Sabtu, 10 Maret 2018

Franchaise Warung Sembako



PT. LEU RITEL INDONESIA

Langkah awal Lembaga Ekonomi Umat fokus mengembangkan ritel LEU’Mart modern market untuk membentuk jaringan/network pemasaran sebagai kunci awal “Kemandirian dan Keberhasilan Ekonomi Umat”

Mengapa Bisnis Ritel Menarik?
Total Keseluruhan PDB dari 2014 hingga 2016 selalu mengalami peningkatan
Lebih dari setengahnya dikeluarkan untuk konsumsi Rumahtangga
Sepertiga dari konsumsi Rumahtangga dikeluarkan untuk konsumsi Makanan dan Minuman
Pertumbuhan modern market khususnya mini market sesuai dengan ekspektasi, sedangkan pertumbuhan hyper/super market jauh dibawah ekspektasi (Nielsen).
Walaupun tradisional trade melebihi ekspektasi hingga kahir Juni 2016, namun di akhir Oktober 2016 tingkat pertumbuhannya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.

Dari seluruh bentuk market yang ada, hanya mini market yang mengalami peningkatan pertumbuhan, parahnya hyper/super mengalami pertumbuhan negative.
Jadi, besaran konsumsi setiap tahunnya semakin meningkat, namun yang berubah hanyalah tempat berbelanja (hyper/super ke minimarket).

Kelemahan Warung Tradisional
Desain warung kurang menarik
Kurang memperhatikan kenyamanan dan kebersihan
Rantai produk masih konvensional
Non Fast Produk masih mendominasi
Planogram tidak tertata

Solusinya
Meningkatkan para pedagang tradisional menjadi pedagang yang lebih modern untuk mengakomodir keinginan dan aspirasi konsumen demi menciptakan
“Kemandirian dan Keberhasilan Ekonomi Umat”

VISI
Menjadi jaringan distribusi ritel terbaik yang dimiliki langsung oleh umat dengan menciptakan pengusaha yang tangguh dan berakhlak baik, yang secara langsung membantu peningkatan ekonomi di sektor riil.

MISI
Kepuasan Konsumen.
Fokus kepada kepuasan melalui produk dengan harga kompetitif dan berkualitas.
Etika Bisnis.
Menciptakan usaha ritel yang mengedepankan sikap keterbukaan dan kesetaraan sebagai role model dari usaha ritel nasional.
Pengembangan Bisnis.
Membantu pertumbuhan usaha dari pengusaha kecil dan menengah dengan melakukan pembinaan dan wadah bagi pengusaha kecil menengah.

http://leumart.co.id

Sabtu, 10 Februari 2018

e-Warung ~ untuk warga PKH


Thursday, August 4, 2016

Peresmian E-warung
Beberapa ibu penerima PKH dan beras sejahtera (Rastra) terlihat berkumpul di salah satu Warung yang ditunjuk ‎sebagai penyedia layanan elektronik warung, kelurahan Blooto, Prajurit Kulon, Mojokerto. Sabtu (30/7) petang. Mereka terlihat tertawa dan saling menonton saat ibu lainnya melakukan transaksi di e-warung tersebut.

Mereka adalah ibu-ibu, yang baru kali pertama merasakan kemanfaatan pelayanan e-warung yang digagas oleh Kemensos bersama beberapa Bank BUMN. Tak hanya di Mojokerto‎, di Makassar pun warga penerima PKH dan Rastra, turut merasakan launching pertama program ini, pada Minggu (31/7) petang.

Warga penerima PKH dan Rastra, sebelumnya akan mendapatkan kartu sebagai bukti penerima program tersebut. Mereka nantinya tinggal datang ke Warung yang ditunjuk, untuk kemudian memilih barang yang ingin dibeli, dengan bermodal kartu program dan nomor pin yang dimiliki oleh mereka, transaksi bisa dijalankan.

Salah satu penerima manfaat, ‎Vivi Fitriyatus Saniyyah menuturkan bahwa dirinya memang baru kali pertama menggunakan kartu elektronik. Baginya, dengan tanpa memegang uang cash dari program, lebih memudahkan dirinya.

Kalau sebelumnya uang-uang tersebut diterima cash, bisa saja tidak dibelikan kebutuhan tertentu karena ada suami yang ‎titip beli rokok. Tapi, dengan model cashless dan kartu, dirinya memiliki uang yang tersimpan aman dan tak mungkin berkurang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

"Bantuan ini bisa saya gunakan untuk meringankan kebutuhan saya. Dengan e-warung, tidak ribet. Tinggal bawa kartu, saya pilih belanjaan, pencet-pencet (nomor pin, red), sudah selesai. Nggak khawatir uangnya jatuh atau hilang," ujar ibu dua anak tersebut.


