada awal 2017.
PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorDeliusno
SumberTechCrunch
TAG:Amazon
http://tekno.kompas.com/read/2016/12/06/11170047/amazon.buka.toko.fisik.go.tanpa.kasir.dan.antre
Indonesia Retail Akademi, lembaga pendidikan bisnis retail. Membantu para pengusaha retail untuk memberikan pengetahuan seluk beluk bisnis ritel di Indonesia
Label
- Home
- Kontak
- Retail Akademi
- Retail Konsultan
- Retail News
- Retail Oportunity
- Ritail CSR
- Ritail Strategi
Tampilkan postingan dengan label Retail Oportunity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Retail Oportunity. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Oktober 2017
Toko Gadget Samsung Terbesar se-Asia Tenggara Dibuka di Jakarta
YOGA HASTYADI WIDIARTANTO
Kompas.com - 01/10/2017, 13:12 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Samsung baru saja membuka toko fisik (offline), Galaxy International Experience Store (GIES) di Jakarta. GIES menempati salah satu sudut di pusat perbelanjaan Lotte Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan.
Oleh Samsung, GIES diklaim sebagai toko fisik yang paling besar di Asia Tenggara. Selain itu, konsep yang ditawarkan Samsung pun berbeda dari berbagai toko fisik yang lain, yakni penggabungan pusat peraga gadget dengan kafe.
"Ini toko kami yang terbesar se-Asia Tenggara, dibangun dengan luas sekitar 500 meter persegi dan ada kafe di dalamnya," terang Marketing Director IT & Mobile Business SEIN, Vebbyna Kaunang di sela pembukaan GIES, di Jakarta, Jumat (29/9/2017) lalu.
Kafe yang dimaksud Vebbyna adalah Caribou Coffee, sebuah kedai kopi dari Minnesota, yang diletakkan di bagian belakang GIES.
Selain bekerja sama dengan Caribou Coffee, Samsung juga menggandeng PT Nusa Abadi Sukses Artha (NASA), yang merupakan anak usaha Erajaya Group.
Di GIES, pengunjung bisa menjajal berbagai gadget buatan perusahaan Korea Selatan itu, berurusan dengan layanan purna jual, atau sekadar bersantai duduk sambil minum kopi.
Samsung memamerkan cukup banyak gadget di sana, di antaranya adalah tablet Galaxy Tab S3, Galaxy Tab S2, Galaxy Tab A layar 7 inci dan smartphone Samsung Galaxy Note 8.
Kemudian ada juga satu sudut khusus yang disediakan untuk menjajal teknologi virtual reality (VR). Pengunjung bisa duduk di kursi khusus dan memakai headset Samsung Gear VR untuk mencobanya.
Saat ini, baru ada satu toko GIES saja di Jakarta. Namun, Samsung tak menutup kemungkinan akan membuka toko serupa di berbagai daerah di Tanah Air.
"Kami akan lihat dulu nanti. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk membuka lagi yang seperti ini," pungkas Vebbyna.
PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorReska K. Nistanto
Kompas.com - 01/10/2017, 13:12 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Samsung baru saja membuka toko fisik (offline), Galaxy International Experience Store (GIES) di Jakarta. GIES menempati salah satu sudut di pusat perbelanjaan Lotte Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan.
Oleh Samsung, GIES diklaim sebagai toko fisik yang paling besar di Asia Tenggara. Selain itu, konsep yang ditawarkan Samsung pun berbeda dari berbagai toko fisik yang lain, yakni penggabungan pusat peraga gadget dengan kafe.
"Ini toko kami yang terbesar se-Asia Tenggara, dibangun dengan luas sekitar 500 meter persegi dan ada kafe di dalamnya," terang Marketing Director IT & Mobile Business SEIN, Vebbyna Kaunang di sela pembukaan GIES, di Jakarta, Jumat (29/9/2017) lalu.
Kafe yang dimaksud Vebbyna adalah Caribou Coffee, sebuah kedai kopi dari Minnesota, yang diletakkan di bagian belakang GIES.
Selain bekerja sama dengan Caribou Coffee, Samsung juga menggandeng PT Nusa Abadi Sukses Artha (NASA), yang merupakan anak usaha Erajaya Group.
Di GIES, pengunjung bisa menjajal berbagai gadget buatan perusahaan Korea Selatan itu, berurusan dengan layanan purna jual, atau sekadar bersantai duduk sambil minum kopi.
Samsung memamerkan cukup banyak gadget di sana, di antaranya adalah tablet Galaxy Tab S3, Galaxy Tab S2, Galaxy Tab A layar 7 inci dan smartphone Samsung Galaxy Note 8.
Kemudian ada juga satu sudut khusus yang disediakan untuk menjajal teknologi virtual reality (VR). Pengunjung bisa duduk di kursi khusus dan memakai headset Samsung Gear VR untuk mencobanya.
Saat ini, baru ada satu toko GIES saja di Jakarta. Namun, Samsung tak menutup kemungkinan akan membuka toko serupa di berbagai daerah di Tanah Air.
"Kami akan lihat dulu nanti. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk membuka lagi yang seperti ini," pungkas Vebbyna.
PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorReska K. Nistanto
Pangkas Rantai Distribusi, Toko Tani Indonesia Masuki E-Commerce
Reporter:
M Julnis Firmansyah
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Minggu, 15 Oktober 2017 13:53 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, mengatakan Toko Tani Indonesia (TTI) akan memasuki dunia e-commerce sebelum akhir tahun ini. Menurut dia, hal tersebut merupakan salah satu cara TTI membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok yang murah karena terjadi pemotongan alur distribusi yang efisien.
Adapun skema pembelian barang melalui toko online TTI, yakni pelanggan akan menggunakan aplikasi untuk memesan di TTI, lalu selanjutnya TTI akan menghubungi distributor terdekat dengan lokasi pelanggan untuk mengirimkan barang. "Dengan demikian, alur distribusi barang hanya akan terjadi pada 3 tahap, yaitu petani sebagai produsen, TTI sebagai distributor, dan kosumen," ujarnya saat jumpa wartawan di Toko Tani Indonesia, Jakarta Selatan, Ahad, 15 Oktober 2017.
Agung menjelaskan selama ini harga bahan pokok bisa tidak menentu karena alur distribusi saat ini ada 8 tahap. Ia mengatakan di setiap tahap tersebut harga akan menjadi semakin mahal.
Sebelumnya TTI sudah bekerja sama dengan Go-Jek. Namun dari Mei - September, transaksinya hanya mencapai Rp 25 juta. Sehingga menurut Agung perlu ada kerja sama dengan e-commerce lain untuk merambah dunia retail secara online.
