Senin, 10 Februari 2014

Kejar Target, Sentul City Resmikan Giant Ekstra




Penulis : Latief | Jumat, 7 Februari 2014 | 16:50 WIB 


M Latief/KOMPAS.com
PT Sentul City Tbk (BKSL) meresmikan pusat perbelanjaan baru Giant Ekstra. Tampak dalam gambar Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarief Hassan (tengah) didampingi Wakil Bupati Bogor Nurhayanti (ketiga dari kiri), CEO Giant Philippe Broianigo (ketiga dari kanan), Direktur Utama Sentul City Cahyadi Kumala (kedua dari kanan) dan Wakil Direktur Utama Andrian Budi Utama (kedua dari kiri) memotong pita.
BOGOR, KOMPAS.com - PT Sentul City Tbk (BKSL) meresmikan fasilitas baru perbelanjaan terbaru Giant Ekstra, Jumat (7/2/2013). Direktur Sentul City Hartan Gunadi mengatakan fasilitas pusat perbelanjaan baru ini menjadi bagian dari komitmen Sentul City menjadi ikon baru di selatan Jakarta.

"Kami berencana membangun kawasan pembengunan terintegrasi, seperti pusat perbelanjaan, apartemen kelas atas, perkantoran, rumah sakit, hotel, dan sekolah bertaraf internasional, semuanya kami targetkan berdiri di Sentul City," ungkap Hartan.

Sebelumnya, tahun lalu Sentul City juga telah membangun fasilitas wisata Pasar Apung, Rumah Sakit Pertamedika Sentul yang bekerjasama dengan PT Pertamina Bina Medika, serta fasilitas hiburan Jungleland, dan pembangunan Universitas Trisaksti.

Wirry Tjandra, Direktur Komersial PT Hero Supermarket Tbk. mengatakan, Giant Ekstra Sentul City berdimensi 21.443,53 meter persegi dengan tenant mencapai 30 tenant. Ia mengaku optimistis potensi Sentul City sangat besar untuk lokasi pusat perbelanjaan.

"Sehingga gerai kami yang ke-51 ini kami bangun di sini," kata Wirry.

Ia mengatakan, Hero sendiri menargetkan tahun ini dapat menambah gerai Giant sebanyak 30-40 gerai.

Target Sentul City

Terkait pengembangan, Wakil Direktur Utama Andrian Budi Utama mengatakan, Giant Ekstra dibangun di kawasan Central Business District (CBD) seluas 30 hektar. Saat ini, CBD Sentul City sudah terbangun 8 hektar.

"Ke depan di Sentul City akan dibangun tiga sampai 4 CBD," kata Andrian.

Sampai saat ini, lanjut dia, Sentul City sudah mengeluarkan investasi sebesar Rp 2 triliun untuk mengembangkan CBD tersebut. Tahun 2014 ini, Sentul City menargetkan penjualan (marketing sales) sebesar Rp 2 triliun.

"Tahun lalu kami meraih penjualan sebesar Rp 1,5 triliun, ini naik tajam dibandingkan perolehan di 2012 yang sebesar Rp 600 miliar," ungkapnya.

Adapun tahun ini Sentul City telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga Rp 800 miliar.

"Karena tahun ini kami akan meluncurkan 10 klaster baru di Sentul City, selain juga membangun apartemen, kondotel, serta perkantoran," kata Andrian.

http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/02/07/1650293/Kejar.Target.Sentul.City.Resmikan.Giant.Ekstra
 

Windows XP Berakhir, Bahaya Mengancam Mesin Kasir



KOMPAS.com - Selain mesin ATM, salah satu jenis perangkat keuangan lainnya yang ikut terancam dengan penghentian dukungan atas Windows XP adalah mesin kasir. Mayoritas alat yang biasa ditemui di toko-toko ritel besar ini memang turut menggunakan sistem operasi lawas tersebut.