Sumber : jpnn.com

http://www.e-warung.com/

Jumat, 09 Februari 2018

Warung Pintar ~ Watung Digital

Dunia Start Up

Mantan Petinggi East Ventures dan GO-JEK Dirikan Warung Pintar
Aditya Hadi Pratama4:30 PM on Jan 23, 2018

Founder: Agung Bezharie, Harya Putra, Sofian Hadiwijaya, Pandu Kartika Putra

Industri: platform bisnis warung modern

Status pendanaan: tidak disebutkan

Beberapa sosok tersohor di dunia startup Indonesia, seperti Agung Bezharie (mantan Investment Associate East Ventures) dan Sofian Hadiwijaya (mantan VP of Business Intelligence GO-JEK), bergabung dalam Warung Pintar.
Warung Pintar menyediakan solusi menyeluruh (seperti pencarian lahan usaha hingga kebutuhan dana) bagi orang yang ingin memulai bisnis warung, serta platform untuk berinvestasi kepada pemilik warung. Selain itu, Warung Pintar juga melayani para pengusaha warung melakukan modernisasi bisnis, seperti: Akses ke barang kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih murah, Melengkapi infrastruktur warung dengan beragam perangkat elektronik, Pemanfaatan software guna menunjang usaha, Memungkinkan warung menjual barang digital, dan lain-lain. 

Di era yang serba online seperti sekarang, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas offline seperti warung untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Tak heran kalau di kota besar sekalipun, kita masih akan melihat banyak warung yang tersebar di pinggir jalan.

“Di Jakarta sendiri, terdapat lebih dari 50.000 warung pada tahun 2014. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, satu warung rata-rata menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per hari,” ujar Harya Putra, mantan Expansion Head dari co-working space EV Hive. 

Melihat hal tersebut, perusahaan modal ventura East Ventures1 berinisiatif membuat sebuah perusahaan yang bisa meningkatkan kualitas warung tradisional dengan bantuan teknologi. Perusahaan tersebut diberi nama Warung Pintar. 

Kamu pun bisa menjadi investor dan memberikan pendanaan kepada orang-orang yang berniat mendirikan warung.

Perusahaan ini pun menjadi perusahaan independen kedua yang dibuat oleh East Ventures. Sebelumnya, mereka membuat startup co-working space EV Hive.

Warung Pintar sendiri merupakan solusi end to end yang bisa membantu kamu mencari lahan dan dana untuk membuka warung baru. Lewat platform yang mereka sediakan, kamu pun bisa menjadi investor dan memberikan pendanaan kepada orang-orang yang berniat mendirikan warung.

Sedangkan untuk warung yang sudah beroperasi, Warung Pintar bisa memberikan bantuan seperti berikut:
Akses mudah ke berbagai produk kebutuhan sehari-hari dengan harga yang murah
Bantuan aktivitas promosi untuk meramaikan warung, seperti promo dan acara nonton bareng
Renovasi warung dengan infrastruktur seperti fasilitas charger smartphone untuk pengunjung, layar LCD, hingga kamera CCTV

Pelatihan dan pendampingan untuk penggunaan software untuk mencatat stok dan mengelola keuangan

Memungkinkan warung untuk menjual produk digital, seperti tiket pesawat, tiket kereta api, pulsa, hingga barang-barang yang dijual di e-commerce


Tim yang berpengalaman dari East Ventures, GO-JEK, hingga Code4Nation

https://id.techinasia.com/warung-pintar-franchise-warung-modern
http://www.warungpintar.co/

Selasa, 07 November 2017

"Bisnis Ritel Hanya Menyesuaikan Diri dengan Tren Masa Kini"

"Bisnis Ritel Hanya Menyesuaikan Diri dengan Tren Masa Kini"

ANDRI DONNAL PUTERA
Kompas.com - 07/11/2017, 19:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena bergugurannya gerai ritel modern dianggap sebagai kesempatan para pelaku usaha di bidang tersebut untuk melakukan sejumlah perbaikan. Perbaikan yang dimaksud menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan zaman masa kini, yakni adanya perubahan pola perilaku konsumen, cara pemasaran produk, hingga tren jenis barang yang diperdagangkan.

