Senin, 05 Agustus 2013

KOMPLOTAN PENGUTIL SOLO

Siasati Metal Detektor, Lepas Barcode Barang Curian


Minggu, 4 Agustus 2013 19:57 WIB | Rudi Hartono/JIBI/SOLOPOS 
Steven Solomon (baju tahanan)Minggu (4/8) diperiksa petugas Polresta Solo setelah tertangkap mencuri beberapa barang di Superindo, Jl Adi Sucipto, Solo, Tersangka beraksi bersama delapan rekannya dengan modus melepas barcode. (JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, SOLO – Polresta Solo berhasil membekuk salah satu anggota komplotan pengutil alias para pencuri di supermarket. Steven Salomon warga Mangga, Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara ditangkap Jumat (26/7/2013) saat beraksi di Lion Superindo Jajar Solo. Bagaimana Steven beraksi?
Dalam aksinya mereka melibatkan beberapa orang dengan tugasnya masing-masing. Tersangka merencanakan pencurian itu saat dalam perjalanan dari Jakarta menuju Solo.
Dalam perencanaan itu tersangka mendapat tugas sebagai pengawas dan pengecoh. Sementara ada temannya yang melakukan pencurian.  ketika temannya yang lain mengeksekusi.
Rekan-rekan tersangka mencuri dengan cara melepas stiker barcodedan captage atau tali pengaman yang ada di barang-barang sasaran pencurian.
Sehingga, ketika barang-barang dibawa keluar supermarket, dinding detektor tidak berbunyi.
Selain mengawasi dan mengecoh, tersangka diketahui turut membawa hasil kejahatan. Tak beruntung baginya, ia tidak mengetahui teman-temannya telah keluar dari supermarket dengan membawa barang-barang curian menggunakan satu unit mobil.
Saat ia keluar dari supermarket dinding detektor berbunyi. Karena pada saat itu ia membawa sejumlah barang yang pengamannya belum terlepas.
Petugas satpam pun langsung menangkap dan menggelandangnya ke Polresta Solo

Senin, 29 Juli 2013

40% Stok Produk Carrefour Berasal Dari UKM

Rista Rama Dhany - detikfinance
Jumat, 19/04/2013 15:35 WIB

Jakarta - Corporate Affairs Director PT Trans Retail Indonesia, Adji Srihandoyo mengungkapkan setelah 4 (empat) bulan diakuisisi penuh, Carrefour terus meningkatkan produk-produk yang berasal dari Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Saat ini stok produk-produk di Carrfour 40% berasal dari produk UKM," ujar Adji, di acara Peringatan Hari Konsumen Nasional di "Jumpa Pelanggan" di Store Carrefour Lebak Bulus bersama Dirjen Perdagangan RI, Jumat (19/4/2013).

Dikatakan Adji, namun walau berasal dari UKM Carrefour memastikan produk tersebut tetap segar, aman dan murah bagi konsumen.

"Kami juga tahu kalau konsumen bagi kami penting, untuk menjaga konsumen tidak pindah ke 'sebelah' produk kami harus berkualitas, variasi, nyaman berbelanja seperti di rumah sendiri," ungkapnya.

Empat bulan setelah diakuisisi 100% oleh CT Corp, Carrfour masih membenahi kondisi internal.

"Kita belum menentukan target, ini masih awal, kita masih benahi kondisi internal pasca akuisisi, tapi kami yakin kondisinya akan jauh lebih baik dari sebelumnya," tegasnya.

Carrefour juga meyakini betapa pentingnya konsumen, tanpa pelayanan konsumen yang prima konsumen tidak akan memilih Carrefour.

Adji mengungkapkan Carrefour selalu memprioritaskan pelayanan prima yang berorientasi kepada seluruh konsumen, produk yang berkualitas dengan variasi yang lengkap serta harga yang bersaing.