Manfaat lain dari masuknya TTI ke dunia online, menurut Agung, pemerintah tidak perlu menyediakan gudang penyimpanan, karena barang akan langsung dikirim dari produsen kepada konsumen.
Selain itu kontrol harga juga akan semakin baik karena berada dalam pengawasan penuh. "Kalau ada pedagang TTI yang jual di atas harga rekomendasi, saya kenakan sanksi," ujarnya.
Agung mengklaim hingga hari ini TTI sudah tersebar di 2.839 di 32 provinsi di Indonesia, dan sebanyak 1.113 di Jabodetabek. Dengan jumlah tersebut dan masuknya TTI ke dalam ranah e-commerce, ia optimistis bisa menjadikan TTI sebagai pusat distribusi bahan pangan pokok di Indonesia. "Setiap tahun akan ditambah 500 petani binaan, tahun ini sudah melebihi target dari 1.000 binaan," ujarnya.
https://bisnis.tempo.co/read/1024870/pangkas-rantai-distribusi-toko-tani-indonesia-masuki-e-commerce#JlDeZx3gg4Oh189e.99
M Julnis Firmansyah
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Minggu, 15 Oktober 2017 13:53 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, mengatakan Toko Tani Indonesia (TTI) akan memasuki dunia e-commerce sebelum akhir tahun ini. Menurut dia, hal tersebut merupakan salah satu cara TTI membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok yang murah karena terjadi pemotongan alur distribusi yang efisien.
Adapun skema pembelian barang melalui toko online TTI, yakni pelanggan akan menggunakan aplikasi untuk memesan di TTI, lalu selanjutnya TTI akan menghubungi distributor terdekat dengan lokasi pelanggan untuk mengirimkan barang. "Dengan demikian, alur distribusi barang hanya akan terjadi pada 3 tahap, yaitu petani sebagai produsen, TTI sebagai distributor, dan kosumen," ujarnya saat jumpa wartawan di Toko Tani Indonesia, Jakarta Selatan, Ahad, 15 Oktober 2017.
Agung menjelaskan selama ini harga bahan pokok bisa tidak menentu karena alur distribusi saat ini ada 8 tahap. Ia mengatakan di setiap tahap tersebut harga akan menjadi semakin mahal.
Sebelumnya TTI sudah bekerja sama dengan Go-Jek. Namun dari Mei - September, transaksinya hanya mencapai Rp 25 juta. Sehingga menurut Agung perlu ada kerja sama dengan e-commerce lain untuk merambah dunia retail secara online.
Manfaat lain dari masuknya TTI ke dunia online, menurut Agung, pemerintah tidak perlu menyediakan gudang penyimpanan, karena barang akan langsung dikirim dari produsen kepada konsumen.
Selain itu kontrol harga juga akan semakin baik karena berada dalam pengawasan penuh. "Kalau ada pedagang TTI yang jual di atas harga rekomendasi, saya kenakan sanksi," ujarnya.
Agung mengklaim hingga hari ini TTI sudah tersebar di 2.839 di 32 provinsi di Indonesia, dan sebanyak 1.113 di Jabodetabek. Dengan jumlah tersebut dan masuknya TTI ke dalam ranah e-commerce, ia optimistis bisa menjadikan TTI sebagai pusat distribusi bahan pangan pokok di Indonesia. "Setiap tahun akan ditambah 500 petani binaan, tahun ini sudah melebihi target dari 1.000 binaan," ujarnya.
https://bisnis.tempo.co/read/1024870/pangkas-rantai-distribusi-toko-tani-indonesia-masuki-e-commerce#JlDeZx3gg4Oh189e.99
Selasa, 16 Mei 2017
Pembukaa Gerai 411Mart
Pembukaa Gerai 411Mart
"Saat ini Ummat Islam Bukan cuma kumpulan saja, Ummat telah Menjadi Barisan..dan Barisan inilah yang telah menjadi Kekuatan"
(UBN, Masjid Istiqlal, 5 Mei 2017)
Kekuatan Baru dalam Wadah Bisnis Ekonomi Ummat ini telah hadir Dalam wadah 411mart , muslimart yang telah buka dari 212 (21 Februari 2017) yang kini telah memiliki 3 Gerai : Serpong Park, Pamulang, dan Jelupang
Wujud nyata perjuangan UMMAT untuk mandiri dalam melayani UMMAT dengan konsep Ritel Modern yang terus berkembang dan tumbuh ini, kini Siap UNTUK MEMBUKA GERAI KE 4,
Mengajak Saudara2 Untuk Bergabung bersama kami: JBB Group, sebuah Perusahaan (PT) yang eksis dengan pengalamanan dalam Grocery & Retail Business
Ayoo , telah terbukti kehadiran 411mart,
Dan kini saatnya Ummat bergabung , dengan 411mart Gerai ke4.
Sekarang saatnya:
Kalau bukan KITA siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, KAPAN LAGI?
GABUNG SEGERA KARENA HANYA 5 HARI KAMI MEMBUKA KESEMPATAN INVESTASI DALAM PEMBUKAAN 411MART KE 4 INI:
ADD LINK INI
https://chat.whatsapp.com/HyFPDIZ42rvL0TXVi2AwlI
Lokasi 411 Mart Pamulang
https://goo.gl/maps/SKTR51T8mPK2Bergabung ke gr
"Saat ini Ummat Islam Bukan cuma kumpulan saja, Ummat telah Menjadi Barisan..dan Barisan inilah yang telah menjadi Kekuatan"
(UBN, Masjid Istiqlal, 5 Mei 2017)
Kekuatan Baru dalam Wadah Bisnis Ekonomi Ummat ini telah hadir Dalam wadah 411mart , muslimart yang telah buka dari 212 (21 Februari 2017) yang kini telah memiliki 3 Gerai : Serpong Park, Pamulang, dan Jelupang
Wujud nyata perjuangan UMMAT untuk mandiri dalam melayani UMMAT dengan konsep Ritel Modern yang terus berkembang dan tumbuh ini, kini Siap UNTUK MEMBUKA GERAI KE 4,
Mengajak Saudara2 Untuk Bergabung bersama kami: JBB Group, sebuah Perusahaan (PT) yang eksis dengan pengalamanan dalam Grocery & Retail Business
Ayoo , telah terbukti kehadiran 411mart,
Dan kini saatnya Ummat bergabung , dengan 411mart Gerai ke4.
Sekarang saatnya:
Kalau bukan KITA siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, KAPAN LAGI?