"Secara menyeluruh, bisnis ritel hanya menyesuaikan diri dengan tren masa sekarang," kata Head of Retail Jones Lang LaSalle, Cecilia Santoso, melalui keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (7/11/2017) malam.

Cecilia menyebutkan, penyesuaian yang perlu dilakukan para pelaku usaha ritel modern menyangkut berbagai faktor. Dia mencontohkan kondisi terkini, di mana ada sejumlah jenis produk yang dulunya dianggap sebagai tren namun sekarang tidak lagi, hingga pergeseran cara penjualan sebuah produk.

"Seperti warna, model, jenis yang dahulu mungkin trennya di atas dan sekarang mungkin tidak sepopuler dulu dan kalau dulu di toko, display penjualan produk harus maksimal, sekarang foto dari produk tersebut cukup mewakili tanpa harus melihat secara langsung atau menyentuhnya," tutur Cecilia.

Baca juga: Nasib Industri Ritel Modern, Bertahan Dengan Product Mix

Adapun terkait dengan pusat perbelanjaan yang menjadi tempat tersedianya gerai ritel, disebut Cecilia juga akan melakukan beberapa langkah penyesuaian.

Salah satu caranya bisa dengan memperbanyak pilihan produk atau mencari alternatif lain seperti membuka tempat rekreasi atau gerai makanan.

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/07/192744526/bisnis-ritel-hanya-menyesuaikan-diri-dengan-tren-masa-kini

"Bisnis Ritel Enggak Ada Matinya!"

ANDRI DONNAL PUTERA
Kompas.com - 02/11/2017, 08:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena gugurnya sejumlah ritel ternama belakangan ini tidak langsung membuat para pengusaha pesimistis.

Buat sebagian dari mereka, peristiwa tersebut harus disikapi dengan baik dan dijadikan kesempatan untuk berinovasi, memperbaiki layanan, dan mengetahui minat konsumen masa kini.

CEO Sogo Department Store Handaka Santosa dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis, Jakarta Barat pada Rabu (1/11/2017) mengungkapkan pihaknya masih optimistis dengan kondisi saat ini ketika ritel seperti Lotus yang sudah berdiri lama akhirnya tutup.

Dia bahkan melihat ada perubahan minat konsumen yang harus dipelajari lebih lanjut oleh para pengusaha.

(Baca: Ritel Modern Berguguran, Asosiasi Minta Pengusaha Pemasok Tidak Panik)

"Sekarang minat konsumen lebih ke leisure. Banyak orang ke mal atau pusat perbelanjaan lebih suka untuk makan dan minum, jadi kami berpikir apa yang harus dilakukan supaya tetap bisa menarik minat belanja, salah satunya dengan memberikan pengalaman dalam menyajikan barang di toko," kata Handaka.

Logika yang dipakai Handaka adalah, pembeli akan datang jika dagangan yang dijajakan menarik.

Hal itu memperlihatkan bahwa masih ada kesempatan untuk pengusaha ritel mempertahankan eksistensinya, terlebih daya beli masyarakat dianggap masih bisa meningkat karena setiap tahun pendapatan melalui upah minimum provinsi (UMP) terus naik.

Selain menyajikan pengalaman baru berbelanja bagi konsumen, Handaka juga tidak menutup kemungkinan menerapkan digitalisasi pada toko-toko ritel naungannya.

Hal itu dilakukan menyikapi perubahan yang begitu cepat terhadap dunia usaha, terutama karena perkembangan teknologi dan hadirnya cara belanja secara online.

"Kami dulu enggak mengantisipasi online, perubahan cepat sekali. Tentunya dengan meningkatkan digitalisasi di toko kami, itu sebuah nilai tambah," tutur Handaka.

Atas dasar hal itu, Handaka percaya industri ritel akan tetap hidup di Indonesia. Untuk lebih meyakinkan pendapatnya, dia menceritakan rencana pembukaan Sogo Department Store yang baru 5 November 2017 mendatang di Supermall Karawaci, Tangerang.

"Jadi, sebenarnya bisnis ritel itu enggak ada matinya. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan keadilan antara kami pengusaha ritel dengan mereka yang menggunakan platform online agar persaingannya sama," ujar dia.