Tepatnya, OS yang dijalankan adalah Windows XP versi embedded yang dirancang untuk alat-alat selain PC, termasuk juga mesin ATM. Firma keamanan Symantec memperingatkan bahwa perangkat mesin kasir atau pont-of-sale (POS) yang berbasis sistem operasi lawas tersebut memiliki risiko keamanan.

"(Dihentikannya dukungan Microsoft terhadap Windows XP) Akan berakibat pada meningkatnya peluang serangan cyber yang berhasil dilakukan terhadap operator POS. Operator POS harus memiliki perencanaan untuk mengantisipasi deadline tersebut," tulis Symantec dalam sebuah laporan sepanjang 12 halaman yang dikutip oleh PCWorld.

Risiko serangan itu sangat nyata. Serangan cyber terhadap toko ritel pun sudah pernah terjadi, misalnya kejadian besar yang menimpa sistem milik jaringan ritel Target dan Neiman Marcus di Amerika Serikat baru-baru ini.

Dalam kasus tersebut, hacker menyusupkan malware yang menyadap data kartu kredit pelanggan. Sebanyak 40 juta rekaman kartu kredit yang tersimpan di sistem Target, berikut 70 juta rekaman lainnya, berhasil dilacak penjahat cyber. Ini adalah salah satu kasus pembobolan data terbesar yang pernah terjadi.

Symantec menjelaskan, peretas dapat dengan mudah memodifikasi malware Windows yang sudah ada untuk menyerang terminal mesin kasir, karena mesin itu pun menggunakan sistem operasi serupa. "Ini berarti penyerang tak perlu kemampuan khusus untuk meretas sistem POS."

Orila Cox, manajer senior di Security Intelligence Delivery Symantec, menjelaskan bahwa pencurian data kartu kredit kemungkinan akan terus terjadi karena data kartu yang dicuri memiliki "keterbatasan masa berlaku".

"Perusahaan kartu kredit bisa dengan cepat mengendus adanya transaksi tak wajar, begitu pula dengan pemilik kartu yang awas," ujar Cox. "Ini berarti para pelaku kriminal membutuhkan aliran nomer kartu kredit yang 'segar' secara terus menerus."
Sumber: PCWorld
Editor: Reza Wahyudi

http://tekno.kompas.com/read/2014/02/08/1355307/Windows.XP.Berakhir.Bahaya.Mengancam.Mesin.Kasir

Minggu, 15 Desember 2013

Kelas Menengah dan Geliat Sektor Konsumsi

Oleh Nadia Kusuma Dewi | Kamis, 5 Desember 2013 | 0:59

Lembaga riset AC Nielsen memperkirakan, masyarakat kelas menengah di Asia Tenggara akan tumbuh 110,5% dari 190 juta orang pada 2012 menjadi 400 juta orang pada 2020 dengan Indonesia sebagai kontributor pertumbuhan tertinggi.

Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%. Hasil survei AC Nielsen menunjukkan 48% dari total belanja fast moving consumer goods (FMCG) berasal dari masyarakat kelas menengah. Sejalan dengan Nielsen, survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia periode Oktober 2013 mulai menguat ke level 109,5 setelah mengalami tren perlambatan selama tiga bulan terakhir pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 lalu.

IKK Indonesia pada Juli 2013 berada pada level 108,4, turun cukup signifikan dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 117,1. Hal tersebut mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan permintaan dari sisi rumah tangga. Namun demikian, IKK tersebut masih berada pada level optimistis.

Sementara itu, survei penjualan eceran yang dilakukan BI juga menunjukkan indeks penjualan riil Oktober 2013 diperkirakan mulai naik kembali setelah dua bulan sebelumnya mengalami penurunan. Meskipun mengalami penurunan, indeks penjualan riil Agustus dan September 2013 masih lebih tinggi dibandingkan posisi Agustus dan September 2012.