GABUNG SEGERA KARENA HANYA 5 HARI KAMI MEMBUKA KESEMPATAN INVESTASI DALAM PEMBUKAAN 411MART KE 4 INI:
ADD LINK INI
https://chat.whatsapp.com/HyFPDIZ42rvL0TXVi2AwlI
Lokasi 411 Mart Pamulang
https://goo.gl/maps/SKTR51T8mPK2Bergabung ke gr
Selasa, 18 Maret 2014
Supermarket Inggris Hentikan Penjualan Kopi Luwak Indonesia
Mereka protes akan perlakuan petani kopi terhadap luwak.
Lesthia Kertopati
Selasa, 21 Januari 2014, 14:06 WIB
VIVAlife - Kopi luwak, yang disebut-sebut sebagai kopi termahal di dunia, dengan harga bisa mencapai 60 poundsterling atau setara Rp1,2 juta secangkir, kini tidak lagi bisa didapatkan dengan mudah di supermarket Inggris.
Salah satu jaringan supermarket premium Inggris, Selfridges, mengumumkan akan menghentikan penjualan kopi luwak Indonesia. Hal tersebut berkenaan dengan informasi yang mereka dapatkan akan buruknya perlakukan petani kopi terhadap binatang luwak.
Keistimewaan kopi luwak terletak pada biji kopi yang melewati "proses" istimewa, yakni fermentasi dalam sistem pencernaan luwak. Hasilnya, kopi terasa lebih nikmat, punya kadar asam yang rendah, serta aroma wangi pandan khas luwak.
Selain itu, kopi luwak juga dipercaya punya banyak manfaat kesehatan, seperti tubuh yang lebih segar, menurunkan risiko kanker, mencegah penyakit alzheimer dan diabetes, juga melindungi gigi dan aman bagi penderita maag karena kadar kafein yang lebih rendah dibanding kopi lain.
Awalnya, petani hanya mengumpulkan biji kopi yang dikonsumsi luwak liar. Hewan sejenis musang itupun dibiarkan bebas berkeliaran di kebun kopi. Namun seiring dengan meningkatnya permintaan dunia akan kopi istimewa tersebut, petani kopi mulai menangkar luwak liar. Mereka diletakkan dalam kandang dan hanya diberi makan kopi untuk menggenjot produksi.
Sayangnya, penangkaran justru kerap membuat luwak stres dan akhirnya, hewan tersebut sakit atau bahkan mati. Organisasi pecinta hewan Inggris, World Society for the Protection of Animals (WSPA), menemukan beberapa penangkaran luwak oleh para petani kopi tidak memenuhi persyaratan.
Dalam video yang diunggah di situs resmi WSPA tersebut terlihat seekor luwak yang bertingkah laku abnormal. Terus berputar-putar dalam kandang yang menunjukkan bahwa hewan tersebut stres karena terus berada di ruang sempit. Selain itu, ada juga kelompok petani yang menempatkan luwak dalam kandang selama bertahun-tahun, sehingga hewan tersebut kehilangan kemampuan alaminya untuk bertahan hidup di alam.
Adanya video tersebut membuat Selfridges memutuskan untuk tidak lagi menjual kopi luwak Indonesia. Sebelumnya, jaringan supermarket dan department store Harrods juga mengumumkan tidak lagi menjual kopi luwak Indonesia yang datang dari penangkaran.
WSPA sendiri merilis kampanye mengenai sertifikasi mengenai kopi luwak yang hanya diproduksi dari luwak liar. "Peritel di seluruh dunia sudah berkomitmen untuk menjual kopi luwak yang diproduksi dari luwak liar, dan bukan dari penangkaran. Kami memandang pentingnya kesejahteraan hewan luwak yang menjadi rantai utama dari produksi kopi luwak," kata Dr Neil D'Cruze, Kepala Riset Wildlife WSPA.
"Dengan adanya sertifikasi, konsumen bisa tenang mengetahui bahwa kopi luwak mereka minum, selain ramah lingkungan juga ramah terhadap hewan," ujarnya.
Pendapat D'Cruze disetujui Daniella Vega, Kepala CSR Selfridges. "Kami memandang diri sebagai peritel yang memberi yang terbaik bagi konsumen, dalam hal kualitas serta moral produk yang kami jual," ujar Vega, dilansir Daily Mail.
"Atas alasan itu, kami menghentikan penjualan kopi luwak Indonesia hingga kami menemukan produsen yang bisa memenuhi kriteria kami," katanya. (eh)
http://indonesia-retail-akademi.blogspot.com/
Lesthia Kertopati
Selasa, 21 Januari 2014, 14:06 WIB
| Supermarket Inggris, Selfridges dan Harrods, telah berhenti menjual kopi luwak Indonesia. (qraved.com) |
VIVAlife - Kopi luwak, yang disebut-sebut sebagai kopi termahal di dunia, dengan harga bisa mencapai 60 poundsterling atau setara Rp1,2 juta secangkir, kini tidak lagi bisa didapatkan dengan mudah di supermarket Inggris.
Salah satu jaringan supermarket premium Inggris, Selfridges, mengumumkan akan menghentikan penjualan kopi luwak Indonesia. Hal tersebut berkenaan dengan informasi yang mereka dapatkan akan buruknya perlakukan petani kopi terhadap binatang luwak.
Keistimewaan kopi luwak terletak pada biji kopi yang melewati "proses" istimewa, yakni fermentasi dalam sistem pencernaan luwak. Hasilnya, kopi terasa lebih nikmat, punya kadar asam yang rendah, serta aroma wangi pandan khas luwak.
Selain itu, kopi luwak juga dipercaya punya banyak manfaat kesehatan, seperti tubuh yang lebih segar, menurunkan risiko kanker, mencegah penyakit alzheimer dan diabetes, juga melindungi gigi dan aman bagi penderita maag karena kadar kafein yang lebih rendah dibanding kopi lain.
Awalnya, petani hanya mengumpulkan biji kopi yang dikonsumsi luwak liar. Hewan sejenis musang itupun dibiarkan bebas berkeliaran di kebun kopi. Namun seiring dengan meningkatnya permintaan dunia akan kopi istimewa tersebut, petani kopi mulai menangkar luwak liar. Mereka diletakkan dalam kandang dan hanya diberi makan kopi untuk menggenjot produksi.
Sayangnya, penangkaran justru kerap membuat luwak stres dan akhirnya, hewan tersebut sakit atau bahkan mati. Organisasi pecinta hewan Inggris, World Society for the Protection of Animals (WSPA), menemukan beberapa penangkaran luwak oleh para petani kopi tidak memenuhi persyaratan.