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/02/081944726/bisnis-ritel-enggak-ada-matinya

Menkeu Telisik Penyebab Tutupnya Gerai Ritel Modern Lotus

YOGA SUKMANA
Kompas.com - 24/10/2017, 11:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah Ramayana dan Matahari Departemen Store, giliran Lotus Departemen Store akan menutup gerainya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, bulan ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam melihat gerai-gerai ritel berjatuhan. Ia akan mencari tahu penyebab di balik tutupnya gerai Lotus Thamrin tersebut.

"Kami akan terus memonitor perubahan dari perekonomian apakah diakibatkan suatu era digitalisasi," ujarnya di Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Menurut Sri Mulyani, alasan ritel modern menutup gerainya bisa saja disebabkan oleh rencana transformasi ke online. Hal itu menyusul perkembangan ekonomi digital.

Pemerintah, tutur Sri Mulyani, menilai sektor ritel sebagai salah satu sektor yang penting bagi ekonomi. Sebab sektor tersebut berhubungan langsung dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.

"Tetapi kami juga melihat sektor lain apakah mereka menghadapi tekanan atau perubahan karena adanya konsep digitalisasi ekonomi atau tidak. Kami akan terus memformulasikan policy-nya," kata Sri Mulyani.

Kemarin, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo justru mengungkapkan, angka penjualan ritel mengalami kenaikan sebesar 5 persen hingga kuartal III 2017. Hal itu sekaligus membantah anjloknya penjulan ritel.

"Saya tidak bisa bicara secara mikro, tetapi secara umum, kami dalam rapat kemarin itu melihat retail sudah ada perbaikan," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Tidak hanya itu, bahkan BI mengatakan bahwa penjualan industri otomotif, perdagangan, perhotelan, hingga restoran sudah mengalami perbaikan pertumbuhan.

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/24/113243126/menkeu-telisik-penyebab-tutupnya-gerai-ritel-modern-lotus

Perusahaan Ritel Banyak Tutup, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PRAMDIA ARHANDO JULIANTO
Kompas.com - 27/10/2017, 18:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri ritel Tanah Air tengah menghadapai persoalan pelik. Satu per satu pelaku industri ritel di Indonesia mulai mengehentikan operasional gerai ritelnya.

Tercatat, hingga saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha ritel yang menutup gerai usahanya, mulai dari 7-Eleven, PT Matahari Department Store.

Terbaru, Lotus Department Store dan Debenhams akan ditutup oleh PT Mitra Adi Perkasa Tbk pada akhir bulan Oktober dan akhir tahun ini.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan, perlu ada upaya dari pemerintah agar persoalan tutupnya gerai ritel tidak terus berlanjut.

"Tutup itu kan karena tidak laku, poinnya itu, karena pembelinya berkurang," kata Hariyadi kepada Kompas.com, Jumat (27/10/2017).

Menurut Hariyadi, pasca-tutupnya 7-Eleven hingga saat ini, pemerintah belum serius menghiraukan masalah daya beli.

"Ini kan sekarang kementerian terkait membantahlah enggak percaya daya beli turun segala macam. Tapi kalau pemerintah sendiri tidak memahami apa yang terjadi, kan bisa memukul pemerintah itu sendiri," tambahnya.

Hariyadi, menegaskan saat ini sudah waktunya bagi pemerintah untuk lebih mencari tahu lebih lanjut terkait persoalan daya beli dan fenomena tutupnya gerai ritel.

"Yang penting adalah segera cari tahu apa sih situasi sebenernya seperti apa, sehingga mereka bisa mengambil kebijakan yang tepat," papar Hariyadi.

Sebelumnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) memastikan akan menghentikan secara total operasional toko ritel Debenhams di Indonesia pada akhir tahun 2017.

Hal ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi usaha perseroan menyusul tinjauan strategis pada bulan Juni 2017 lalu.

MAP juga sudah mengumumkan rencana untuk menghentikan operasional Lotus Department Store pada akhir bulan Oktober 2017.

Head of Corporate Communication MAP, Fetty Kwartati mengatakan, bisnis MAP kedepan akan fokus pada gerai department store yang lain, yakni SOGO, SEIBU, dan Galeries Lafayette.

"Di berbagai belahan dunia, generasi millenials telah menjauh dari department store, dan mereka lebih memilih untuk belanja di toko-toko khusus. Tak terkecuali di Indonesia,” kata Fetty.

Menurutnya, keputusan untuk menutup toko ini dilakukan setelah mempertimbangkan perubahan tren ritel global secara hati-hati.

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/27/184542026/perusahaan-ritel-banyak-tutup-apa-yang-sebenarnya-terjadi