Dari ketiga survei tersebut di atas tampak terlihat dengan jelas adanya kaitan erat antara jumlah kelas menengah di Indonesia yang terus tumbuh dan meningkatnya sektor konsumsi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, pada 2013 ini, omzet ritel modern diperkirakan tumbuh 10% - 11%, dengan total penjualan mencapai Rp150 triliun. Pertumbuhan sektor ritel pada 2014 diperkirakan meningkat dari tahun ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik.

Faktor lain yang diperkirakan banyak mendorong permintaan sektor ritel adalah adanya agenda nasional, yaitu hajatan Pemilu 2014. Pemilu akan memberikan dampak positif terhadap consumer spending seiring dengan meningkatnya perputaran uang masa itu. Dalam hal ini, konsumsi masyarakat cenderung meningkat sejak kuartal pertama di tahun dan sepanjang periode Pemilu 2014, kemudian melambat di kuartal berikutnya.

Tujuan Investasi Ritel AT Kearney’s Global Retail Development Index (GRDI) menempatkan Indonesia pada peringkat 19 negara berkembang untuk tujuan investasi ritel. Negara-negara Asia yang masuk dalam Top 30 GRDI, antara lain, Tiongkok (4), Malaysia (13), dan India (peringkat 14).

Menyadari besarnya potensi pasar ritel Indonesia, banyak pemain asing yang tertarik masuk dalam bisnis ini. Beberapa peritel asing yang cukup agresif berekspansi, yakni Carrefour (Prancis), Giant (Malaysia), Lotte (Korea Selatan), 7-Eleven (AS), Circle K (AS), dan Sogo (Jepang). Peritel asing diperkirakan masih akan terus membanjiri pasar Indonesia jika melihat proyeksi pertumbuhan kelas menengah dan daya beli konsumen lokal yang terus meningkat.

Dilihat dari sisi pasar modal, consumer sector juga masih dipandang menarik bagi para investor. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sektoral sepanjang tahun ini yang mencatat sektor industri barang konsumsi adalah yang paling tinggi di antara sektor-sektor lainnya. Per akhir November 2013, indeks harga saham sektoral untuk sektor industri barang konsumsi tumbuh sebesar 12,3% year to date (YTD), sementara IHSG malah turun 1,4%YTD.

Pertumbuhan ritel modern terutama terjadi pada format minimarket, convenience store, dan hypermarket. Shareperdagangan FMCG minimarket mengalami kenaikan tertinggi, yaitu dari 5% pada 2002 menjadi 21% pada 2011. Format minimarket, termasuk convenience store, mengalami perkembangan yang sangat pesat, didorong oleh ekspansi usaha Alfamart dan Indomaret yang menguasai sekitar 88% pangsa pasar pada format ini.

Menurut proyeksi Euromonitor, penjualan minimarket diperkirakan tumbuh rata-rata 16% per tahun pada 2013-2015. Penjualan hypermarket diperkirakan tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015. Carrefour masih mendominasi pasar hypermarket meskipun pangsanya mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, diambil oleh Hypermartdan Giant. Penjualan department store diperkirakan juga tumbuh rata-rata 15% per tahun pada 2013-2015.

Sementara itu, pangsa pasar supermarket dalam format ritel modern terus mengalami penurunan, dipengaruhi oleh beralihnya preferensi konsumen ke format ritel modern lainnya, terutama minimarket/convenience store danhypermarket.

Rencana ekspansi beberapa perusahaan ritel modern tahun 2013 cukup pesat. Hal tersebut menyebabkan persaingan usaha yang semakin ketat, baik dalam suatu format ritel maupun antarformat ritel. Persaingan juga dapat menyebabkan munculnya fenomena kanibalisme dalam industri ritel. Ekspansi dan persaingan paling ketat diperkirakan terjadi pada format minimarket. Tantangan Pasar Ritel Meskipun potensi pasar ritel masih menjanjikan, tantangan yang dihadapi sektor ini juga semakin besar.

Selain dari sisi persaingan, biaya operasional yang dihadapi peritel meningkat. Regulasi pemerintah, baik pusat maupun daerah juga semakin ketat. Biaya tenaga kerja, sewa gedung, dan listrik merupakan porsi terbesar dalam struktur biaya operasional peritel (60%-80%), dengan biaya tenaga kerja berkontribusi sekitar 30%-40% sendiri. Tarif sewa ruang ritel di kota besar seperti Jakarta mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2013.