Dalam video yang diunggah di situs resmi WSPA tersebut terlihat seekor luwak yang bertingkah laku abnormal. Terus berputar-putar dalam kandang yang menunjukkan bahwa hewan tersebut stres karena terus berada di ruang sempit. Selain itu, ada juga kelompok petani yang menempatkan luwak dalam kandang selama bertahun-tahun, sehingga hewan tersebut kehilangan kemampuan alaminya untuk bertahan hidup di alam.
Adanya video tersebut membuat Selfridges memutuskan untuk tidak lagi menjual kopi luwak Indonesia. Sebelumnya, jaringan supermarket dan department store Harrods juga mengumumkan tidak lagi menjual kopi luwak Indonesia yang datang dari penangkaran.
WSPA sendiri merilis kampanye mengenai sertifikasi mengenai kopi luwak yang hanya diproduksi dari luwak liar. "Peritel di seluruh dunia sudah berkomitmen untuk menjual kopi luwak yang diproduksi dari luwak liar, dan bukan dari penangkaran. Kami memandang pentingnya kesejahteraan hewan luwak yang menjadi rantai utama dari produksi kopi luwak," kata Dr Neil D'Cruze, Kepala Riset Wildlife WSPA.
"Dengan adanya sertifikasi, konsumen bisa tenang mengetahui bahwa kopi luwak mereka minum, selain ramah lingkungan juga ramah terhadap hewan," ujarnya.
Pendapat D'Cruze disetujui Daniella Vega, Kepala CSR Selfridges. "Kami memandang diri sebagai peritel yang memberi yang terbaik bagi konsumen, dalam hal kualitas serta moral produk yang kami jual," ujar Vega, dilansir Daily Mail.
"Atas alasan itu, kami menghentikan penjualan kopi luwak Indonesia hingga kami menemukan produsen yang bisa memenuhi kriteria kami," katanya. (eh)
http://indonesia-retail-akademi.blogspot.com/
Suatu Saat, Beli Obligasi Pun Bisa di Swalayan
Minggu, 9 Maret 2014 | 20:34 WIB
TANJUNG PANDAN, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia nantinya akan bisa membeli obligasi ritel diberbagai tempat yang mudah diakses, seperti kantor pos, swalayan ataupun minimarket-minimarket yang banyak tersebar di seluruh Nusantara. Wakil Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Rachmat Waluyanto mengatakan, hal ini merupakan salah satu bentuk financial inclusion dan juga upaya untuk mengembangkan basis investor domestik.
Ke depan OJK akan mendorong hal itu. Ide-ide semacam itu ada dalam agenda ojk, itu juga bisa termasuk financial inclusion dan dikemas dengan upaya pengembangan basis investor domestik," ucapnya Sabtu (8/3/2014) malam, di Tanjung Pandan, Belitung.
Ia bercerita, bahwa di beberapa negara yang dikunjunginya, masyrakat bisa membeli obligasi di swalayan, sebagaimana membeli barang-barang keperluan sehari-hari.
"Seperti Afrika Selatan, di sana orang beli obligasi di supermarket. Jadi ibu-ibu sambil membayar barang-barang yang dia beli, dia bertanya, 'eh sekarang berapa ya harga obligasi, saya beli deh, berapa dollar'. Istilahnya seperti membeli kacang atau permen," katanya.
Untuk mewujudkan hal itu, menurutnya, sangat penting untuk membangun infrastruktur yang bisa menunjang transparansi harga sehingga membuat masyarakat yakin untuk membeli obligasi ritel.
"Jadi kita harus bagun infrastruktur juga supaya at any time kita bisa tahu harganya. itu akan meningkatkan confidence calon inevator," tambahnya.
Selain itu, diakuinya, masalah likuiditas obligasi memang menjadi perhatian investor ritel. "Harusnya memang harus likuid. Tapi begini, yang namanya investasi tentu ada jaraknya, diatas satu tahun lah, jadi tidak bisa cash anytime. Tapi tetap harus diperhatikan aspek likuiditas, karena ini ritel," katanya.
Hal itu, lanjutnya, bisa dilakukan melalui ketersediaan infrastruktur untuk transparansi harga. "Kalau masyarakat itu yakin, kalau saya beli harga sekian, nanti kalau jual dengan harga sekian. Jadi any time dia bisa memutuskan," ucapnya.
Selain itu, salah satu penunjang likuiditas juga adalah dengan adanya penggerak pasar. "Kita harus punya market makers, bukan standby buyers. Jadi kalau ada lembaga keuangan yang bisa melakukan quatasi dua arah, berapa kalau dia mau jual, berapa kalau dia beli, at any time, itu akan menciptakan likuiditas," kata mantan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan ini.
Namun saat ditanya kapan masyarakat Indonesia bisa mulai membeli obligasi di tempat-tempat tersebut, ia mengaku belum bisa memastikannya. "tunggu saja deh," katanya.
Editor : Erlangga Djumena
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/03/09/2034486/Suatu.Saat.Beli.Obligasi.Pun.Bisa.di.Swalayan
TANJUNG PANDAN, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia nantinya akan bisa membeli obligasi ritel diberbagai tempat yang mudah diakses, seperti kantor pos, swalayan ataupun minimarket-minimarket yang banyak tersebar di seluruh Nusantara. Wakil Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Rachmat Waluyanto mengatakan, hal ini merupakan salah satu bentuk financial inclusion dan juga upaya untuk mengembangkan basis investor domestik.
Ke depan OJK akan mendorong hal itu. Ide-ide semacam itu ada dalam agenda ojk, itu juga bisa termasuk financial inclusion dan dikemas dengan upaya pengembangan basis investor domestik," ucapnya Sabtu (8/3/2014) malam, di Tanjung Pandan, Belitung.
Ia bercerita, bahwa di beberapa negara yang dikunjunginya, masyrakat bisa membeli obligasi di swalayan, sebagaimana membeli barang-barang keperluan sehari-hari.
"Seperti Afrika Selatan, di sana orang beli obligasi di supermarket. Jadi ibu-ibu sambil membayar barang-barang yang dia beli, dia bertanya, 'eh sekarang berapa ya harga obligasi, saya beli deh, berapa dollar'. Istilahnya seperti membeli kacang atau permen," katanya.
Untuk mewujudkan hal itu, menurutnya, sangat penting untuk membangun infrastruktur yang bisa menunjang transparansi harga sehingga membuat masyarakat yakin untuk membeli obligasi ritel.