"Kami harapkan semua kegiatan yang kami lakukan dapat selalu memenuhi harapan konsumen setia kami," ujar Adji.

Kamis, 25 Juli 2013

Produk Ilegal dan Kedaluarsa Ditemukan di Supermarket Manokwari

Kontributor Kompas TV, Budy SetiawanJumat, 19 Juli 2013 | 18:53 WIB

MANOKWARI,  KOMPAS.com — Inspeksi mendadak yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kabupaten Manokwari, Papua Barat, menemukan sejumlah barang ilegal dan kedaluarsa dijual di beberapa supermarket, Jumat (19/7/2013).

Di salah satu supermarket di Jalan Merdeka ditemukan ratusan barang, yang kebanyakan merupakan produk impor, tidak berlabel izin dari Departemen Kesehatan RI. Barang-barang tersebut termasuk kue, jamur, dan kosmetik.

Sejumlah barang kedaluarsa juga ditemukan dalam sidak tersebut. Barang-barang hasil temuan itu akan dimusnahkan dengan disaksikan langsung oleh pemilik Supermarket.

Kepala Seksi Pemeriksaan BPOM Manokwari, Lukas Doso Nugroho, mengatakan, makanan tanpa label Departemen Kesehatan Republik Indonesia, diduga telah lama diperjualbelikan. Namun karena kurangnya pengawasan, pengelola supermarket tanpa ragu-ragu tetap menjualnya.

“Ini masih sebatas peringatan bagi mereka, nantinya kalau kedapatan lagi, mereka pemilik supermarket akan diberikan sanksi tegas,” kata Lukas, saat ditemui Kompas.com.

Sidak akan terus dilakukan oleh tim gabungan ke beberapa pusat perbelanjaan lainnya di kota Manokwari. BPOM mengimbau semua pengelola pusat perbelanjaan untuk tidak menjual lagi makanan tak berizin ataupun yang sudah kedaluarsa karena akan membahayakan konsumen.
Editor : Kistyarini

Jelang Hari Raya: BPOM Masih Temukan Pangan dengan Zat Berbahaya

Rosmha Widiyani | Rabu, 24 Juli 2013 | 17:56 WIB


JAKARTA, KOMPAS. com- Meski sudah berulang kali dilakukan inspeksi mendadak (sidak) namun BPOM masih saja menemukan bahan pangan mengandung bahan berbahaya. Melalui pemeriksaan lab keliling BPOM diketahui pangan tersebut mengandung formalin dan rhodamin B.

Bahan pangan mengandung zat berbahaya ini ditemukan di dua ritel internasional di kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

"Toko ritel sekalipun tidak menjamin keamanan pangan. Kehati-hatian masyarakat tetap diperlukan," kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, Roy Sparingga pada Rabu (24/7).

Di lokasi inspeksi pertama BPOM mengambil 6 sampel manisan dan menemukan satu produk dengan dengan Rhodamin B yang merupakan pewarna tekstil. Pangan ini adalah manisan pala dengan warna merah menyala.

Inspeksi juga menemukan 5 produk makanan ringan dengan label yang tidak memenuhi ketentuan karena berbahasa China. "Produk ini tidak kadaluwarsa dan sah, namun labelnya tidak memenuhi syarat karena tidak dimengerti semua orang Indonesia," kata Direktur inspeksi dan sertifikasi (insert) pangan BPOM suratmono.

Selain memakai bahasa Indonesia, label seharusnya memuat nama produk pangan. Bila pangan dibuat di luar negeri, label harus memuat nama importir. Selain itu juga harus memuat tanggal kadaluwarsa dan kandungan nutrisi pangan.

Sementara itu di lokasi kedua ditemukan bahan pangan dengan rhodamin B dan formalin. Dari 18 sampel, zat berbahaya ini ditemukan pada 4 jenis pangan dan biskuit kalengan yang kadaluwarsa.  Temuan lain adalah 1 paket manisan berlabel dalam bahasa China, dan 2 bahan pangan olahan dengan kemasan rusak

"Temuan ini tentu akan kita tindak lanjuti. Kita akan bertanya dulu kepada retailer dari mana bahan tersebut didapat," kata Roy.