Demikian juga dengan service charge ruang ritel, terkait kenaikan tarif dasar listrik dan UMP. Sementara itu, persaingan yang ketat seringkali juga mendorong naiknya biaya iklan dan promosi. Untuk peritel yang menjual produk dengan import content tinggi, fluktuasi rupiah menjadi concern mengingat rupiah memang tertekan tahun ini.

Tantangan lain yakni terkait regulasi. Pada 2012 lalu, Kementerian Perdagangan merilis revisi aturan penyelenggaraan waralaba melalui Permendag No 68/M-DAG/PER/ 10/2012 tentang waralaba untuk jenis usaha toko modern. Dalam regulasi ini, pemberi waralaba dan penerima waralaba untuk jenis usaha toko modern dapat mendirikan gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri paling banyak 150 gerai.

Para pelaku usaha dapat memahami spirit positif kebijakan tersebut. Namun demikian, beberapa pihak masih melihat adanya celah ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi implementasi kebijakan ini di lapangan. Sebut saja, misalnya, indikasi belum terbentuknya tim penilai yang akan menentukan apakah suatu perusahaan dapat dikecualikan dari peraturan tersebut.


Nadia Kusuma Dewi
Analis industri PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk

Ambisi Watsons Menjadi Ritel No.1 di Asia




Pembukaan “Watsons WOW Store” pada hari Kamis, 19 September 2013 di Mal Pondok Indah dan Mal Kelapa Gading ini merupakan wujud nyata komitmen Watsons, untuk menjadi perusahaan ritel yang terbaik. Khususnya untuk produk-produk kategori kecantikan dan kesehatan (Health and Beauty), di mana dengan konsep WOW ini, Watsons Indonesia di harapkan dapat meningkatkan pelayanan dan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi para pelanggan.
Konsep Watsons Wow Store ini merupakan pilot project (inovasi baru) yang dijalankan Watsons Indonesia dalam pelayanannya terhadap pelanggan, dimana konsep ini juga akan diterapkan disetiap toko ritel Watsons diseluruh Indonesia.

Watsons adalah retailer produk kesehatan dan kecantikan terkemuka di Asia yang sekarang mengoperasikan 3.500 toko ritel dan 900 lebih toko ritel farmasi di pasar Asia dan Eropa, termasuk China (China, Hongkong, Taiwan dan Makau), Singapura, Thailand, Malaysia, Fhilipina, Korea, Indonesia, Turki, dan Ukraina.
Perusahaan ini merupakan bagian dari A.S Watsons Group, salah satu grup terbesar di Hong Kong dengan brand Watsons yaitu your personal store. Saat ini, di Indonesia sudah ada 25 toko dan pada akhir tahun jumlah toko menjadi 33.
Berikut hasil wawancara reporter SWA, Nidaaul Khasanah dengan Kyutae Park, Country Manager Watsons Indonesia, eksekutif berkebangsaan Korea yang lahir tahun 1971. Kyutae Park memiliki hobi berenang, menonton film, dan menghabiskan waktunya dengan 2 orang anaknya. Pria ini juga lulusan Master Business Administration di salah satu universitas di Korea.
Apa tujuan launching outlet Watson?
Tujuan dari diresmikannya Watsons ini adalah untuk meningkatkan brand awarness pada target market yang dituju, serta diharapkan dapat meningkatkan penjualan.
Apa yang menarik dari perusahaan ini?
Saya sangat tertarik di perusahaan ini. Karena spesial dalam kesehatan dan kecantikan. Biasanya konsumen yang datang wanita yang lebih tua dan menggunakan produk kami, kamu juga dapat melihat semakin banyak merek kami yang membantu para wanita yang membuat mereka lebih cantik.
Apa perbedaan dengan toko retail lainnya?
Kami selalu mencoba berkreasi suasana berbelanja dengan lebih banyak produk. Itu konsep kami. Kami akan memberikan pelayanan yang sangat baik, dibanding kompetitor lainnya.