"Jadi kita harus bagun infrastruktur juga supaya at any time kita bisa tahu harganya. itu akan meningkatkan confidence calon inevator," tambahnya.
Selain itu, diakuinya, masalah likuiditas obligasi memang menjadi perhatian investor ritel. "Harusnya memang harus likuid. Tapi begini, yang namanya investasi tentu ada jaraknya, diatas satu tahun lah, jadi tidak bisa cash anytime. Tapi tetap harus diperhatikan aspek likuiditas, karena ini ritel," katanya.
Hal itu, lanjutnya, bisa dilakukan melalui ketersediaan infrastruktur untuk transparansi harga. "Kalau masyarakat itu yakin, kalau saya beli harga sekian, nanti kalau jual dengan harga sekian. Jadi any time dia bisa memutuskan," ucapnya.
Selain itu, salah satu penunjang likuiditas juga adalah dengan adanya penggerak pasar. "Kita harus punya market makers, bukan standby buyers. Jadi kalau ada lembaga keuangan yang bisa melakukan quatasi dua arah, berapa kalau dia mau jual, berapa kalau dia beli, at any time, itu akan menciptakan likuiditas," kata mantan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan ini.
Namun saat ditanya kapan masyarakat Indonesia bisa mulai membeli obligasi di tempat-tempat tersebut, ia mengaku belum bisa memastikannya. "tunggu saja deh," katanya.
Editor : Erlangga Djumena
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/03/09/2034486/Suatu.Saat.Beli.Obligasi.Pun.Bisa.di.Swalayan
Supermarket di Jepang Tak Lagi Tanyakan Umur Pelanggan yang Membeli Alkohol
| Ilustrasi |
Sudah sewajarnya pelanggan diminta memperlihatkan kartu identitas saat membeli minuman beralkohol. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak di bawah umur mengonsumsi minuman keras. Namun, di Jepang, peraturan tersebut kini dihapus.
Di Jepang, batas usia yang diperbolehkan secara hukum untuk meminum alkohol dan merokok adalah 20 tahun. Namun, menurut situs Rocket News 24 (16/02/2014), minuman beralkohol bisa dengan mudah didapatkan.
Di kebanyakan toko di Jepang, saat kasir memindai belanjaan dan ada barang yang memerlukan konfirmasi umur pelanggan, sebuah pesan akan muncul di layar yang menghadap pembeli: "Apakah Anda berusia di atas 20 tahun?"
Sang kasirpun tak menanyakan lagi apakah si pembeli sudah cukup umur. Umumnya, mereka hanya menyuruh pelanggan menyentuh panel layar. Anehnya, hanya ada jawaban 'Ya' yang bisa diklik oleh pelanggan. Tidak ada tombol 'Tidak', serta tak perlu menunjukkan kartu identitas.
Kalau Anda tak terbiasa dengan sistem ini, sang kasir atau orang yang mengantre di belakang Anda akan membantu mengklik tombol 'Ya' tanpa bertanya lagi. Mungkin, mereka melakukannya agar proses pembayaran bisa lebih cepat. Konfirmasi umur inipun seperti sekadar formalitas.
Seakan sistem ini kurang mudah dan cepat, Maret mendatang Aeon Group akan menghentikan konfirmasi umur kepada para pembeli minuman beralkohol. Jadi, hanya orang-orang yang dicurigai kasir masih di bawah umur yang perlu menyatakan bahwa dirinya berusia di atas 20 tahun dengan menekan tombol di layar.
Aeon Group, salah satu peritel terbesar di Jepang yang membawahi supermarket Aeon dan minimarket Mini Stop, mengemukakan alasannya. Mereka sering menerima keluhan dari pelanggan dewasa dan tua karena diminta mengonfirmasi umur, padahal sudah jelas bahwa mereka di atas 20 tahun.
Beberapa pihak khawatir bahwa kebijakan baru ini akan mempertinggi konsumsi alkohol oleh anak di bawah umur. Namun, tampaknya dampaknya tak akan begitu besar. Sebab, mesin penjual (vending machine) bir tersedia di mana-mana.
Selain itu, kebanyakan anak di bawah umur di Jepang juga tak punya mobil, jadi kekhawatiran akan menyetir sambil mabuk tak setinggi di negara lain. Angka kehamilan remaja di Jepang juga rendah.
(odi/fit)
http://food.detik.com/read/2014/02/17/124412/2499464/294/supermarket-di-jepang-tak-lagi-tanyakan-umur-pelanggan-yang-membeli-alkohol
Gara-gara Mesin Transaksi Otomatis Bermasalah, Pria AS Kehilangan Gigi
| Ilustrasi |
http://internasional.kompas.com/read/2014/03/06/0833513/Gara-gara.Mesin.Transaksi.Otomatis.Bermasalah.Pria.AS.Kehilangan.Gigi
WICHITA, KOMPAS.COM — Akibat frustrasi dengan mesin transaksi otomatis di pintu keluar gerai supermarket Walmart di Wichita, Kansas, AS, seorang pria berusia 36 tahun malah kehilangan giginya.
Menurut surat kabar Wichita Eagle, mengutip Kapten Doug Nolte dari kepolisian, seorang konsumen yang mengalami kesulitan menyelesaikan transaksi di mesin otomatis mulai memaki-maki mesin tersebut. Ulah pria itu membuat antrean pembeli bertambah panjang.
Seorang konsumen keturunan Spanyol kemudian menegurnya yang berujung adu mulut dan berlanjut hingga di luar toko. Pria pertama, yang berkulit putih, bertambah marah dan mulai melontarkan makian rasial. ”Makian itu memanaskan suasana,” kata Nolte.
Seorang pria kulit hitam akhirnya turun tangan dan melayangkan tinjunya hingga gigi pria kulit putih itu tanggal. Saat polisi tiba di lokasi, pria Hispanik dan pria kulit hitam telah pergi, tinggallah si pembuat onar yang kehilangan gigi...
| Editor | : Egidius Patnistik |
| Sumber | : KOMPAS CETAK |
Jumat, 22 November 2013
Ini Minimarket Indonesia yang "Jajah" Afrika Selatan
Minggu, 10 Februari 2013 16:45 wib
Ade Hapsari Lestarini - Okezone
| Indomaret di Jhonesburg, Afsel |
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag)
mengungkapkan jika Indomart membuka toko pertama alias minimarket pertamanya di
Johannesburg, Afrika Selatan.
"Pembukaan toko Indonesia di Afrika Selatan ini merupakan upaya bersama yang dirintis oleh Kemendag, KBRI Pretoria, ITPC Johannesburg, dan para pelaku usaha nasional," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Gusmardi Bustami, dalam siaran persnya, seperti dikutip dalam situs Kemendag, Minggu (10/2/2013).