Selanjutnya bila terbukti bersalah produsen atau pemasok akan dikenai sanksi, baik administratif maupun pidana.

Roy menyarankan masyarakat untuk waspada saat berbelanja. "Belanja dimana saja perhatikan label produk. Setelah itu nomor registrasinya," kata Roy.

Nomor registrasi menjamin produk tersebut sudah melewati pengawasan BPOM, sehingga aman dikonsumsi. Untuk pangan yang diolah dalam negeri diawali dengan huruf MD, yang diikuti 12 digit nomor pendaftaran. Sedangkan bahan pangan yang diolah di luar negeri diawali huruf ML, yang diikuti 12 digit angka.

Editor : Lusia Kus Anna

Prospek Bisnis Ritel Perlengkapan Biarawan, Cerah!

Hilda B Alexander | Selasa, 23 Juli 2013 | 17:06 WIB
Sakol membangun hipermarket "Monk Supply" karena potensinya luar biasa dengan "captive market" besar


BANGKOK, KOMPAS.com - Kita mengenal konsep toko serba ada (toserba) skala besar dengan istilah hipermarket, untuk ukuran lebih kecil bernama super market, sementara mini market untuk toko super mungil.

Toserba tersebut menyediakan segala macam kebutuhan rumah tangga. Mulai dari sembilan bahan pokok, hingga pakaian, hobi, furnitur dan lain-lain. Nah, apa jadinya jika hipermarket khusus menjual perlengkapan dan kebutuhan untuk para biarawan? Yang pasti unik dan menarik.

Adalah Sakol Sangmalee yang membangun hipermarket khusus para biarawan "Monk Supply" bernama Hang Sangkapan dengan modal 50 juta baht (Rp 15,9 miliar). Ia menjual jubah safron, lilin, patung Buddha, CD buku dan barang-barang lain yang dibutuhkan biarawan.

Sakol tak sekadar berbisnis toserba. Ia sudah memperhitungkannya dengan seksama. Selama ini, kebutuhan para biarawan dipasok oleh toko-toko tradisional dengan varian barang seadanya. Lagi pula toko semacam ini tak dilengkapi pengatur udara, lahan parkir, dan layanan lainnya.

Sementara Hang Sangkapan justru mengadopsi konsep hipermarket modern seperti Carrefour, Makro, Lotus dan semacamnya. Sakol bahkan merancang Hang Sangkapan senyaman mungkin dengan desain yang menarik, lengkap dengan layanan antar jemput dan parkir valet. Oleh karenanya, ia mendedikasikan luas lahan Hang Sangkapan untuk tempat parkir pengunjungnya.

Thailand merupakan negara dengan potensi pasar yang luar biasa. Captive market Hang Sangkapan begitu besar karena dari 65,9 juta jiwa penduduknya, mayoritas atau hampir seluruhnya yakni 61,5 juta di antaranya merupakan umat Buddha.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thailand, tradisi Theravada masih berlaku. Sebagian besar lelaki Thailand diharuskan menanggalkan baju modernnya dengan jubah safron dan belajar disiplin serta meditasi Budda. Setelah mengikuti tradisi ini, sebagian besar kembali kepada kehidupan modern, sebagian lainnya justru menetap di biara.

Menurut Kantor Buddhisme Nasional, Thailand saat ini memiliki hampir 300.000 bhikku dan lebih dari 60.000 biksu hingga akhir 2012. Jumlah ini jelas merupakan "pasar pasti" bagi Sakol untuk lebih meningkatkan pelayanan pada tokonya.