Siapa target pasar yang dituju?
Fokus kami memang perempuan tapi juga pria yang metroseksual. Di negara lain banyak produk untuk laki-laki, di Indonesia juga ada produk-produk Watsons untuk pria.
Pabrik dari produk-produk Watsons di mana saja?
Merek kami dari seluruh dunia. Kamu dapat menemukan banyak pabrik di Korea, Thailand, China, India, Indonesia, Eropa, dan Malaysia.
Apa tanggung jawab Anda sebagai Country Manager?
Tanggung jawab saya mensukseskan pengembangan bisnis Watsons di Indonesia.
Mempunyai berapa karyawan di Indonesia?
Sejauh ini 350 karyawan. Setiap bulannya bertambah 30 orang kayawan. Kami ingin terus bertambah setiap bulan. Setiap hari menerima banyak karyawan. Saya percaya ekspensi Watsons ikut berkontribusi dalam bidang ekonomi. Saya membutuhkan lebih dari 1.000 karyawan.

Prestasi apa yang pernah didapat?
Selama ini saya hanya fokus pada bisnis. Saya adalah orang yang meningkatkan promosi.  Hal yang paling penting mendapatkan cinta dari konsumen.
Tantangan apa yang Anda alami?
Saya rasa tidak punya tantangan karena ini bukan kompetisi. Saya rasa ini proses yang natural. Kamu bisa melihat kompetisi dimana saja di dunia.
Apa suka dan duka yang pernah dialami?
Saya kebanyakan sukanya. Saya enjoy tinggal di Jakarta.
Apa rencana Anda ke depan?
Untuk sekarang market retail di Indonesia, saya memiliki rencana ekspresif yang sangat agresif. Saya akan membuka toko setiap bulan. Bulan depan kami akan membuka peluncuran toko. Di Cilegon, Cipinang Indah, dan Cibinong. Pada saat ini Watsons Indonesia telah mempunyai 25 toko retail yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bandung. Pada bulan September ini akan membuka satu toko retail di wilayah Cibubur. Ditahun 2013 menargetkan  lebih dari 33 tahun 2014 akan nambah 30 toko retail dan masih akan terus bertambah. Saya ingin lebih 200 toko untuk 3-4 tahun ke depan.
Apa ambisi Anda ke depan?
Ambisi saya adalah Watsons menjadi market retail no 1 di Asia. Seperti halnya di China Maalysia, Singapura, dan Thailand, ketika kita kesana kita menemukan Watsons. (Nidaaul Khasanah)