Menurut dia, inisiatif tersebut diluncurkan pada kesempatan misi dagang yang dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan awal 2012 yang menindaklanjuti kunjungan kerja Menteri Perdagangan di akhir 2011.
Kemudian, format kerjasama tersebut semakin dimatangkan lagi dengan keikutsertaan Indonesia di Pameran Africa Big Seven pada pertengahan 2012 dan diikuti oleh 24 perusahaan
makanan dan minuman Indonesia antara lain PT Mayora, PT Orang tua Group, PT Marimas, PT Indofood, dan PT Garuda Food.
Pembukaan Indomart merupakan suatu terobosan baru untuk memperluas dan meningkatkan penetrasi pasar bagi produk-produk Indonesia di Afrika pada umumnya dan di Afrika Selatan pada khususnya.
"Strategi pemasaran ini diharapkan dapat berjalan dengan efektif sekaligus menjadi solusi untuk menembus pasar non-tradisional dengan produk-produk yang belum pernah ditemui di pasar setempat," ujar Gusmardi.
Dia menjelaskan, jenis produk yang dijual di toko Indomart antara lain bahan makanan, produk makanan dan minuman, serta garmen seperti batik. Sedangkan konsep layanan yang diterapkan berupa swalayan. Keunggulan lain yang dimiliki oleh Indomart adalah lokasinya yang cukup strategis
sehingga dapat dengan mudah dijangkau oleh mayoritas komunitas Afrika Selatan yang bermukim di Pretoria dan Johannesburg.
"Keberadaan toko ini diharapkan mampu menarik minat para pembeli, baik masyarakat Indonesia, keturunan Asia, maupun warga Afrika Selatan yang menyukai produk Indonesia," imbuhnya.
Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Pradnyawati menambahkan, Indomart diharap mampu menjadi wadah bagi para pengusaha Indonesia yang ingin melakukan tes pasar ke Afrika Selatan dengan menitipkan produk-produk mereka ke toko ini. (ade)
"Pembukaan toko Indonesia di Afrika Selatan ini merupakan upaya bersama yang dirintis oleh Kemendag, KBRI Pretoria, ITPC Johannesburg, dan para pelaku usaha nasional," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Gusmardi Bustami, dalam siaran persnya, seperti dikutip dalam situs Kemendag, Minggu (10/2/2013).
Menurut dia, inisiatif tersebut diluncurkan pada kesempatan misi dagang yang dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan awal 2012 yang menindaklanjuti kunjungan kerja Menteri Perdagangan di akhir 2011.
Kemudian, format kerjasama tersebut semakin dimatangkan lagi dengan keikutsertaan Indonesia di Pameran Africa Big Seven pada pertengahan 2012 dan diikuti oleh 24 perusahaan
makanan dan minuman Indonesia antara lain PT Mayora, PT Orang tua Group, PT Marimas, PT Indofood, dan PT Garuda Food.
Pembukaan Indomart merupakan suatu terobosan baru untuk memperluas dan meningkatkan penetrasi pasar bagi produk-produk Indonesia di Afrika pada umumnya dan di Afrika Selatan pada khususnya.
"Strategi pemasaran ini diharapkan dapat berjalan dengan efektif sekaligus menjadi solusi untuk menembus pasar non-tradisional dengan produk-produk yang belum pernah ditemui di pasar setempat," ujar Gusmardi.
Dia menjelaskan, jenis produk yang dijual di toko Indomart antara lain bahan makanan, produk makanan dan minuman, serta garmen seperti batik. Sedangkan konsep layanan yang diterapkan berupa swalayan. Keunggulan lain yang dimiliki oleh Indomart adalah lokasinya yang cukup strategis
sehingga dapat dengan mudah dijangkau oleh mayoritas komunitas Afrika Selatan yang bermukim di Pretoria dan Johannesburg.
"Keberadaan toko ini diharapkan mampu menarik minat para pembeli, baik masyarakat Indonesia, keturunan Asia, maupun warga Afrika Selatan yang menyukai produk Indonesia," imbuhnya.
Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Pradnyawati menambahkan, Indomart diharap mampu menjadi wadah bagi para pengusaha Indonesia yang ingin melakukan tes pasar ke Afrika Selatan dengan menitipkan produk-produk mereka ke toko ini. (ade)
Ekspansi, Alfamart Targetkan Buka 200 Gerai di Asean
Selasa, 12 November 2013 16:32 wib
Dina Mirayanti Hutauruk - Okezone
JAKARTA - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pemilik
gerai pengelola gerai Alfamart akan melebarkan sayap ke wilayah Asia Tenggara
(Asean). Rencana tersebut akan direalisasikan pada Januari 2014
Direktur Utama PT Sumber Alfaria Trijaya Pudjianto menjelaskan akan membuka gerai secara bertahap. Dia menjelaskan, setidaknya akan dibuka 100-200 gerai. Sebab, jika di bawah 100 gerai maka skala ekonomisnya tidak akan tercapai.
Menurutnya, dalam melakukan ekspansi ke luar tidak selalu bermitra dengan pelaku usaha yang ada di negara tujuan. Meski demikian, secara strategis akan lebih baik jika menjalin kemitraan.
Dia melanjutkan, saat ini yang paling penting diperhatikan dalam melebarkan sayap adalah harus memahami karakter konsumen di negara tujuan.
"Itu yang penting, karena percuma kalau kalau kita punya teknologi semaju apapun, tapi kita tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen disana karena masing-masing negara berbeda," kata dia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (12/11/2013)..
Sekadar informasi, Pudjianto memang tidak secara eksplisit menyebutkan negara yang menjadi tujuan ekspansi. Namun, dia mengisyaratkan ekspansi tersebut berada di negara yang tengah mengalami bencana alam. (kie) (wdi)
Direktur Utama PT Sumber Alfaria Trijaya Pudjianto menjelaskan akan membuka gerai secara bertahap. Dia menjelaskan, setidaknya akan dibuka 100-200 gerai. Sebab, jika di bawah 100 gerai maka skala ekonomisnya tidak akan tercapai.
Menurutnya, dalam melakukan ekspansi ke luar tidak selalu bermitra dengan pelaku usaha yang ada di negara tujuan. Meski demikian, secara strategis akan lebih baik jika menjalin kemitraan.
Dia melanjutkan, saat ini yang paling penting diperhatikan dalam melebarkan sayap adalah harus memahami karakter konsumen di negara tujuan.
