Hilda B
Alexander | Selasa, 23 Juli 2013 | 17:06 WIB
Sakol membangun hipermarket "Monk Supply" karena potensinya luar biasa dengan "captive market" besar
BANGKOK,
KOMPAS.com - Kita mengenal konsep toko serba ada (toserba) skala besar
dengan istilah hipermarket, untuk ukuran lebih kecil bernama super market,
sementara mini market untuk toko super mungil.
Toserba tersebut menyediakan segala macam kebutuhan rumah tangga. Mulai dari
sembilan bahan pokok, hingga pakaian, hobi, furnitur dan lain-lain. Nah, apa
jadinya jika hipermarket khusus menjual perlengkapan dan kebutuhan untuk para
biarawan? Yang pasti unik dan menarik.
Adalah Sakol Sangmalee yang membangun hipermarket khusus para biarawan
"Monk Supply" bernama Hang Sangkapan dengan modal 50 juta baht (Rp
15,9 miliar). Ia menjual jubah safron, lilin, patung Buddha, CD buku dan
barang-barang lain yang dibutuhkan biarawan.
Sakol tak sekadar berbisnis toserba. Ia sudah memperhitungkannya dengan
seksama. Selama ini, kebutuhan para biarawan dipasok oleh toko-toko tradisional
dengan varian barang seadanya. Lagi pula toko semacam ini tak dilengkapi
pengatur udara, lahan parkir, dan layanan lainnya.
Sementara Hang Sangkapan justru mengadopsi konsep hipermarket modern seperti
Carrefour, Makro, Lotus dan semacamnya. Sakol bahkan merancang Hang Sangkapan
senyaman mungkin dengan desain yang menarik, lengkap dengan layanan antar
jemput dan parkir valet. Oleh karenanya, ia mendedikasikan luas lahan Hang
Sangkapan untuk tempat parkir pengunjungnya.
Thailand merupakan negara dengan potensi pasar yang luar biasa. Captive
market Hang Sangkapan begitu besar karena dari 65,9 juta jiwa penduduknya,
mayoritas atau hampir seluruhnya yakni 61,5 juta di antaranya merupakan umat
Buddha.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thailand, tradisi Theravada masih
berlaku. Sebagian besar lelaki Thailand diharuskan menanggalkan baju modernnya
dengan jubah safron dan belajar disiplin serta meditasi Budda. Setelah
mengikuti tradisi ini, sebagian besar kembali kepada kehidupan modern, sebagian
lainnya justru menetap di biara.
Menurut Kantor Buddhisme Nasional, Thailand saat ini memiliki hampir 300.000
bhikku dan lebih dari 60.000 biksu hingga akhir 2012. Jumlah ini jelas
merupakan "pasar pasti" bagi Sakol untuk lebih meningkatkan pelayanan
pada tokonya.
Hang menjual jubah safron seharga 1.000 baht (Rp 318.752) untuk jenis kain
sintetis dan ribuan baht untuk jubah satin bagi para biarawan yang memiliki
anggaran belanja lebih banyak.
Sakol menargetkan pendapatan Hang tumbuh 30 hingga 40 persen per tahunnya.
Angka ini sebenarnya cukup konservatif mengingat toko-toko tradisional tidak
menyediakan layanan selengkap dan serupa Hang. Akan tetapi, 40 persen cukup
menggambarkan bahwa bisnis toserba khusus "Monk Supply" begitu
prospektif.
Sebuah studi yang dilakukan Kasikorn Research Center dari institusi perbankan
setempat menunjukkan bahwa perputaran uang di bisnis pemasok perlengkapan
biarawan sekitar 10 miliar baht atau senilai Rp 3,1 triliun.
Sumber :