Ajang Pameran Ritel Terbesar Digelar di Jerman



Sektor ritel merupakan salah satu bisnis yang  masih sangat menarik untuk terus maju. Tapi rupanya bisnis ritel secara global menghadapi tantangan besar karena adanya perubahan perlikau konsumen. Tak bisa dipungkuri konsumen yang semakin cerdas dan melek terhadap teknologi menjadi suatu tantangan tersedendiri bagi pemain bisnis ritel. Terlebih lagi dengan bertamabahnya bisnis e-commerce di Indonesia.
Press Conference EuroShop 2014
Seperti yang diungkapakan oleh Pudjianto, Ketua Umum Aprindo, dalam 5 tahun terakhir terdapat pertumbuhan yang baik, bahkan untuk FMCG dalam 5 tahun kebelakang selalu mengalami pertumbuhan doubel digit. “Ini didorong dengan perekonomian Indonesia yang terbilang masih bagus dan mungkin saja dalam lima tahun ke depan e-commerce akan juga ikut bertumbuh,” ujarnya.
Perubahan perlikau konsumen ini bisa disiasati dengan membuat desain toko yang lebih atraktif. Para pelaku industri retail dapat memanfaatkan event besar EurosShop yang akan diadakan tahun depan di Duesseldorf, Jerman. Perubahan perilaku membeli para konsumen dan meningkatnya kepentingan secara online menghadirkan konsekuensi yang luar biasa pada desain tempat jual produk ritel.
“Pada banyak sektor di masa depan pembeli akan memcari kelebihan apa membeli produk langsung di tokonya. Pada saat yang bersamaan, konsultasim pelayanan, dan interaksi langsung dengan konsumen menjadi pembeda penting dari membeli barang melalui situs online,” jelas Ulrich Spaan, SCP EHI Retail Institute Cologne, Germany.
Pameran yang akan digelar tahun depan depan pelaku ritel dapat melihat dan mencoba berbagai teknologi yang dapat meningkatkan nilai pada toko. Sehingga pembeli tetap tertarik untuk belanja langsung ke toko. EuroShop tahun depan akan dilangsungkan di ruang pameran seluas 110775 m2 yang tentu saja akan membawa lebih banyak exhibitor di bidang ritel.
Direktur PT Wahana Kemalaniaga sebagai representative dari Dusseldorf and Brno Trade Fairs, Rini Sumardi menyamapikan tahun depan ada satu exhibitor berasal dari Jakarta. Selain itu ia juga menambahkan menargetkan lebih dari 100 pengunjung akan ikut dalam eksebisi ini. EuroShop tahun depan juga akan diselenggarakan secara bersamaan dengan Retail Design Conference.
“EuroShop 2014 adalah tempat di mana konsep desain toko dapat dibahas dalam dialog langsung, di mana solusi ritel dapat dirasakann lebih dekat,” jelas Elke Moebius, Director EuroShop, Messe Dusseldorf GmbH, penyelenggara EuroShop. (EVA)

Survei Kantar Worldpanel: 49,8% Konsumen Split Loyal terhadap Produk FMCG

Posted on December 6, 2013 by Darandono


Kenaikan harga BBM dan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS berdampak terhadap kinerja industri  fast moving consumer goods (FMCG). Apalagi hal ini diikuti pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan hanya menyentuh 5,7% dan di bawah target 6%, akan berdampak terhadap seluruh industri. Salah satunya adalah industri FMCG.

Berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan riset Kantar Worldpanel terhadap 7 ribu rumah tangga untuk 70 kategori produk FMCG (produk makanan ataupun non-makanan) setiap minggu di Indonesia, tentang tren perilaku konsumen Indonesia, ternyata ada empat tipe loyalitas pelanggan di Indonesia, yakni 100% Loyals, Shifting Loyals (loyalitas di antara dua pilihan merek), Split Loyals, dan Switcher (yang suka gonta-ganti merek).
“Sebanyak 49,8% konsumen Indonesia masuk ke dalam golongan Split Loyal. Sisanya tipe Loyals (20,7%), Shifting Loyals (18,2%) dan Switchers (11,3%),” kata  Andrew Foster,  Expert Service Director, Regional Centre of Excellence Kantar WorldPanel Asia.
Untuk produk mie instan  misalnya, tipe pelanggan Split Loyals justru mendominasi, dengan angka 76,1%, sedangkan  Switchers 19,4%, Shifting Loyals 2,5%, dan 100% loyals hanya 2,1%. Begitu juga untuk kategori kopi instan, tipe Split Loyals dan Switchers sangat mendominasi. Split Loyals mencapai 50,2% dan Switchers mencapai 44,9%. Sisanya, Shifting Loyals 3% dan 100% Loyals yang hanya 1,9%.
Sedangkan untuk kategori susu bubuk pertumbuhan, 100% Loyals mencapai 39,6%,  Split Loyals mencapai 35,9%, dan Shifting Loyals sekitar  23,6%. Angka tersebut berbeda dengan kategori susu kental, yang justru jumlah Split Loyals-nya mencapai 50,8%. Sedangkan untuk katagori laundry detergent, pelanggan terbanyak datang dari mereka yang Split Loyals, mencapai 70%, begitu juga untuk katagori pasta gigi, Split Loyals mencapai 47,6%, dan 100% Loyals mencapai 31,6%, dan Shifting Loyals mencapai 20,5%.
Diakui Fabrice Carrasco, Managing Director Indonesia-Vietnam-Philippines Kantar WorldPanel (KWP), sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki perilaku konsumtif dan menyukai barang-barang baru. Bahkan rela untuk menghabiskan sebagian pendapatan mereka untuk membeli produk baru yang sedang tren. “Di negara lain hanya ditopang kinerja ekspor maupun belanja pemerintah namun di Indonesia pada konsumsi domestik. Saya menyarankan pemerintah terus menjaga pertumbuhan konsumsi agar tidak mengalami penurunan,” tambahnya.
Lim Soon Lee, GM Kantar Worldpanel Indonesia,  menambahkan kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu membuat beban pengeluaran rumah tangga di Indonesia menjadi bertambah. Hal ini memberikan pengaruh terhadap pembelanjaan mereka pada produk-produk FMCG seperti makanan, minuman, perawatan tubuh, dan perawatan rumah tangga. Namun konsumsi domestik tidak anjlok pertumbuhannya karena pemerintah sudah memberikan program kompensasi. Tapi, kenyataannya, konsumen Indonesia hampir selalu bisa beradaptasi dalam keadaan sulit. “Beberapa brand baru produk FMCG justru mengalami kenaikan yang signifikan setelah pertama kali dilaunching di pasaran,” ujar Soon Lee.
Menurut Nadya Ardianti, Account Director Kantar Worldpanel Indonesia, di tengah ramainya perusahaan-perusahaan FMCG menawarkan produk dengan ukuran kecil (sachet), produk kemasan besar menawarkan potensi yang besar dalam meningkatkan tingkat konsumsi konsumen Indonesia. Produk dalam kemasan sachet memang belum bisa digantikan peranannya, khususnya dalam menarik konsumen baru agar mencoba suatu brand. Namun, para pelaku bisnis FMCG mau tidak mau harus keluar dari bayang-bayang kemasan sachet untuk dapat meningkatkan tingkat konsumsi dari konsumen di Indonesia. (EVA)

PENGAMAT PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2014 ENAM PERSEN


Oleh Cipto - Rubrik Ekonomi Bisnis
05 September 2013 10:01:00 WIB
WE.CO.ID - Pengamat ekonomi Hendri Saparini memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 sebesar enam persen, hampir sama dengan pemerintah yang telah merevisi ke bawah asumsi pertumbuhan ekonomi dari 6,4 persen menjadi 5,9-6,1 persen.

"Pertumbuhan ekonomi 2014 tidak akan jauh dari pertumbuhan ekonomi 2013, sekitar enam persen," ujar Hendri saat rapat dengar pendapat umum dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Rabu (4/9/2013).

Menurut Hendri, kondisi eksternal masih akan berpengaruh terhadap perekonomian di Tanah Air pada 2014 namun diperkirakan akan relatif lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi 2013.

"Pada saat Amerika mengurangi stimulusnya akan berdampak bagi indonesia baik di sektor keuangan maupun non keuangan," kata Hendri.

Ia menambahkan, kondisi ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor Indonesia juga akan mengalami perbaikan sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan kembali ekspor.

"Sayang China dan Jepang tidak akan ada peningkatan yang signifikan padahal ekspor kita lebih dari 50 persen ke sana," ujarnya.

Namun Hendri menuturkan, kendati nanti sejumlah negara tujuan ekspor Indonesia mengalami perbaikan namun umumnya permintaan yang dibutuhkan negara-negara tersebut yakni barang jadi, sementara Indonesia sebagian besar mengekspor bahan baku dan energi.

"Ekspor kita 60-70 persen itu energi dan bahan baku. Kalau mau mendorong ekspor apakah ada pasar baru. Berbeda dengan China yang 90 persen ekspornya barang jadi," kata Hendri. (Ant)

Redaksi