"Itu yang penting, karena percuma kalau kalau kita punya teknologi semaju apapun, tapi kita tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen disana karena masing-masing negara berbeda," kata dia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (12/11/2013)..
Sekadar informasi, Pudjianto memang tidak secara eksplisit menyebutkan negara yang menjadi tujuan ekspansi. Namun, dia mengisyaratkan ekspansi tersebut berada di negara yang tengah mengalami bencana alam. (kie) (wdi)
Kehadiran Peritel Asing di Daerah Hanya "Trial and Error"
Penulis : Hilda B Alexander | Rabu, 20 November 2013 |
19:51 WIB
BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Kompetisi sengit sektor ritel
(pusat belanja) di beberapa kota di Indonesia sudah mulai menjadi fenomena menarik
untuk diikuti. Pengelola pusat-pusat belanja tersebut berlomba menggandeng
peritel (tenant) yang popular di benak publik.
Untuk peritel utama (anchor tenant), tak sekadar peritel berbendera lokal, asing pun secara intensif didekati. Demi meraup pengunjung, omset dan juga gengsi. Di Medan, Sumatera Utara, contohnya, telah lama dibuka Sogo Department Store dan beberapa gerai pakaian dan kuliner asing di Sun Plaza. Sebentar lagi, Parksson akan beroperasi pada 2014 mendatang di Medan Center Point.
Demikian halnya dengan Solo, Jawa Tengah, yang telah diramaikan oleh Metro Department Store dan Lottemart di The Park Solo. Sementara Balikpapan, merupakan kota pertama di Kalimantan yang akan dimasuki oleh Debenhams Department Store dan juga kelak Sogo Department Store.
Menurut Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia, Anton Sitorus, gejala pesatnya pertumbuhan pusat belanja mulai terjadi pasca krisis finansial global 2008. Setelah krisis, pasar properti yang paling menjanjikan dan memperlihatkan pertumbuhan salah satunya Indonesia.
"Pusat belanja merupakan indikator paling representatif untuk menggambarkan pesatnya pertumbuhan pasar properti di daerah. Hal tersebut terstimulasi oleh pertambahan jumlah kelas menengah yang mencapai 45 juta orang dengan daya beli yang juga meningkat," papar Anton kepada Kompas.com, Rabu (20/11/2013).
Bahkan, McKinsey Global Institute memperkirakan jumlah kelas menengah Indonesia bakal mencapai 135 juta orang pada 2030 mendatang dengan pendapatan perkapita minimum 4.000 dollar AS per tahun.
Sementara Boston Consulting Group memproyeksikan jumlah kelas menengah Indonesia akan melonjak menjadi 141 jiwa pada 2020 mendatang. Jumlah ini hampir berlipat ganda ketimbang 2012 yang mencapai 74 juta orang. Lain lagi dengan Euromonitor International yang merasa yakin kelas menengah Indonesia bertambah menjadi 58 persen dari total populasi pada tujuh tahun ke depan.
Lonjakan jumlah kelas menengah tersebut seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat. Sekaligus melahirkan pola konsumsi baru yang terus bergerak menyesuaikan dinamika pasar.
"Perilaku konsumen kelas menengah sekarang berbeda dengan zaman dulu. Mereka lebih menuntut produk dan jasa yang menawarkan kenyamanan, prestis, dan kelas yang dapat mewakili status dan juga pernyataan sosial mereka. Bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan dasar," ujar Anton.
Oleh karena itu, galib adanya jika peritel global mulai marak memasuki Indonesia saat kelas menengah juga bertumbuh. Kendati, sejatinya, fenonema merebaknya peritel asing sudah terjadi sejak era 1990-an, terutama sejak masuknya nama-nama seperti Sogo Department Store, Carrefour, Metro Department Store, ACE Hardware, Marks&Spencer, Circle K, ToysRus dan Kinokuniya.
Tahun ini, peritel asal Jepang mendominasi. Salah satunya adalah pelaku usaha makanan dan minuman internasional yang membuka cabang perdananya seperti Washoku Sato di Central Park. Selain itu, terdapat peritel yang menjajakan busana kerja iRoo asal Taiwan, TM Lewis asal Inggris yang membuka gerai di Pacific Place, serta H&M asal Swedia yang membuka gerai di Gandaria City dan Pondok Indah Mall. Desainer Emilio Pucci asal Italia dan McQ bahkan sudah membuka gerai perdana di Plaza Senayan.
Anton menengarai, kehadiran peritel asing tersebut juga didorong oleh perilaku konsumsi orang Indonesia yang sangat royal dalam berbelanja terutama untuk makanan dan minuman. Mereka menghabiskan sekitar 75 miliar dollar AS per tahun. Sementara konsumsi untuk pakaian dan apparellainnya sebesar 22 miliar dolar AS per tahun.
Kendati demikian, kata Anton, kehadiran peritel sekelas Debenhams, Sogo dan juga Metro Department Store di daerah (terutama kota kedua), lebih merupakan trial and error.
"Prospek tetap ada, akan tetapi secara jangka panjang masih harus dibuktikan apakah mereka bisa bertahan atau tidak. Mitra Adi Perkasa sebagai pemegang lisensi Debenhams dan Sogo tentu sudah memperhitungkan hal ini, demikian juga halnya dengan Transmahagaya," imbuh Anton.
Terlebih lagi, menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kalimantan Timur, Agustinus, Balikpapan dan kota-kota lainnya di Kalimantan masih bermasalah dengan pasokan listrik.
"Hal ini sangat menghambat kelangsungan operasional pusat belanja dan sering dikeluhkan oleh peritel. Tak heran bila rental rate di Balikpapan sangat tinggi, rerata Rp 350.000/m2/bulan di luar biaya servis dan tarif tertinggi sudah mencapai Rp 950.000/m2/bulan di luar biaya servis," jelas Agustinus.
Untuk peritel utama (anchor tenant), tak sekadar peritel berbendera lokal, asing pun secara intensif didekati. Demi meraup pengunjung, omset dan juga gengsi. Di Medan, Sumatera Utara, contohnya, telah lama dibuka Sogo Department Store dan beberapa gerai pakaian dan kuliner asing di Sun Plaza. Sebentar lagi, Parksson akan beroperasi pada 2014 mendatang di Medan Center Point.
Demikian halnya dengan Solo, Jawa Tengah, yang telah diramaikan oleh Metro Department Store dan Lottemart di The Park Solo. Sementara Balikpapan, merupakan kota pertama di Kalimantan yang akan dimasuki oleh Debenhams Department Store dan juga kelak Sogo Department Store.