Hang menjual jubah safron seharga 1.000 baht (Rp 318.752) untuk jenis kain sintetis dan ribuan baht untuk jubah satin bagi para biarawan yang memiliki anggaran belanja lebih banyak.

Sakol menargetkan pendapatan Hang tumbuh 30 hingga 40 persen per tahunnya. Angka ini sebenarnya cukup konservatif mengingat toko-toko tradisional tidak menyediakan layanan selengkap dan serupa Hang. Akan tetapi, 40 persen cukup menggambarkan bahwa bisnis toserba khusus "Monk Supply" begitu prospektif.

Sebuah studi yang dilakukan Kasikorn Research Center dari institusi perbankan setempat menunjukkan bahwa perputaran uang di bisnis pemasok perlengkapan biarawan sekitar 10 miliar baht atau senilai Rp 3,1 triliun.

Sumber :

Toko Swalayan dan Mini Market Wajib Jual Produk UMKM

Slamet Priyatin , Kamis, 25 Juli 2013 | 13:12 WIB
KENDAL, KOMPAS.com - Bupati Kendal Widya Kandi Susanti mengharuskan toko swalayan dan mini market yang ada di wilayah kerjanya untuk menjual produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari Kendal.


Widya memerintahkan Dinas Perdagangan agar setiap tiga bulan sekali mengecek toko swalayan dan mini market yang ada, terkait kebijakan ini. Bila ternyata belum, maka mereka akan diberi peringatan.

Bila tiga kali mendapat peringatan ternyata belum juga menjual produk UMKM, toko swalayan tersebut akan ditutup. “Ini penting. Supaya produk UMKM Kendal bisa terjual,” kata Widya Kandi Susanti, Kamis (25/7/2013).

Selain itu, Widya pun mengungkapkan, saat ini banyak swalayan bermasalah, karena berdiri tanpa ada izin. Untuk itu, Widya juga menganjurkan Badan Perizinan dan Penanaman Modal Kendal, untuk melakukan pendataan.

“Jangan sampai keberadaan mini market malah menyusahkan masyarakat, terutama pedagang kecil,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Kendal, Kartiko Nursapto mengakui, mini market yang berdiri di Kendal jumlahnya semakin banyak. Kartiko khawatir, keberadaan minimarket itu, bisa mematikan pedagang kecil.

“Banyak masyarakat yang menolak keberadaan mini market. Sebab akan mematikan pedagang kecil,” kata Kartiko.

Kartiko lantas meminta kepada pemerintah daerah, supaya membatasi berdirinya mini market.
Editor : Glori K. Wadrianto

Electronic City Targetkan Pendapatan Rp2,1 T

JAKARTA - PT Electronic City Indonesia menargetkan pertumbuhan pendapatan sebanyak 50 persen atau menjadi Rp2,1 triliun pada tahun ini bila dibandingkan pendapatan perseroan di tahun lalu sebesar Rp1,43 triliun.

Direktur Utama Electronic City Ingrid Pribadi mengatakan, adapun target yang diperoleh perseroan melalui penjualan elektronik dan rencana perseroan untuk ekspansi hingga akhir tahun, melalui penambahan 30 toko barunya.

"Tahun ini kita banyak ekspansi, kami optimistis. Yang salah satunya, perseroan berencana membangun 30 toko baru untuk tahun ini," ujar Ingrid Pribadi, usai press conference di Hotel Hyatt, Jakarta, Rabu (5/6/2013).

Sementara itu, lanjut Ingrid, dengan penambahan sejumlah toko baru tersebut. Lanjut ia, pihaknya optimistis akan pertumbuhan penjualan yang mencapai lebih dari 50 persen.

"Adanya pertumbuhan penjualan 50 persen kita harap bisa meraih pertumbuhan net income pada level sembilan hingga 10 persen bila dibandingkan pencapaian tahun lalu," tutup dia. (wdi)
Rabu, 05 Juni 2013 16:38 wib
Rezkiana Nisaputra - Okezone