Menurut Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia, Anton Sitorus, gejala pesatnya pertumbuhan pusat belanja mulai terjadi pasca krisis finansial global 2008. Setelah krisis, pasar properti yang paling menjanjikan dan memperlihatkan pertumbuhan salah satunya Indonesia.
"Pusat belanja merupakan indikator paling representatif untuk menggambarkan pesatnya pertumbuhan pasar properti di daerah. Hal tersebut terstimulasi oleh pertambahan jumlah kelas menengah yang mencapai 45 juta orang dengan daya beli yang juga meningkat," papar Anton kepada Kompas.com, Rabu (20/11/2013).
Bahkan, McKinsey Global Institute memperkirakan jumlah kelas menengah Indonesia bakal mencapai 135 juta orang pada 2030 mendatang dengan pendapatan perkapita minimum 4.000 dollar AS per tahun.
Sementara Boston Consulting Group memproyeksikan jumlah kelas menengah Indonesia akan melonjak menjadi 141 jiwa pada 2020 mendatang. Jumlah ini hampir berlipat ganda ketimbang 2012 yang mencapai 74 juta orang. Lain lagi dengan Euromonitor International yang merasa yakin kelas menengah Indonesia bertambah menjadi 58 persen dari total populasi pada tujuh tahun ke depan.
Lonjakan jumlah kelas menengah tersebut seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat. Sekaligus melahirkan pola konsumsi baru yang terus bergerak menyesuaikan dinamika pasar.
"Perilaku konsumen kelas menengah sekarang berbeda dengan zaman dulu. Mereka lebih menuntut produk dan jasa yang menawarkan kenyamanan, prestis, dan kelas yang dapat mewakili status dan juga pernyataan sosial mereka. Bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan dasar," ujar Anton.
Oleh karena itu, galib adanya jika peritel global mulai marak memasuki Indonesia saat kelas menengah juga bertumbuh. Kendati, sejatinya, fenonema merebaknya peritel asing sudah terjadi sejak era 1990-an, terutama sejak masuknya nama-nama seperti Sogo Department Store, Carrefour, Metro Department Store, ACE Hardware, Marks&Spencer, Circle K, ToysRus dan Kinokuniya.
Tahun ini, peritel asal Jepang mendominasi. Salah satunya adalah pelaku usaha makanan dan minuman internasional yang membuka cabang perdananya seperti Washoku Sato di Central Park. Selain itu, terdapat peritel yang menjajakan busana kerja iRoo asal Taiwan, TM Lewis asal Inggris yang membuka gerai di Pacific Place, serta H&M asal Swedia yang membuka gerai di Gandaria City dan Pondok Indah Mall. Desainer Emilio Pucci asal Italia dan McQ bahkan sudah membuka gerai perdana di Plaza Senayan.
Anton menengarai, kehadiran peritel asing tersebut juga didorong oleh perilaku konsumsi orang Indonesia yang sangat royal dalam berbelanja terutama untuk makanan dan minuman. Mereka menghabiskan sekitar 75 miliar dollar AS per tahun. Sementara konsumsi untuk pakaian dan apparellainnya sebesar 22 miliar dolar AS per tahun.
Kendati demikian, kata Anton, kehadiran peritel sekelas Debenhams, Sogo dan juga Metro Department Store di daerah (terutama kota kedua), lebih merupakan trial and error.
"Prospek tetap ada, akan tetapi secara jangka panjang masih harus dibuktikan apakah mereka bisa bertahan atau tidak. Mitra Adi Perkasa sebagai pemegang lisensi Debenhams dan Sogo tentu sudah memperhitungkan hal ini, demikian juga halnya dengan Transmahagaya," imbuh Anton.
Terlebih lagi, menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kalimantan Timur, Agustinus, Balikpapan dan kota-kota lainnya di Kalimantan masih bermasalah dengan pasokan listrik.
"Hal ini sangat menghambat kelangsungan operasional pusat belanja dan sering dikeluhkan oleh peritel. Tak heran bila rental rate di Balikpapan sangat tinggi, rerata Rp 350.000/m2/bulan di luar biaya servis dan tarif tertinggi sudah mencapai Rp 950.000/m2/bulan di luar biaya servis," jelas Agustinus.
Kamis, 25 Juli 2013
Electronic City Targetkan Pendapatan Rp2,1 T
JAKARTA - PT
Electronic City Indonesia menargetkan pertumbuhan pendapatan sebanyak 50 persen
atau menjadi Rp2,1 triliun pada tahun ini bila dibandingkan pendapatan
perseroan di tahun lalu sebesar Rp1,43 triliun.
Direktur Utama Electronic City Ingrid Pribadi mengatakan, adapun target yang diperoleh perseroan melalui penjualan elektronik dan rencana perseroan untuk ekspansi hingga akhir tahun, melalui penambahan 30 toko barunya.
"Tahun ini kita banyak ekspansi, kami optimistis. Yang salah satunya, perseroan berencana membangun 30 toko baru untuk tahun ini," ujar Ingrid Pribadi, usai press conference di Hotel Hyatt, Jakarta, Rabu (5/6/2013).
Sementara itu, lanjut Ingrid, dengan penambahan sejumlah toko baru tersebut. Lanjut ia, pihaknya optimistis akan pertumbuhan penjualan yang mencapai lebih dari 50 persen.
"Adanya pertumbuhan penjualan 50 persen kita harap bisa meraih pertumbuhan net income pada level sembilan hingga 10 persen bila dibandingkan pencapaian tahun lalu," tutup dia. (wdi)
Direktur Utama Electronic City Ingrid Pribadi mengatakan, adapun target yang diperoleh perseroan melalui penjualan elektronik dan rencana perseroan untuk ekspansi hingga akhir tahun, melalui penambahan 30 toko barunya.
"Tahun ini kita banyak ekspansi, kami optimistis. Yang salah satunya, perseroan berencana membangun 30 toko baru untuk tahun ini," ujar Ingrid Pribadi, usai press conference di Hotel Hyatt, Jakarta, Rabu (5/6/2013).
Sementara itu, lanjut Ingrid, dengan penambahan sejumlah toko baru tersebut. Lanjut ia, pihaknya optimistis akan pertumbuhan penjualan yang mencapai lebih dari 50 persen.
"Adanya pertumbuhan penjualan 50 persen kita harap bisa meraih pertumbuhan net income pada level sembilan hingga 10 persen bila dibandingkan pencapaian tahun lalu," tutup dia. (wdi)
Rabu, 05 Juni 2013 16:38 wib
Rezkiana Nisaputra - Okezone
Senin, 28 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

